catatan santri

Just another WordPress.com weblog

hadiah buat abu salafy Oktober 15, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

Dibuatnya tulisan ini bukanlah untuk tujuan lain tetapi karena cemburunya saya atas apa yang dilakukan oleh abu salafy terhadap ulama – ulama Sunnah dan ini adalah pembelaan terhadap yang haq yang mana bagi seorang muslim tidak boleh diam untuk ini apa lagi bagi para penuntut ilmu seperti saya dan juga para Asatidzah lebih lagi, berapa banyak pembelaan – pembelaan terhadap yang haq di dalam hadits Riyah Bin Al – Harits berkata :” Aku sedang duduk – duduk disisi fulan dimasjid kufah dan di dalamnya ada orang – orang dari kufah maka datang Sa’id Bin Zaid Bin ‘Amr Bin Nufail kemudian dia berkata marhaban dan memberikan kata selamat dan di dudukilah dia di kasur, maka datanglah seorang pria dari kufah disebut namanya Qois Bin Al – Qomah maka menghadap kepadanya dan mencerca.kemudian Sa’id berkata :”siapa yang dicerca pria ini ?dia berkata :” dia memcerca Ali Radhiyallahu ‘Anhu, Sa’id berkata :” Aku tidak habis fikir seorang shahabat Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dicerca depan kamu kemudian kamu tidak mengingkarinya dan tidak merubahnya?Aku telah mendengar Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dan sungguh aku telah mencukupiku dari perkataanku kepada beliau sesuatu yang tidak dikatakannya (artinya tidak menyandarkan perkataan kepada Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam yang tidak dikatakannya), maka bertanyalah kepadaku tentangnya besok jika aku bertemu dengannya Abubakar di surga, Umar di surga, Utsman disurga, Ali di surga surga,Tholhah disurga Zubair Bin Awwam di surga, Sa’ad Bin Malik di surga, Abdurrahman Bin ‘Auf di surga, kalau kamu mau akan aku sebutkan yang kesepuluh dia berkata : mereka berkata siapa dia ( yang kesepuluh )?maka dia diam,mereka berkata siapa dia?dia berkata Sa’id Bin Zaid, kemudian dia berkata :”sungguh hidupnya salah satu dari mereka bersama Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dalm keadaan wajahnya berdebu lebih baik dari amal/perbuatan – perbuatan kalian seluruh hidupnya,walaupun umurnya seperti Nabi Nuh ‘Alaihi Salam (950 tahun).” (HR.Abu Dawud {12/401-402} di dalam Shahih Musnad min Dalaa’ilin Nubuwwah Karya Syaikh Muqbil Bin Hadi Al – Wadi’I Rahimahullah ) lihatlah pembelaan shahabat terhadap shahabat lainnya ketika dicerca,dan juga kagetnya shahabat ketika ada seseorang yang diam tidak mengingkari dan merubah ketika mendengar shahabat atau orang yang baik dicerca,dan juga shahabat tidak akan menyandarkan perkataan kepada Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam yang beliau tidak mengatakannya pertanyaan buat abu salafy apakah orang yang seperti ini tidak perlu untuk mengikutinya seperti yang kamu katankan ?,dan juga rendah dirinya seorang shahabat tidak mau menunjukan dirinya sebagai orang yang kesepuluh yang masuk surga,dan diriwayat lain orang – orang yang mendengar Sa’id Bin Zaid bersumpah Atas nama Allah agar dia Sa’id Bin Zaid bersedia memberitahukan siapakah orang yang kesepuluh yang masuk surga itu? dan juga keutamaan para shahabat walaupun seseorang umurnya 950 tahun beramal ibadah tidak akan menyamakan amalnya para shahabat Ridwanullah ‘Ajmain dan diriwayat lain walaupun seluruh umurnya berbuat amal baik tidak akan menyamakan setengah dari amalnya shahabat itu,subhanallah Allahu Akbar, semoga Allah Subhanahu Wata’ala mempermudah membuat tulisan – tulisan ini , amien

Hadiah buat abu salafy

Ana namakan ini hadiah agar dia mau menerima nasehat ini dan tidak menolaknya seperti dihadits Ibnu Mas’ud Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Janganlah kalian menolak hadiah.” ( HR.Bukhari dishohihkan oleh Syaikh Albani, Baihaqi diSyu’abnya, Ahmad, Thohawi) afwan saya tulis nama antum dengan huruf kecil karena tidak ada kehormatan buat ahli bathil,siapakah abu salafi ini.?

1.Sepertinya kamu adalah seseorang yang hasad kepada Ahlussunnah yang mana mereka telah sering menasehatimu, sehingga kamu menolaknya entah kamu mengetahui bahwa kamu itu salah ataupun tidak.

2.Atau kamu seorang syi’I yang mengaku – ngaku membela Ali Radhiyallahu ‘Anhu dan mengkafirkan para shahabat lainnya dan Ali Radhiayallahu ‘Anhu berlepas diri dengan ini.

3.Atau orang yang bodoh sekali yang tertipu dari apa – apa yang mereka dengar dari perkataan orang – orang munafiq dan orang – orang yang punya keragu – raguan di dalam agamanya.

4.Atau juga seorang zindiq yang ingin menghancurkan islam lewat pemikiran – pemikiran yang bertuhankan otak belaka dan memberikan syubhat – syubhatnya kepada ummat Na’udzu billah min khudzlani dunia qoblal akhirat.Padahal Ali Bin Tholib Radhiyallahu ‘Anhu berkata : “kalau seandainya agama ini didirikan dengan akal sungguh mengusap bawahnya khuf ( kata Ibnul Faris di Mu’jam Maqayisil Lughah alas kaki yang lebih tinggi dari sandal ) lebih diutamakan dari pada mengusap atasnya khuf sungguh aku telah melihat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengusap begian atas kedua khufnya.” ( HR.Abu dawud dishahih Abu Dawud {153 }, Daruquthni { 73 },Baihaqi { 1 /229 }, Ibnu Hazm di dalam Muhalla { 2/111 } )kamu adalah orang yang pantas menerima nasehat ini karena kamu dengan gigih mengutamakan Ali dari pada Abubakar Radhiyallahu ‘Anhuma,untuk masalah yang itu nanti ada bagiannya insya Allah, dan yang lebih lucu lagi Syi’ah menolak hadits itu.

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman di dalam kitabNya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (ال عمران : 118)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” ( Qs.Ali Imron : 118 )

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (ال عمران : 54  (

Artinya : “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” ( Qs.Ali Imron : 54 )

Adapun perkataanku tentang zindiqnya kamu itupun berdasarkan fatwa ulama Syaikh dokter Sholeh Bin Fauzan Al – Fauzan di dalam kitabnya Muhadharatun Fil Aqidah Wada’wah Al – Khilafu Bainal Ulama’ Wa Mauqiful Muslimi Minhu (Hal :124) cetakan Maktabah Al – Islamiyyah Mesir, beliau berkata :” Ulama mereka mempunyai tempat dan derajat yang tinggi dan tidaklah seseorang yang menghina kedudukannya kecuali zindiq yang melenceng dari jalan yang benar yang membenci kebenaran dan orang yang berjalan diatasnya atau orang bodoh sekali yang tertipu dari apa – apa yang mereka dengar dari perkataan orang – orang munafiq dan orang – orang yang punya keragu – raguan di dalam agamanya.seperti yang diceritakan Allah Subhanahu Wata’ala di dalam Al – Qur’an bahwasanya orang – orang munafiq mencaci Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Shahabat beliau, dan mereka berkata :” kami tidak melihat seperti mereka ini pembaca – pembaca Al – Qur’an kita dan sangat senang mendahulukan perut – perut mereka dan yang sangat dusta perkataannya dan yang sangat takut jika peperangan “ yang mereka maksud adalah Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya maka Allah Subhanahu Wata’ala turunkan ayat kepada Rasulnya

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ( )لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (التوبة : 65 – 66 )

Artinya : “ Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

(#) “ Janganlah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman. jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” ( At – Taubah : 65 – 66 )

Maka bagi orang – orang yang menghina ulama di zaman ini mereka terkena ayat ini sebatas kebenciannya terhadap ulama.”

Plin – planya abu salafy ini tidak menyukai salafi tetapi memakai kunyahnya abu salafy, walaupun kunyah itu belum tentu dari nama anaknya seperti kunyahnya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dengan Ummu Abdillah yang mana  ana yakin dia tidak mempunyai anak yang dinamakan salafi,atau orang yang senang akan apa yang dia sandarkan seperti Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu beliau senang dengan yang namanya kucing sehingga dia dijuluki Abu Hurairah,adapun kamu tidak ini tidak juga itu.Yang pertama saya bahas tentang kritikannya terhadap fatwa ulama Ahlussunnah tentang hukumnya bertepuk tangan sebelum saya bahas masalah ini kita bahas dulu masalah adab – adab menasehati pemerintah, yang dengan bodohnya abu salafy ini menhinakan ulama Ahlussunnah ( Syaikh Bin Baz Rahimahullah ) Cuma dikarenakan dia mengira Syaikh Bin Baz tidak menasehati pemerintahan Saudi buruk sekali perkiraanmu kepada ulama pewaris para Nabi,telah datang hadits dari Katsir Bin Qois berkata aku bersama Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu sedang duduk –duduk di masjid Damaskus maka datanglah seseorang kepadanya wahai Abu Darda’ aku mendatangimu dari kotanya Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam karena suatu hadits yang sampai kepadaku bahwasanya kamu yang samapikan hadits itu dari Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan aku tidak mendatangimu untuk keperluan suatu apapun beliau berkata sesungguhnya aku mendengar Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :“ Barangsiapa yang berjalan mencari ilmu di dalamnya maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga dan sungguh malaikat mengepakan sayap – sayapnya ridho atas apa yang diperbuat oleh seorang pencari ilmu dan sesungguhnya ulama dimintakan untuknya permintaan ampunan seluruh yang ada di langit dan di bumi dan juga ikan yang ada di dalam air dan sesungguhnya keutaman ulama dari pada ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama di malam hari terhadap planet – planet lainnya sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham ( harta-pent ) tetapi mewariskan ilmu barang siapa yang mengambil ilmu tersebut maka dia mengambil dengan sangat tepat.”( HR.Ahmad,Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Darimi dan dihasankan oleh Syaikh Albani ) dan sungguh dia tidak ada adabnya sama sekali pada ulama sama seperti adab – adab orang munafik dahulu mereka berburuk sangka kepada Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan orang – orang yang beriman Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا (الفتح : 12)

Artinya : “ Tetapi kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menghiasi menjadikan kalian memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kalian telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kalian menjadi kaum yang binasa.(QS.Al – Fath :12 )

Wahai abu salafy yang bodoh yang majhul (tidak diketahui ) bentuknya ada nama tidak ada gambar he,he,he,seperti angin dan para lelembut kali yah,atau mungkin kentut?biarlah kalian yang menilai

ingatlah bahwasanya Ahlussunnah mempunyai kriteria yang khusus dalam menasehati pemerintah yaitu menurut ajaran Al – Qur’an dan Sunnah dan Salaf Sholeh ( orang – orang baik yang terdahulu ), buat apa diberitahukan kekamu siapa dirimu tidak mendatangkan manfaat dan juga mudharat, lihatlah dibeberapa buku biografinya Syaikh Abdul Aziz Bin Baz Rahimahullah bahwasanya beliau dituliskan sifat – sifat beliau dan salah satunya adalah menasehati ulama secara rahasia.inilah

Fatwa Syaikh Abdul Aziz Bin Baz Rahimahullah berkata :” Adapun mencerca pemerintah diatas mimbar – mimbar bukan suatu pencegahan, maka pencegahan baginya adalah didoakan agar mereka diberikan hidayah dan taufiq dan memperbaiki niat dan memperbaiki orang – orang yang dekat dengan pemerintah ini adalah pencegahan, karena mencercanya tidaklah mendatangkan kebaikan, dan juga maslahat maka sesungguhnya mencercanya dan melaknatnya bukanlah ajaran agama Islam.” ( dinukilkan dari kitab Syaikh Abdul Malik Romadhoni Al – Jaza’iri Wafaqahullah Fatawaa ulama’il Akabir Hal : 65 ).

Fatwa Syekh Utsaimin yang dinukilkan oleh Syekh Abdullah bin Mar’ie Bin Buraik dan beliau adalah murid Syaikh Utsaimin,ketika Syaikh Utsaimin ditanya kenapa kalian tidak membantah pemerintah ?Syaikh Utsaimin menjawab dengan dua jawaban

1.Jika seandainya kami kabarkan kepada kalian apa yang terjadi diantara kami dan pemerintahan maka sesungguhnya diri kami tidak aman dari riya’ dan sum’ah ( memperdengarkan amalan baik –pent ) dan lainnya

2. Jika seandainya kami kabarkan kepada kalian apa terjadi diantara kami, dan kalian mengetahuinya bahwasanya mereka menolak / tidak menerima nasehat itu maka kalian akan menjadikan penolakan itu sebagai alasan untuk keluar kepada pemerintah/berontak.

Fatwa Syaikh Dokter Sholeh Bin Fauzan Bin Abdillah Al – Fauzan di dalam bukunya Al – Ajwibah Al – Mufidah ‘An As’ilatil Manahij beliau ditanya :”Bagaimana caranya menasehati pemerintah secara Syar’i?

Beliau menjawab : “Menasehati pemerintah dapat dilakukan dengan beberapa perkara diantaranya

1.Berdoa agar mereka mendapatkan kebaikan dan terus – menerus dalam keadaan baik karena sesungguhnya perbuatan yang sunnah adalah mendoakan kebaikan untuk pemerintahan kaum muslimin apalagi diwaktu – waktu yang dikabulkan doa – doa dan di tempat – tempat yang diharapkan baginya terkabulnya doa, Imam Ahmad berkata :” Kalau kami mempunyai doa yang dikabulkan sungguh kami akan berdoa untuk penguasa/pemerintah.

karena baiknya suatu penguasa/pemerintahan itu baik pula masyarakatnya, dan buruknya suatu penguasa/pemerintah itu buruk pula masyarakatnya.( dan Fudhail Bin Iyyadh berkata : “Kalau seandainya aku mempunyai doa yang mustajab maka akan aku alihkan untuk pemerintah, seseorang bertanya kenapa seperti itu wahai Abu Ali?maka beliau menjawab jika aku alihkan untuk diriku maka aku tidak mendapatkan pahala dan jika aku berikan untuk pemerintah maka baiknya suatu pemerintahan adalah baiknya masyarakat dan negera, Hulyatul Auliya’ 8/91 – pent )

2.Mengerjakan pekerjaan dari apa – apa yang disandarkankan kepada pemerintahan bagi para pegawai – pegawainya ( yang tidak menyelisihi syari’at )

3.Memperingati mereka dari kesalahan – kesalahan dan kemungkaran – kemungkaran atas apa – apa yang terjadi di masyarakat, dan mereka terkadang tidak mengetahuinya, tetapi nasehat ini dilakukan secara rahasia antara orang yang menasehati dan mereka pemerintah yang menasehati ( seperti yang disabdakan Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :” Barangsiapa yang mempunyai nasehat untuk penguasa maka janganlah dia membicarakannya ditempat terbuka maka hendaklah baginya untuk mengambil tangannya dan berkhalwahlah dengannya ( menyepilah dengannya – pent ) maka jika dia menerima nasehat itu dia akan menerima nasehat itu dan jika dia tidak menerimanya kamu telah menunaikan kewajibanmu (yaitu menasehatinya )dan kamu telah taat kepadanya ( yaitu tidak menyebarkan aibnya ).” (HR.Baihaqi dan Hakim dan dishahihkan oleh Syaikh Albani Rahimahullah – pent )bukanlah nasehat yang sebarkan di depan manusia atau di atas mimbar – mimbar, karena cara ini pengaruhnya buruk, dan menyebabkan permusuhan antara rakyat dan pemerintah.”

Inilah perbedaan antara Ahlu Sunnah/Salafi mereka selalu mengedapankan Al – Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman ulama salaf, aku sangat bangga dengan perbedaan yang ada diantara sifat – sifat Ahlu Sunnah dengan ahlul ahwa bahkan bab ini termasuk pondasi Ahlu Sunnah seperti dihadits Ibnu Umar dan Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘Anhu Rasulallahu shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :” Taat kepada pemerintah di dalam keadaan dia suka dan dalam keadaan dia benci semasih dia tidak memerintahkan kepada maksiat dan jika dia memerintahkan kepada maksiat maka tidak ada ketaatan.” (HR.Abu Daud dan Tirmidzi dan dishahihlan Syaikh Albani Rahimahullah ),dan juga dihadits lain dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :” Barangsiapa yang melihat dari penguasanya sesuatu dan dia membencinya maka hendaklah dia bersabar sesungguhnya yang tidaklah seseorang berpisah dari jama’ah ( yakni tanpa Imam )sejengkal saja kemudian dia mati kecuali dia mati dalam keadaan jahiliyyah.” ( HR.Shohihain ). mana cara – cara yang kau banggakan wahai abu salafy!? Bisanya Cuma mencerca saja sungguh telah benar apa yang dikatakan Imam Al – Barbahari di kitabnya Syarhus Sunnah :” Jika kamu melihat seorang pria mendoakan keburukan atas pemerintah, maka ketauhilah sesungguhnya dia adalah shohibu hawa ( orang yang melakukan perbuatanya berdasarkan hawa nafsu – pent ) dan jika kamu melihat seorang pria mendoakan kebaikan untuk pemerintah maka ketahuilah sesungguhnya dia adalah shohibu sunnah ( orang yang melakukan perbuatanya berdasarkan Al – Qur’an dan Sunnah – pent ) insya Allah.”

**Adapun disebarkanya nasehat untuk pemerintah kepada orang umum disana terdapat beberapa keburukan

1.Di dalamnya terdapat sesuatu dari riya’,dan timbulnya keinginan tinggi hati dan sudah di ketahui akibat dari riya’ itu adalah terhapusnya pahala amalan tersebut, dan perbuatan ketika diamalkan dalam keadaan rahasia itu kesempatan sangat sekali untuk diterimanya amalan tersebut.

2.Sangat sedikit sekali harapanya untuk diterimanya nasehat itu bagi orang yang dinasehati, jika manusia aja malu dinasehati di depan umum pemerintah lebih utama.

3.Sesungguhnya menyebarkan nasehat ketempat umum walaupun yang dikatakannya adalah benar di dalamnya terdapat membuat kekacaun kepada kaum muslimin dan membuat permusuhan antara rakyat dan pemerintah dan ini akan menyebabkan tidak taat dan patuhnya rakyat kepada pemerintah sampai dipermasalahan yang baik sekalipun dan ini adalah jalannya orang – orang khawarij, dan tidaklah terjadi pembunuhan Utsman Radhiyallahu ‘Anhu kecuali apa – apa yang dilakukan beberapa orang yang bodoh terhadap Sunnah yang mengikuti orang – orang yang menginginkan kekacauan terhadap kaum muslimin.

4.Terancam baginya dunianya baik itu nyawanya, hartanya, keluarganya dan lainya, Ibnul Mubarak berkata : “ Barangsiapa yang menghina ulama maka hilanglah akhiratnya dan barangsiapa yang menghina pemimpin maka hilanglah dunianya.”

Adapun mengenai tepuk tangan dibawah ini adalah fatwa – fatwa ulama Ahlussunah yang disertakan dengan dalil dari alqur’an dan sunnah

Dan Syekh Islam Ibnu Taimiyyah berkata :”adapun mendengarkan siulan dan tepuk tangan dan siulan itu seperti bunyinya pluit dan lainnya ini adalah kebiasan pendengerannya orang – orang musyrik yang Allah Subhanahu Wata’ala sebutkan diKitabNya

وَمَا كَانَ صَلاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ ( الأنفال : 35 )

Artinya :”Tidaklah shalat mereka disisi Baitullah itu, kecuali siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.” ( Qs.Al – Anfaal : 35 ) dan Allah Subhanahu Wata’ala mengabarkan tentang orang – orang musyrikin bahwasanya mereka menjadikan siulan dan tepuk tangan sebagai agama dan sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah dan tidaklah Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya berkumpul mendengarkan suara ini dan sama sekali tidak pernah menghadirinya,sampai keperkatanya dan secara globalnya sudah diketahui secara darurat dari agama ini bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mensyari’atkan bagi orang – orang yang shaleh dari ummat ini, ahli ibadahnya dan ahli zuhudnya agar berkumpul untuk mendengarkan bait – bait syair yang dilantunkan dengan bertepuk tangan atau memukulkan beduk atau duf ( rebana yang bermata satu ), seperti tidak dibolehkannya bagi seseorang untuk tidak mengikutinya, dan tidak mengikuti apa yang dia bawa dari Alqur’an dan sunnah, bukan perkara yang dhohir dan juga bathinnya dan juga tidak untuk orang umumnya dan juga orang khususnya tetapi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan keringanan beberapa jenis permainan dipernikahan dan lainnya, seperti diringankan bagi wanita untuk memukul duf ( rebana bermata satu ) di dalam pernikahan dan hari – hari kegembiraan lainnya.

Adapun untuk laki – laki di zaman beliau maka tidak ada seorang shahabat pun yang memukul duf ( rebana yang bermata satu ) dan tidak pula bertepuk tangan, bahkan telah datang hadits shohih dari Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bahwasanya beliau bersabda : “tepuk tangan itu untuk wanita dan tasbih ( subhanallah )untuk pria.”dan beliau melaknat wanita yang menyerupai pria dan melaknat pria yang menyerupai wanita.

Dan ketika lagu dan memukul duf dan memukul telapak tangan dari perbuatan wanita dahulu salaf menamakan perbuatan seperti itu dari pria sebagai banci ,dan menamakan seorang pria yang melantunkan lagu sebagai banci.

Syaikh Hamud At – tuwaijiry berkata : “ dan dari penyerupaan kepada musuh – musuh Allah yaitu apa – apa yang telah dilakukan oleh kebanyaka dari orang – orang bodoh dengan bertepuk tangan dimajlis – majlis dan tempa – tempat berkumpul ketika melihat perbuatan yang menyenangkannya dan ketika mendengar sesuatu yang bagus dari khtubah – khutbah dan sya’ir – sya’ir dan ketika datangnya seorang raja atau pembesar – pembesar kepadanya, dan tepuk tangan ini adalah perbuatan yang hina dan mungkar tertolak dari beberapa segi

1.Di dalamnya menyerupai musuh – musuh Allah dari orang – orang musyrikin dan kelompok – kelompok orang asing dan sebagainya adapun penyerupaannya terhadap kaum musyrikin maka Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman tentangnya

وَمَا كَانَ صَلاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ ( الأنفال : 35 )

Artinya :”Tidaklah shalat mereka disisi Baitullah itu, kecuali siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.” ( Qs.Al – Anfaal : 35 )Ahli Bahasa dan jumhur Ahli Tafsir berkata : mukaa artinya siulan dan tasdiyyah artinya tepuk tangan dan dengan ini Ibnu Abbas dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhum menafsirkannya

Adapun Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma maka telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir tentangnya dan di dalamnya :”sesungguhnya Ibnu Umar menceritakan perbuatan orang – orang musyrikin mereka bersiul dan mencondongkan pipinya dan bertepuk tangan “ dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim tentang Ibnu Umar sesungguhnya dia berkata :” Bahwasanya mereka orang – orang musyrikin menaruh pipi – pipi mereka diatas tanah, bersiul dan bertepuk tangan.

Adapun Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma maka telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dan Abul Faraj Ibnul Jauzi tentang Ibnu Abbas dan lafadznya Ibnu Abi Hatim berkata :”dahulu kaum Quraisy thowaf/mengelilingi Bait/Ka’bah dalam keadaan telanjang, dengan melakukan siulan dan bertepuk tangan dan Al – Mukaa artinya siulan dan At – Tashdiyah artinya tepukan tangan .” inilah yang diriwayatkan oleh Mujahid, Muhammad Bin Ka’ab, Abi Salamah Bin Abdirrahman, Dhohaak, Hasan, Qatadah,Athiyyaj Al – Aufi dan lainnya.

Ibnu ‘Arafah dan Ibnul Anbari berkata siulan dan tepukan tangan itu bukanlah suatu shalat tetapi Allah Subhanahu Wata’ala mengabarkan bahwasanya mereka menjadikan tempat shalat yang mereka diperintahkan untuk shalat di dalamnya sebagai tempat siulan dan tepuk tangan, maka mereka diwajibkan berbuat seperti itu oleh pembesar – pembesar mentri mereka.

Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nasa’I, dan Baihaqi dari hadits Ibni Abbas Radhiyallahu ‘Anhu : “ Sesungguhnya Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan seorang Quraisy bahwasanya Beliau isro/berpergian ke Baitil Maqdis, mereka berkata :”kemudian kamu telah sampai disisi kita?beliau menjawab :”iya,beliau berkata :”diantara mereka ada yang bertepuk tangan dan diantar mereka ada yang menaruh tangan – tangan mereka di atas kepala mereka dengan keheranan untuk mendustakannya” ( HR.Ahmad : 1/309 ).

Dan adapun orang – orang asing dan yang semisal mereka dari musuh – musuh Allah maka sungguh telah disebutkan oleh orang – orang yang bercampur – baur dengan mereka bahwasanya tepuk tangan adalah perbuatan mereka di tempat – tempat pesta mereka, jika mereka senang akan suatu perkataan atau perbuatan mereka bertepuk tangan dengan penuh keheranan dan pengagungan untuk perkataan / perbuatan tersebut dan sungguh orang – orang bodoh dari kaum muslimin telah mengambil perbuatan yang hina ini dari mereka, meniru mereka, dan menyerupai mereka dan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bersama kaum tersebut.” ( HR.Abu Dawud : 4031 ) dan juga dari hadits Abdullah Bin Amr Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata, Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ bukanlah termasuk dari golongan kami orang – orang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai orang – orang yahudi dan nashroni.” (HR.Tirmidzi : 2695 ) dan dari kedua hadits ini adalah bukti tentang dilarangnya bertepuk tangan karena di dalamnya terdapat penyerupaan terhadap orang – orang kafir dan bukti pelaranganya juga sabdanyanya Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma :” selisihilah orang – orang yahudi.” ( Mutafaqun ‘Alaihi )dan juga sabdanya Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi wasallam di dalam hadits Muhamad Bin Qois Bin Makhromah dari Al – Miswar Bni Makhromah Radhiyallahu ‘Anhuma :”Jalan kita menyelisihi jalan mereka “ yakni orang – orang musyrikin.” (HR.Hakim di dalam Mustadroknya dan dia berkata Shahhih dengan syarth Bukhari dan Muslim dan mereka berdua tidak mengeluarkannya, dan di sepakati oleh Dzahabi di dalam Talkhisnya, dan diriwayatkan oleh Syafi’I di dalam Musnadnya dari hadits Ibnu Juraij dari Muhammad Bin Makhromah secara mursal, dan lafadznya :” Jalan kita menyelisihi jalan orang – orang musyrik dan orang – orang penyembah berhala.”)dan telah ditetapkan di dalam kaidah – kaidah ushul fiqh sesungguhnya perintah terhadap sesuatu itu adalah laranganan bagi kebalikannya, dan untuk itu sesungguhnya perintah untuk menyelisi kaum musyrikin itu hakekatnya adalah larangan untuk menyamainya, dan menyerupai mereka di dalam apa – apa yang mereka kerjakan dari tepuk tangan dan lainnya dari sifat – sifat mereka dan perbuatan mereka yang jelek, dan juga tentang yang dikabarkan Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sesungguhnya jalannya kaum muslimin menyelisihi jalannya kaum musyrikin, itu semua mengandung larangan kaum muslimin dari perbuatan tepuk tangan dan lainnya dari perbutan kaum musyrikin Wallahu ‘Alam

Dan telah diriwayatkan bahwasanya tepuk tangan adalah perbuatan kaum Luth maka telah diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dalam Tarekhnya dari Hasan secara Mursal sesungguhnya Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Sepuluh sifat perbuatan yang oleh kaum Luth dengannyalah mereka binasa dan ummatku menambahkan sifat kikir dan beliau menyebutkan di antaranya adalah tepuk tangan.”

2.Sesungguhnya tepuk tangan adalah kekhususan para wanita untuk memperingati imam jika ia lupa akan sesuatu di dalam shalatnya sepserti yang disabdakan Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits shahih :

“hanya saja tepuk tangan itu untuk wanita .”( HR.Malik, ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’I dari hadits Sahl Bin Sa’ad Assa’idi Radhiyallahu ‘Anhu dan Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam kalimat yang bagus ini dengan kata yang membatasi, memasuki, dan mengkhususi maka menunukan bahwasanya tidak boleh dilakukan bagi pria dalam keadaan apapun, dan untuk itu barangsiapa yang bertepuk tangan dari golongan pria maka sungguh dia telah melakukan penyerupaan terhadap wanita yang mana itu adalah dari kekhususannya wanita dan Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam “telah melaknat orang yang menyerupai wanita dari pria,”(HR.Bukhari, Ahmad, Abu Dawud Thoyalisi dan Ahlu sunan kecuali Nasa’I dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma dan tirmidzi berkata hadits ini hasan shahih.

Dan diriwayatkan Ibnu Majah di Sunannya dengan sanad yang baik dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu :”Sesungguhnya Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat wanita yang meyerupai pria dan pria yang menyerupai wanita.” ( HR.Ahmad , Abu Dawud, Nasa’I yang mirip dengannya dan Ibnu Hibban, Hakim, Nawawi, dan lainnya menshahihkannya dan Hakim Berkata :”shahih dengan syarath Muslim dan dia tidak mengeluarkanya, dan disepakati oleh Dzahabi di dalam Talkhisnya.

Dan diriwayatkan oleh imam Ahmad juga dari Abdillah Bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma berkata aku telah mendengar Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :” Bukanlah dari golongan kami orang – orang yang menyerupai pria dari golongan wanita dan tidak pula orang – orang yang menyerupai wanita dari golongan pria .” di dalamnya ada orang yang tidak di ketahui dan pearawi hadits yang lainnya Tsiqat.

3.Sesungguhnya Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengingkari perbuatan tepuk tangan yang dilakukan pria di dalam waktu shalat, karena mereka mengerjakan perbuatan yang dilarang bagi pria untuk mengerjakannya, dan tidak cocok baginya,hanya saja cocok bagi wanita, dan Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyertakan pengingkaran dengan menerangkan sebab di larangnya perbuatan tersebut maka beliau Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :” Hanya saja tepuk tangan itu untuk wanita.” maka kalimat ini menunjukan tentang di larangnya pria dari perbuatan tepuk tangan sama sekali, dan sesungguhnya diwajibkan mengingkari siapa saja yang bertepuk tangan dari mereka.

4.Sesungguhnya tepuk tangan itu bukanlah dari jalanya Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dan jalan para Shahabatnya Radhiyallahu ‘Anhuum dan juga bukan dari perbuatan At – Tabi’in dan pengikutnya dalam perbuatan baik, sesungguhnya itu terjadi di tengah – tengah abad ke empat belas dari hijriyyah, ketika banyaknya percampuran antara kaum muslimin dengan orang – orang asing,dan orang – orang yang bodoh dari kaum muslimin mengikuti jalan – jalan musuh – musuh Allah dan perbuatanya yang hina.

Ibnul Qoyyim berkata di Igatsatul Lahafan :”Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak mensyari’atkannya kepada pria di waktu yang darurat di dalam shalat jika mereka lalai akan sesuatu tetapi membenarkannya agar melakukan tasbih agar tidak menyerupaii wanita maka bagaiman jika mereka melakukannya tidak di waktu yang darurat dan dengan diselingi beberapa macamperbuatan maksiat dalam bentuk pebuatan ataupun perkataan

Dan akhirnya cocok bagimu dijuluki abu salafy yang mana salaf – salafmu (pendahulumu) adalah orang – orang kafir, orang – orang asing, kaum Luth, orang – orang sufi dan ahli bid’ahnya Al – Hafidz Abul Farj Rahimahullah berkata :” Jika orang – orang sufi bergerak – gerak ketika asik mendengarkan lagu mereka bertepuk tangan.

Cukuplah firman Allah Subhanahu Wata’ala

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُون َ( الأنعام : 112)

Artinya :” Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”( Qs.Al – ‘An’am : 112 )

Semoga dengan ini dapat bermanfaat amien

Akhukum Abu Bakr Fahmi Abu Bakar Jawwas

Yang mengharapkan rahmat dari rabbnya

Darul hadits Syeher Hadramaut

27 Syawwal 1430 H,/15 Oktober 2009

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.