بسم
الله الرحمن الرحيم
PEMBELAAN
TERHADAP
ULAMA AHLU SUNNAH
Alhamdulillah
dengan selesainya bantahan yang pertama kritikan abu salafy ( Abu
safaly ) terhadap
ulama Ahlu Sunnah ( Syaikh Bin baz ) Rahimahullah, walaupun ditengah
– tengah
kesibukan thalibul ilmi yang mengharuskan ana untuk membuka syubhat si
fasiq
kecil satu ini,yang mana permusuhannya terhadap shahabat dan ulama
– ulama
Sunnah bukanlah dilakukannya kecuali untuk permusuhan dia dengan yang
di
bawanya yaitu Al – Qur’an dan Sunnah yang mereka
itu adalah pewaris
para Nabi Sholawatullahi
‘Alaihim dan dengan
wafatnya mereka – mereka itu adalah hilangnya ilmu seperti di
hadits Abdullah
Bin ‘Amr Bin ‘Ash berkata Rasulallah Salallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda : “
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak mengambil ilmu langsung
dari dada
hamba – hambanya tetapi mengambil ilmu dengan wafat ulama
sampai jika tidak ada
sisa dari seseorang yang berilmu, manusia menjadikan pemimpin
– pemimpin dari
orang – orang bodoh maka mereka bertanya dan mereka berfatwa
dengan tanpa ilmu,
maka mereka tersesat dan menyesatkan”.
( HR. Shohihain dan lainnya ).
Wahai
pemuda muslimin berfikirlah dengan jernih janganlah cuma karena tidak
senang
lalu kalian menolak kebenaran,dan juga karena permusuhan terhadap Ahlu
Sunnah yang
mereka selalu menasehati kalian agar berbuat baik dan menjauhkan diri
dari yang
keji, yang dengan itulah manusia akan beruntung seperti disurat Al
– ‘Ashar yang
mana mereka berbuat ini dalam rangka menjalankan hadits yang
diriwayatkan oleh Abu
Ruqoyyah Tamim Bin Aus Ad – Dari Radhiyallahu ‘Anhu
bahwasanya Rasulallah
Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “
Agama itu adalah nasehat, kami
berkata : untuk siapa wahai Rasulallah ?untuk Allah Subhanahu
Wata’ala, Rasul –
RasulNya, Kitab – KitabNya, pemimpim kaum muslimin dan
keumuman kaum muslimin”.
( HR.Muslim,Abu Dawud, dan
lainnya ).kalian tidak takut
akan firman
Allah Subhanahu Wata’ala
وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا
فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ
ثُمَّ لا
تُنْصَرُونَ ( هود : 113 ).
Artinya : ”
Dan janganlah kalian cenderung kepada
orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan
sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada
Allah,
kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan”.
( Qs. Hud : 113 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman di dalam
kitabNya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ ( التوبة :١١٩ ).
Artinya : ”Wahai
orang-orang yang beriman
bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang
jujur ”.
( Qs. At – Taubah :
119 ).
Yang mana nantinya
kejujuran itu sangatlah bermanfaat
nanti di hari kiamat seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala.
قَالَ
اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ
تَجْرِي
مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (المائدة : 119 ).
Artinya : ”
Allah berfirman: “Ini adalah
suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran
mereka. bagi
mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya
selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya Itulah keberuntungan yang
paling
besar”. (
Qs. Al – Ma’idah : 119 ).
Dan
janganlah kalian jadikan agama ini permainan, sehingga mengedepankan
hawa nafsu
kalian
Dan
Allah Subhanahu Wata’ala
الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا
وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ
كَمَا
نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (
الأعراف
: 51 ).
Artinya : ”
(yaitu) orang-orang yang menjadikan
agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia
telah
menipu mereka.” Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka
sebagaimana mereka melupakan Pertemuan mereka dengan hari ini, dan
(sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami”.
(
Qs. Al – ‘Araaf : 51 ).
Dan
Allah Subhanahu Wata’ala
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ
فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ
الْعَذَابِ
الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ( ) وَنَجَّيْنَا
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ( فصلت : 18 – 17 ).
Artinya : “
Dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka
telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan)
daripada
petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan
apa yang
telah mereka kerjakan. ( # ) Dan Kami selamatkan orang-orang yang
beriman dan
mereka adalah orang-orang yang bertakwa”.
( Qs. Fushilat : 17 -18 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا
يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
وَكَذَلِكَ
نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ (
الأعراف : 40 ).
Artinya : “Sesungguhnya
orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya,
sekali-kali
tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula)
mereka
masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum Demikianlah Kami memberi
pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”.
( Qs. Al –
‘Araaf
: 40 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي
آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ
فَكَانَ مِنَ
الْغَاوِينَ ( ) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ
إِلَى
الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ
عَلَيْهِ
يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ
كَذَّبُوا
بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ( الأعراف :
176 –
175 ).
Artinya : “Dan
bacakanlah kepada mereka berita
orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan
tentang isi
Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu
Dia
diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk
orang-orang yang sesat.
( # ) Dan kalau Kami
menghendaki, Sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung
kepada dunia
dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti
anjing
jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya Dia
mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang
yang
mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka)
kisah-kisah itu
agar mereka berfikir “. (
Qs. Al
– ‘Araaf : 175 – 176 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
وَقَالَ
الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ
مَهْجُورًا ( ) وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى
بِرَبِّكَ
هَادِيًا وَنَصِيرًا ( ) وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ
عَلَيْهِ
الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ
وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا ( ) وَلا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ
بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا ( الفرقان : 33 – 30 ).
Artinya : “Berkatalah
Rasul: “wahai Rabbku ,
Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak
diacuhkan”
(#) Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh
dari
orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk
dan
penolong.(#) Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu
tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami
perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan
benar).(#) Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu
(membawa)sesuatu yang
ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang
paling baik
penjelasannya”. (
Qs. Al – Furqon : 30 – 33 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
قَالَ
ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ
قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ
أُمَّةٌ
لَعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ
أُخْرَاهُمْ
لأولاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ
النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لا تَعْلَمُونَ ( الأعراف
: 38 ).
Artinya : “
Allah berfirman: “Masuklah kamu
sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah
terdahulu
sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), Dia mengutuk
kawannya
(menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah
orang-orang
yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk
terdahulu:
“Wahai Rabb Kami, mereka telah menyesatkan Kami, sebab itu datangkanlah
kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah
berfirman:
“Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu
tidak Mengetahui”. (
Qs. Al – ‘Araaf ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ
قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (الصف :٥).
Artinya : “
Maka tatkala mereka berpaling (dari
kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah tidak memberi
petunjuk
kepada kaum yang fasik”.
( Qs. As – Shaff : 5
).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
وَمَنْ
أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
أَعْمَى ( ) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا
( ) قَالَ
كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (
طه :
126 – 124 ).
Artinya : “
Dan Barangsiapa berpaling dari
peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan
Kami akan
menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”.(#) Berkatalah
ia:
“Wahai Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam Keadaan buta,
Padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”(#) Allah berfirman:
“Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu
melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”.
(
Qs. Thaha : 124 – 126 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ
اللَّهُ
مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ ( البقرة :
١٠ ).
Artinya : “
Dalam hati mereka ada penyakit lalu
ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih,
disebabkan mereka
berdusta”. (
Qs. Al – Baqarah
:
10 ).
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ
هَوَاهُ
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ
وَجَعَلَ
عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا
تَذَكَّرُونَ ( الجاثية : 23 ).
Artinya : “
Maka pernahkah kamu melihat orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai rabbnya dan Allah membiarkannya
berdasarkan
ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan
meletakkan
tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya
petunjuk
sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran?.” (
Qs. Al – Jatsiyyah : 23 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ
الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي
الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ ( النور : ١٩ ).
Artinya
: ”Sesungguhnya orang-orang senang agar
(berita) perbuatan yang Amat keji itu
tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang
pedih di
dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak
mengetahui.”
( Qs. An – Nur : 19 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
أَمْ
حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ
أَضْغَانَهُمْ (محمد :٢٩ ).
Artinya : “
Atau Apakah orang-orang yang ada penyakit
dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan Menampakkan kedengkian
mereka ? (
Qs. Muhammad : 29 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
وَنَادَى أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ
النَّارِ أَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ
وَجَدْتُمْ
مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا قَالُوا نَعَمْ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ
بَيْنَهُمْ أَنْ
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (الأعراف : ٤٤ ).
Artinya : “
Dan penghuni-penghuni surga berseru
kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya Kami
benar
– benar telah mendapatkan apa yang Rabb Kami telah janjikan
kepada kami. Maka
Apakah kamu benar – benar telah mendapatkan apa yang telah
Rabb kalian janjikan
(azab) ?” mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. kemudian
seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu:
“Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.” (
Qs. Al
- A’araaf : 44 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
يَا
أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ
التَّوْرَاةُ وَالإنْجِيلُ إِلا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ ( ) هَا
أَنْتُمْ هَؤُلاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ
تُحَاجُّونَ
فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا
تَعْلَمُونَ (
آل عمران : 66-65 ).
Artinya : “
Wahai ahli Kitab, mengapa kamu bantah
membantah tentang hal Ibrahim, Padahal Taurat dan Injil tidak
diturunkan
melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?(#) Beginilah
kamu, kamu
ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui[199],
Maka
kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui[200]?
Allah
mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.
( Qs. Ali – Imran :
65 – 66 ).
Ketahuilah wahai zindiq
janji Allah Subhanahu
Wata’ala pasti nyata dan Allah Subhanahu Wata’ala akan menghinakan
orang –
orang yang bathil baik itu di dahulukan kehinaannya di dunia maupun di
akhirkan
kehinaan tersebut di akherat nanti
Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman di dalam kitabNya
yang mulia
وَلا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلا عَمَّا
يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ
الأبْصَارُ (
)
مُهْطِعِينَ
مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ
وَأَفْئِدَتُهُمْ
هَوَاءٌ ( )
وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ
يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا
إِلَى
أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ
تَكُونُوا
أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ ( )
وَسَكَنْتُمْ
فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ
فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الأمْثَالَ ( )
وَقَدْ
مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ
لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ ( )
فَلا
تَحْسَبَنَّ اللَّهَ مُخْلِفَ وَعْدِهِ رُسُلَهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ
ذُو
انْتِقَامٍ (
)
يَوْمَ تُبَدَّلُ
الأرْضُ غَيْرَ الأرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ
الْقَهَّارِ (
)
وَتَرَى
الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ مُقَرَّنِينَ فِي الأصْفَادِ ( )
سَرَابِيلُهُمْ
مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى وُجُوهَهُمُ النَّارُ ( )
لِيَجْزِيَ
اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ( )
هَذَا بَلاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا
أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الألْبَابِ ( ابراهيم
: 52 -42 ).
Artinya : “
Dan janganlah sekali-kali kamu
(Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh
orang-orang
yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai
hari yang
pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,(#) Mereka datang
bergegas-gegas
memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka
tidak
berkedip-kedip dan hati mereka kosong.(#) Dan berikanlah peringatan
kepada
manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka,
Maka
berkatalah orang-orang yang zalim: “Wahai Rabb Kami, beri tangguhlah
Kami
(kembalikanlah Kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit,
niscaya Kami
akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul”. (kepada
mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia)
bahwa
sekali-kali kamu tidak akan binasa?(#) Dan kamu telah berdiam di
tempat-tempat
kediaman orang-orang yang Menganiaya diri mereka sendiri, dan telah
nyata
bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami
berikan
kepadamu beberapa perumpamaan”.(#) Dan sungguh mereka telah membuat
makar
Padahal di sisi Allah-lah (yang mengembalikan) makar mereka itu.
walaupun makar
mereka itu (amat besar) yang membuat gunung – gunung itu
lenyap.(#) Karena itu
janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya
kepada
rasul-raaul-Nya; Sesungguhnya Allah Maha perkasa, lagi mempunyai
pembalasan (#)
(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan
(demikian
pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul
menghadap ke
hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.(#) Dan kamu akan melihat
orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan
belenggu.(#)
Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh
api
neraka,(#) Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang
terhadap apa
yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya.(#) (Al
Quran) ini
adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi
peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia
adalah Rabb
yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil
pelajaran”. (
Qs. Ibrohim :
42
– 52 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ
بِالْمُفْسِدِينَ ( آل عمران : 63 ).
Artinya : “
Maka jika mereka berpaling (dari
kebenaran), Maka sesunguhnya Allah Maha mengetahui orang-orang yang
berbuat
kerusakan.” (
Qs. Ali – ‘Imran : 63 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
فَإِنْ
تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ( آل عمران : 64 ).
Arttinya : “
maka jika mereka berpaling Maka
Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang
yang
berserah diri (kepada Allah)”. (
Qs. Ali – ‘Imron :
64
).
“ Semoga Allah
merahmati orang yang mengetahui kemampuan
dirinya.” perkataan ini sangat
cocok
untukmu wahai zindiq kecil,karena beberapa perkara :
(1).abu salafy berkata (
sawwadallahu wajhah ): Di
antara perkara konyol kaum Wahhâbi….
Maka kita jawab semoga
Allah Subhanahu Wata’ala memberikan
hidayah kepada kita semua, amien. di dalam penyandaran sidungu tentang
nama
Wahabi untuk Ahlu Sunnah itu bukanlah suatu ejekan, bahkan di dalam
penamaan
itu malah merugikan kamu, padahal dia berikan nama itu untuk mengejek
Ahlu
Sunnah kedua menghinakan kamu karena taqlid butamu kepada
pendahulumu.tidak ada
kegembiraanmu disini,
1.Dengan nama Wahhabi
yang disandarkan kepada Ahlu
Sunnah itu adalah suatu ni’mat buat Ahlu Sunnah yang mana
Wahhab adalah salah
satu nama dari nama – nama Allah
Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ
إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ
الْوَهَّابُ ( آل
عمران : ٨ ).
Artinya : “Wahai
Rabb Kami, janganlah Engkau
jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk
kepada
Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena
Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”.
( Qs. Ali –
‘Imran
: 8 ).
gimana tidak suatu
keni’matan di sandarkan kepada Al
- Kholik semesta alam ini, dan perlu kamu ingat Wahai zindiq
sesungguhnya
kelompok Allah adalah orang – orang yang mendapatkan
kemenangan seperti yang
difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala di
Kitabnya
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ ( المائدة
: 56 ).
Artinya : “
Dan Barangsiapa yang menjadikan Allah,
Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka
Sesungguhnya
kelompok Allah itulah yang pasti menang”.
( Qs. Al –
Ma’idah : 56 ).
Dan Allah berfirman di
dalam Kitabnya
لا
تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ
مَنْ
حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ
أَوْ إِخْوَانَهُمْ
أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ
وَأَيَّدَهُمْ
بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الأنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ
حِزْبُ
اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ( المجادلة : 22 ).
Artinya : “
Kamu tak akan mendapati kaum yang
beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan
orang-orang
yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu
bapak-bapak, atau
anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. mereka Itulah
orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan
menguatkan
mereka dengan ( bukti – bukti,cahaya dan petunjuk ) yang
datang daripada-Nya.
dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka,
dan
merekapun ridho kepadaNya ( dengan dimasukannya mereka kesurga-pent ).
mereka
Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan Allah
itu adalah
golongan yang beruntung”.
(Qs. Al – Mujadalah :
22 ).
2.Dengan
nama Wahhabi itu terlihatlah kedunguan dan ketaqlidan kamu, karena nama
beliau
adalah Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab, dan ayahnya beliau adalah
Abdul Wahhab
dan dia tidak pernah mengemban dakwah Ahlu Sunnah ini, kalau kamu
memang orang
yang benar maka kamu akan berikan gelar Muhammadi,tetapi pasti kamu
enggan dan
tidak mau mengganti nama itu,karena nama itu dari orang –
orang yang sebelum
kamu, dan walaupun kamu sudah tahu itu salah dan tidak didasari ilmu maka
inilah yang dinamakan taqlid karena kamu
mengikuti tanpa ilmu alias membebek, ternyata yang selama ini sering
kamu
gembor – gemborkan dan di tujukan taqlid itu ke Ahlu Sunnah
malah kamu yang
terbuka ‘Aib kamu yafdhohukallahu, kalau Ahlu Sunnah itu
mereka mengikuti
dengan berdasarkan dalil,
bukti dan ilmu
(
Al – Ittiba’) dan inilah yang di
perintahkan Allah dan Rasulnya seperti di firman Allah Subhanahu
Wata’ala
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ
تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ( آل عمران : 31 ).
Artinya : “
Katakanlah: “Jika kalian
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi
dan
mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”. (
Qs. Ali – ‘Imran : 31 ).
(2).berkata abu salafy
semoga Allah Subhanahu
Wata’ala memburukan wajahnya, amien : mereka menegakkan akidah
“miring“ mereka
di atas pondasi yang rapuh dan ocehan orang Arab Baduwi yang jahil.
Maka kita menjawab semoga
Allah Subhanahu Wata’ala
menjaga kita dari tipu daya syaithan, amien : Subhanallah apa yang di
perbuat
orang dungu ini, dia mencerca seorang shahabat yang mana mereka telah
diberikan
tazkiyyah oleh Rabb di beberapa tempat di KitabNya, nanti kita tunda
dulu di
jawaban selanjutnya untuk jelasnya siapakah shahabat yang dia cerca.
(3).berkata
abu salafy ( ‘atsrohullahu lisanah) : Kaum Wahhâbi
“ngotot” meyakini bahwa
Allah butuh kepada tempat untuk bersemayam… bahkan sebelum
menciptakan
ciptaan-Nya Allah telah butuh kepada tempat! Dan tempat itu adalah
ruang kedap
udara!!
Maka
kita menjawab semoga Allah menjauhkan
kita dari sifat – sifat dusta, amien : sungguh ini adalah
dusta terhadap Ahlu
Sunnah tidak malukah kamu wahai zindiq dengan apa yang kamu perbuat,
Ma’adzallah,
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ
مَسْئُولا
( الاسراء : 36 ).
Artinya : “
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya.” (
Qs. Al – Isro : 36 ).
Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ
رَقِيبٌ عَتِيدٌ ( ق : ١٨ ).
Artinya : “ Tiada
suatu ucapanpun yang
diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas Roqib dan
‘Atid.” (
Qs. Qaaf : 18 ).
Sifat – sifat
orang kafir lebih bagus dari kamu wahai
zindiq, yang mana ketika itu Abu Sufyan Radhiyallahu ‘Anhu sebelum
keislaman
beliau di hadits yang panjang ( tentang herackles atau yang dikenal
dengan
Hercules )di hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma,Abu Sufyan
Radhiyallahu
‘Anhu berkata : “
Demi Allah kalau bukan karena malu waktu itu dari pengaruh
teman – temanku kepadaku dari kedustaan, sungguh aku akan
mendustainya ketika
dia ( Heracles-pent ) bertanya kepadaku tentangnya ( Nabi Muhammad
Shalallahu
‘Alaihi Wasallam – pent )tetapi aku malu akan pengaruh teman
– temanku kepadaku
dari kedustaan, maka aku membenarkanya” .
(HR.Bukhori [ 2940 ]dan Muslim
[1773] ).
Dan di hadist
Mu’adz Bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu
Rasulallah bersabda : Celakalah
kamu Wahai Mu’adz! Tidakkah seseorang itu
dibalikan hidung – hidung mereka ( dalam keadaan hidung
– hidung mereka dibawah
– pent)di neraka Jahannam kecuali hasil dari buah perkataan
mereka.?”. (HR.Ibnu
Majah, Hakim dan Baihaqi dan
lainnya dan dishahihkan hadits ini oleh Syaikh
Albani Rahimahullah ).
Kapan Ahlu Sunnah
berbicara seperti itu ?dan apa yang
kamu maksud dengan tempat disini ?kalau yang kamu maksud itu tempat
yang ada
yang tempat itu berada di dalam lingkup alam ini ?Ahlu Sunnah tidak
mengatakan
dengan adanya Allah Subhanahu Wata’ala di dalam sesuatu yang
semisal itu karena sesuatu dari
ciptaaNya tidak bisa meliputi dan membatasi Allah Subhanahu Wata’ala
denganya,dan
sesungguhnya keumuman Ahlu Sunnah dan ulama Salaf dan para imam
– imamnya tidak
mengingkari tempat secara mutlaq dikarenakan adanya Nash yang shahih
dan jelas
dari Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam dengan itu secara tanya jawab
yaitu
haditsnya budak perempuan kecil yang masyhur yang nanti dibawah ini
akan ada
diPERTANYAAN kamu terhadap Ahlu Sunnah berserta jawabanya semoga Allah
Subhanahu
Wata’ala memudahkan ini semua, amien, bukanlah kandungan dari perkataan
Ahlu
Sunnah yang seperti ini terus kamu simpulkan bahwasanya Ahlu sunnah
berkata
Allah Subhanahu Wata’ala butuh kepada tempat, tidaklah pemahaman yang
seperti
ini kecuali dihasilkan dari otak – otak yang kotor seperti
otakmu, karena kamu
menganggap keharusan
suatu perkataan itu adalah perkataan kalau
begitu memang adanya sekarang Ahlu Sunnah dalam keadaan terdzolimi atas
tuduhan
yang tidak berdasarkan dengan dalil, apakah kamu mau diterlaknat.?itu
adalah
lazim dari ayat ini Allah Subhanahu Wata’ala melaknat orang –
orang yang berbuat
dzolim ?seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى
اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ
الأشْهَادُ
هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى
الظَّالِمِينَ ( هود : ١٨).
Artinya : “
Dan siapakah yang lebih zalim daripada
orang yang membuat-buat Dusta terhadap Allah?. mereka itu akan
dihadapkan
kepada Rabb mereka, dan Para
saksi akan
berkata: “Orang-orang Inilah yang telah berdusta terhadap Rabb
mereka”. Ingatlah, laknat ( kutukan ) Allah (ditimpakan) atas
orang-orang
yang dzalim”. (
Qs. Hud : 18 ).
apakah
kamu
juga termasuk orang yang menafikan sifat Uluw bagi Allah Subhanahu
Wata’ala?
Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman
هَا
أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ
بِالْكِتَابِ
كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا
عَلَيْكُمُ
الأنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ
بِذَاتِ الصُّدُورِ (آل عمران : ١١٩ ).
Artinya : “
Beginilah kalian, kalian menyukai
mereka, Padahal mereka tidak menyukai kalian, dan kalian beriman kepada
Kitab-Kitab semuanya, Dan apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata
“Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung
jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada
mereka): “Matilah
kamu karena kemarahanmu itu“.
Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi
hati”. (
Qs. Ali – ‘Imran : 119 ).
(4).abu
salafy berkata ( semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan balasan
yang
setimpal buat lidahnya): Mereka meriwayatkan untuk mendukung keyakinan
mereka
riwayat di bawah ini dari Abu Razin al Uqaili yang mengaku telah
bertanya
kepada Nabi saw.
أين
كان الله قبل ٍأنَ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟ فقال: كان في عماء ,ما تحته هواء
وما فوقه
هواء ثم خلقٌ، عرْشُهُ علَى المَاءِ.
“Dimanakah
Allah sebelum menciptakan ciptaan-Nya?
Maka Nabi saw. menjawab:
Allah berada di awan di
atas-Nya tidak ada udara dan di bawahnya juga tidak ada udara. Di sana
tidak ada ciptaan.
Dan Arsy-Nya di atas air.”
Kita menjawab semoga
Allah Subhanahu Wata’ala
memberi rahmatnya kepada
kita, amien :
lihatlah kedunguannya dan plin – plinnya kalimat عماء
di terjemahkan dua kali dengan tanpa di
beritahu kalau ini satu terjemahan yang lebih heran lagi dalam tempat
yang
berjauhan, apakah kamu sedang menterjemahkan kalimat yang lain?yang
seperti ini
mau mengkritik Syaikh Islam Dan Syaikh Albani Rahimahullah yang ilmu
mereka
seperti gunung
si zindiq kecil ini
mengartikan kata ini dengan
diawan setelah beberapa kata dia artikan
lagi dengan kata disana tidak ada ciptaan.
(5).berkata
abu salafy
( qabbahullahu wajhah ) : Para
ulama Islam telah membantah hadis palsu di atas baik
sanad maupun kandungannya! Akan tetapi Ibnu Taimiyah (Nabi Junior kaum
Wahhâbi)
berpegang teguh dengannya dan membanggakannya lebih dari tiga puluh
kali dalam
berbagai kitab karangannya!!
Kita
menjawab semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan karunianya kepada
kita,
amien : sizindiq kecil ini gobloknya memang bukan kepalang, sehingga
tidak bisa
membedakan yang namanya hadits dha’if atau lemah dengan
hadits maudhu’ atau
palsu, padahal ini perkara yang dasar,siapakah dari ulama yang
mengatakan
hadits ini palsu bukan lemah ?apakah karena ingin menjatuhkan Syaikh Al
– Islam
Ibnu Taimiyyah Rahimahullah sehingga dibuatlah hukum hadits ini
sedemikian
ngerinya?mana amanah ilmiyyah kamu? bagaimana dia mau mengkritik Al
– Muhadits
Ad –Diyar Al – Allamah As – Syaikh Albani
Rahimahullah yang jasanya diberikan
ummat ini sangatlah banyak, lihatlah karya – karya beliau,
adapun kamu muftin,
tukang penebar fitnah, semoga Allah Subhanahu Wata’ala menjaga kita
dari
fitnah, amien
1.Definisi
yang paling bagus dalam hadits dha’if atau lemah adalah
definisi Al – Hafidz
ialah setiap hadits yang tidak terkumpul di dalamnya sifat –
sifat di terimanya
hadits ( yang lima-pent ) ( lihat “ Nukat” 1/491 ).
Dan
juga definisi yang paling bagus dalam hadits dha’if atau
lemah ialah setiap
hadits yang hilang darinya salah satu syarat dari syarat – syarat di
terimanya
hadits ( yang lima-pent ) (
lihatlah “
Al – Bahr Al – Ladzi Zakher ” 3/
1283-1287 ).
2.Definisi
hadits maudhu’ atau palsu secara bahasa adalah yang melekat,
dan secara
isthilah adalah hadits yang di dasarkan atas dusta kepada Rasulallah
Salallahu
‘Alaihi Wasallam yang dibuat – buat sedemikian bagusnya,dan
hukum
meriwayatkannya adalah di haramkan meriwayatkannya dengan mengetahui
kepalsuannya kecuali untuk diterangkannya dan dibuka syubhat
– syubhatnya (
lihatlah “ Fathul Mughits” 1/274,
“Tadrib” 1/323 dan
“Ghoyah” 1/331 ).dan perbedaannya adalah
kalau hadits lemah yang ringan bisa naik hukumnya menjadi hasan
lighoirihi
dikarenakan ada diikuti oleh hadits yang shohih,dan boleh diriwayatkan
kalau ada
pendukungnya dari hadits yang shohih, adapun hadits palsu haram
hukumnya
kecuali untuk diterangkannya dan dibuka syubhat – syubhatnya
itulah sekilas
perbedaannya.dan untuk menyingkat singkapan si zindiq satu ini kita
langsung
saja kejawaban pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut semoga
Allah memberikan
kemudahan untuk ini, amien.
Abu
Safaly Bertanya:
1).Wahai
kaum Wahhâbi mengapakah kalian menegakkan akidah kalian di
atas hadis Abu Razin
al ‘Uqaili, padahal ia seorang Arab Baduwi yang telah dicacat
para ulama Ahli
jarhi wa ta’dil dan mereka menegaskan bahwa dia tidak
mengerti apa-apa?! Ibnu
Abdil Barr berkata:
وليس
بشئ.
“Ia
bukan apa-apa.”
Maka
kita menjawab qabbahallahu wajhak, amien
1.Syaikh
Islam dan Ibnu Taimiyyah tidak membangun akidah di atas hadits yang
lemah itu,
tetapi kamu memang pendusta karena mengambil sebagian nash dan
menyembunyikan
nash lainnya, inilah nash nya
فإن
عامة أهل السنة وسلف الأمة وأئمتها لا ينفون عنه الأين مطلقا لثبوت النصوص
الصحيحة
الصريحة عن النبي ص بذلك سؤالا وجوابا
فقد
ثبت في الصحيح عنه انه قال للجارية أين الله
قالت في السماء وكذلك قال ذلك لغيرها
وقال
له أبو رزين العقيلي أين كان ربنا قبل أن
يخلق السماوات والأرض قال في عماء ما فوقه هواء وما تحته هواء ثم خلق عرشه
على
الماء
ومن
نفي الأين عنه يحتاج إلى أن يستدل على انتفاء
ذلك بدليل
أما أن
يجعل انتفاء الأين عنه دليلا فهذا لا يقوله عاقل ومن نفى الأين قال لأن
الأين سؤال
عن المكان يقول والله ليس في المكان لأن المكان لا يكون إلا للجسم والله
ليس بجسم
لأن الجسم لا يكون إلا محدثا ممكنا فلا بد له من هذه المقدمات أو ما
يناسبها
ثم
المثبت لما جاءت به السنة يرد عليه بمنع بعض
هذه المقدمات والتفصيل فيها أو بعضها وبيان الحق في ذلك من الباطل مثل أن
يقال
المكان يراد به ما يحيط بالشئ والله لا يحيط به مخلوق أو يراد به ما يفتقر
إليه
الممكن والله لا يفتقر إلى شئ وقد يراد بالمكان ما يكون الشئ فوقه والله
فوق عرشه
فوق سماواته فلا يسلم نفى المكان عنه بهذا التفسير
ونقول
قد وردت الآثار الثابتة بإثبات لفظ المكان
فلا يصح نفيه مطلقا
Maka sesungguhnya
keumuman Ahlu Sunnah dan ulama
Salaf ummat ini dan para imam – imamnya tidak mengingkari
tempat secara mutlaq
dikarenakan adanya Nash yang shahih dan jelas dari Nabi Salallahu
‘Alaihi
Wasallam dengan itu secara tanya jawab yaitu haditsnya budak perempuan
kecil.
Maka
telah tetap adanya hadits yang shahih dari Rasulallah Salallahu ‘Alaihi
Wasallam bahwasanya beliau Salallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada
budak
perempuan kecil : “ dimana Allah Salallahu ‘Alaihi Wasallam,
dia berkata diatas
langit.dan juga selainya berkata seperti itu.
Dan
Abu Razin Al – ‘Uqaili Radhiyallahu ‘Anhu berkata
kepada beliau Salallahu
‘Alaihi Wasallam dimana Rabb kami, sebelum Dia menciptakan langit dan
bumi
beliau Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di tempat yang tidak ada
sesuatu
selainnya, tidak ada udara diatasnya dan tidak ada udara dibawahnya,
kemudian
Dia menciptakan ArsyNya diatas air. Barang siapa yang menafikan الأين
(
yaitu kata yang diucapkan untuk menanyakan suatu tempat ialah dimana
-pent ).maka
butuh agar dia menunjukan dalil tentang penafian tersebut adapun yang
menjadikan penafian الأين
tersebut menjadi dalil baginya, dan tidak ada orang yang
berakal yang mengatakan ini, dan barangsiapa yang menafikan الأين
dan dia berkata
karena الأين
adalah pertanyaan untuk menanyakan tempat, dia berkata dan Allah
Subhanahu
Wata’ala tidaklah berada ditempat, karena tidaklah sesuatu yang berada
ditempat
kecuali untuk sesuatu yang mempunyai tubuh dan Allah Subhanahu Wata’ala
tidaklah
mempunyai tubuh, karena tubuh tidaklah terjadi kecuali setelah
diciptakan, maka
diharuskan baginya dari pendahuluan – pendahuluan yang
seperti ini atau yang
menyerupainya.
Kemudian
orang yang menetapkan dengan apa – apa yang datang dari
Sunnah membantahnya
dengan melarang sebagian dari pendahuluan – pendahuluan yang
seperti ini dan
merinci apa yang ada di dalamnya atau sebagiannya dan menerangkan yang
benar di
dalam permasalahan itu dan juga yang bathilnya, seperti dikatakan kata
“ tempat
“ dan dia bermaksud dengan itu apa – apa yang meliputi
sesuatu dan tidaklah
makhluk itu meliputi Allah Subhanahu Wata’ala atau dimaksudkan dengan
apa – apa
yang membutuhkan tempat, dan Allah Subhanahu Wata’ala tidaklah butuh
kepada
sesuatu, dan kadang dia maksudkan “ tempat “ apa
– apa yang berada di atas
Allah Subhanahu Wata’ala, dan Allah Subhanahu Wata’ala diatas ArsyNya
diatas
langitNya, maka tidaklah benar menafikan tempat dariNya dengan
penafsiran yang
seperti ini, dan kami berkata telah datang hadits – hadits
yang shahih dengan
penetapan lafadz tempat, dan juga tidak benar menafikannya secara
mutlaq.selesai perkataan Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah.dari
perkataan
beliau diatas kita ada beberapa masalah :
(a).
keumuman Ahlu Sunnah dan ulama Salaf
ummat ini dan para imam – imamnya tidak mengingkari tempat
secara mutlaq
dikarenakan adanya Nash yang shahih dan jelas dari Nabi Salallahu
‘Alaihi
Wasallam di hadits budak perempuan kecil yang diriwayatkan oleh
Mu’awiyah Bin
Al – Hakam Bin As – Sulami Radhiyallahu ‘Anhu ( HR.
Muslim, Abu daud, An –
Nasa’I dan lainnya) jadi Ahlu Sunnah mendirikan aqidah ini
bukan berdasarkan
hadits yang lemah saja tetapi sebelum hadits lemah tersebut ada hadits
shahih
sayang memang disayang si zindiq memang tuti ( tukang tipu ) menuduh
dalam
keadaan dia tahu Ahlu Sunnah berdalilkan hadits yang di atas, hanya
saja Syaikh
Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah membawakan hadits lemah tersebut
setelah
datangnya hadits shahih ini, dan ini adalah perbuatan ulama –
ulama salaf
seperti Ibnu Khuzaimah, Muslim kadang terdapat hadits lemah tetapi
bukan di
induk babnya tetapi sebagai pengikut hadits yang shahih dan di ikuti
oleh
Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab An – Najdi Rahimahumullah
Ajma’in di dalam
kitab Tauhidnya,dan ini di namakan di dalam ilmu hadits bab Syawahid
dan
Mutaba’at, selama hadits yang lemah tersebut tidak menyelisi
hadits yang
shahih, seperti hadits Abu Rozin ini
Jika
Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengartikan عماء
dengan arti tidak ada sesuatu yang
bersamaNya seperti yang dikatakan oleh Yazid Bin Harun, dan
Tsa’lab, dan juga
seperti yang si zindiq ini artikan walaupun dengan plin –
plan, jadi tidaklah
hadits ini berselisih bahkan artinya sama dengan hadits shahih yang
diriwayatkan ‘Imron Bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhu berkata :
orang – orang
negeri Yaman berkata kepada Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam kami
datang
untuk memahami agama dan untuk menanyaimu tentang awal dari perkara
ini, maka
Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda Allah Subhanahu Wata’ala
sudah
ada dan tidak ada sesuatu sebelum Dia, ( diriwayat lain Allah sudah ada
dan
tidak ada sesuatu selainnya ) ( HR.Bukhari [3191][7418]).dan inilah
yang
dirojihkan oleh Syaikh kami Syaikh Abdullah Bin Mar’I Bin
Buraik Rahimahullah
di Syarh Al – Uluw dan juga Syarh Aqidah Wasitiyyah.
Dan
jika Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah mengartikan عماء
dengan arti awan dan ini adalah perkataannya
Ibnu Al – Atsir, Abu ‘Ubaid dan juga Syaikh Albani
Rahimahumullah Ajma’in ini
adalah perkara ijtihad, mereka adalah para ulama dan mereka tidak
membangun
aqidah mereka di atas hadits ini, dan Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah
membawakan
hadits ini dalam rangka menetapkan kata الأين (
yaitu kata yang diucapkan untuk menanyakan suatu tempat ialah dimana
-pent )
yang mana sebelum dibawakan hadits ini beliau telah membawakan hadits
Mu’awiyah
Bin Hakam As – Sulami Radhiyallahu ‘Anhu yang di dalam hadits
itu juga terdapat
lafadz الأين untuk
membantah orang yang menafikan sifat
uluw atau sifat tinggi bagi Allah Subhanahu Wata’ala.
b).Lafadz
tajsim awal pertama yang mengatakan tajsim adalah Muqotil Bin Sulaiman
Al –
Barkha dan di bantah oleh beberapa ulama Ahlu Sunnah,dan dia sangat
pandai di
dalam ilmu tafsir tetapi di dalam kepandaiannya itu dia punya pemikiran
–
pemikiran yang menyimpang, maka telah bertanya seseorang kepada
Waqi’ Bin Jarah
tentang
tafsirnya maka beliau berkata : “
janganlah kamu melihat apa – apa yang ada di
dalamnya” orang itu berkata : lalu
apa yang aku perbuat dengannya beliau berkata : tanamlah.” Dan
Ibnu Mubarak
pernah ditanya mengenai tafsir Muqotil Maka beliau berkata : “
lemparlah “.ini
di dalam permasalahan tafsir adapun di dalam ilmu hadits dia
adalah mungkarul hadits dan pendusta,
Imam Bukhori berkata tentangnya : “
dia buka apa – apa”.
dan beliau
berkata di lain riwayat tentangnya: “
haditsnya mungkar “. Ibnu
Sa’ad
berkata : ” ahlul
hadits mencela hadits yang diriwayatkannya”.
dan Abu
Hatim : melemahkan
haditsnya.” dan Ad
– Dzahabi berkata di dalam siyar :
secara ijma meninggalkan
haditsnya”.lihatlah
apa yang dilakukan para
imam dan ulama salaf dalam membantah perkataanya dan juga melemahkan
hadits
yang diriwayatkannya dan memboikot bukunya dan dengan itu pula Ahlu
Sunnah
digelari dengan orang yang menetapkan jism bagi Allah Subhanahu
Wata’ala
Allahul Musta’an wa ilaihi tuqlaan,tidaklah Ahlu Sunnah di
berikan nama
mujassim ( yang menetapkan jism ) kecuali setelah mereka menetapkam
sifat –
sifat yang ditetapkan Allah Subhanahu Wata’ala dan NabiNya Salallahu
‘Alaihi
Wasallam seperti sifat Allah itu melihat, Allah itu mendengar dan juga
seperti
yang disini Ahlu Sunnah menetapkan lafadz الأين dan
dari penetapan tersebut setelah ada rantai pertanyaan yang dilakukan
oleh
filsafah sehingga mereka tesesat, seperti di atas, mereka akhirnya
menafikan
sesuatu yang tetap bagi Allah Subhanahu Wata’ala, kalau Allah mendengar
atau
melihat berarti dia mempunyai jism dan lain – lainya dari
pertanyaan –
pertanyaan filsafat, lafadz jism ini tidak datang dari Al –
Qur’an dan juga Sunnah
menetapkannya yang dengan itu kita tetapkan lafadz itu dan Al
– Qur’an dan
Sunnah tidak juga menafikkanya yang dengan itu kita nafikan, maka
barangsiapa
yang menafikannya atau menetapkannya secara muthlaq ditanyakan
kepadanya apa
yang dia maksudkan dari lafadz itu, maka jika dia berkata yang saya
maksudkan
dengan jism itu adalah maknanya didalam bahasa arab badan yang padat
yang
sebagaimana bahasa pakai didalam bahasa, maka makna yang seperti ini
nash dan
aqal menafikannya dari Allah Subhanahu Wata’ala, dan jika yang kamu
maksudkan
adalah sesuatu yang tersusun dari unsur dan bentuk dan yang tersusun
dari
kumpulan jauhar, maka makna yang seperti ini pasti manfi atau tidak ada
dari
Allah Subhanahu Wata’ala, maka jism tidaklah suatu makhluk yang
tersusun dari
ini ataupun itu, dan jika kamu maksudkan apa – apa yang
mensifati dengan sifat,
melihat dengan pandangan, berkata, mengatakan, melihat, mendengar,
ridho dan
juga murka, maka makna – makna seperti ini adalah tetap bagi
Allah Subhanahu
Wata’ala dan Dia disifati dengannya maka kami tidak akan menafikan
sifat –
sifat itu dari Allah Subhanahu Wata’ala walaupun kalian menggelari bagi
yang disifatinya
dengan jism.
c).bukanlah
suatu kelaziman bagi Ahlu Sunnah di dalam penetapan mereka terhadap
lafadz الأين melazimkan
Allah Subhanahu Wata’ala butuh
kepada tempat dan ini karena sudah sangat rusaknya otak sizindiq ini
atau karena
Ahlu Sunnah telah terdzolimi dengan perkataan ini maukah kamu di laknat
..?
Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman
أَلا
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ ( هود : ١٨).
2.ittaqillah
wahai zindiq, Abu Rozin Al – Uqaili Radhiyallahu ‘Anhu adalah
seorang shahabat
sangat lancang sekali lidahmu semoga Allah memberikan balasannya,
amien,
siapakah kamu sehingga kamu sehingga mencela seorang shahabat
Rasulallah
Salallahu ‘Alaihi Wasallam semua kitab – kitab tarjamah
menyebutkan bahwasanya
beliau Radhiyallahu ‘Anhu adalah shahabat di
Isti’ab, Thobaqat Ibnu Sa’ad,
Taqrib At – Tahzib, Al – Ishobah, Usud Al
– Ghobah, Tarekh Al – Kabir Lil bukhari,
Taqrib Al – Asma’ wa Lughoh Linawawi dan lainnya,
dan siapakah kamu sehingga mencela
orang yang ditazkiyah oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Sebelum
kita masuk kepermasalahan kita harus mengetahui dulu definisi dari adel
yang
adel itu salah satu syarat diterimannya seorang periwayat
A).Berkata
Imam Syafi’I Rahimahullah : “ kalau seandainya adel
itu orang yang tidak ada
dosanya maka kita tidak akan mendapatkan yang namanya adel, dan kalau
seandainya setiap orang yang berdosa disebut adel maka tidak ada orang
yang
dicerca ( maksudnya dalam periwayatannya –pent )tetapi adel
itu adalah orang
yang menjauhkan diri dari dosa – dosa besar, dan kebaikannya
lebih banyak dari
pada kejelekannya
Ar – Raudhoh (
11/225
)
B).Berkata
Imam Khotib Al – Baghdadi berkata Rahimahullah ( wafat 463 H
): “
menukilkan dari Al
– Qodhi Abu Bakar Bin
Thoyyib Rahimahullah ( wafat 403 H ) : “ adel yang dimaksud
di dalam sifat
orang yang bersaksi dan orang yang mengabarkan adalah adel yang kembali
kepada
kelurusan agamanya, dan selamatnya dia dari kefasikan, dan yang
semisalnya yang
telah disepakati bahwasanya itu adalah dari pembatal –
pembatal adel dari
perbuatan anggota tubuh dan hati yang dilarang darinya Khotib Al
– Baghdadi :
Al kifayah Fi Ilmi Ar – Riwayah ( hal 102 ).
C).Berkata
Imam Al – Hazimi Rahimahullah ( wafat 594 H ) : dan sifat
– sifat adel adalah
mengikuti perintah – perintah Allah Subhanahu Wata’ala, dan
berhenti dari
perbuatan yang telah dilarang perbuatanya, dan menjauhi perbuatan yang
keji
yang menjatuhkannya, dan selalu mencari – cari kebenaran
…,Syurut Al – A’immah
Al – Khomsah ( hal 55 )
D).Berkata
Ibnu Sholah Rahimahullah ( wafat 643 H ) : telah ijma jumhur ahli
hadits dan
fiqh bahwasanya disyaratkan bagi orang dijadikan bukti periwatannya dia
harus
adel dan menjaga ( hafalanya dan juga bukunya ) dengan apa –
apa yang
diriwayatkannya dan perinciannya adalah dia seorang yang muslim,
baligh, orang
yang berakal selamat dari sebab – sebab fisq dan menjaga
kewibawaan ‘Ulumu Al –
hadits ( hal 94 )
E).Berkata
Ibnu hajar Rahimahullah ( wafat 802 H ) : orang yang bisa mengendalikan
dirinya
untuk selalu berlaku takwa dan menjaga wibawa Nuzhah An –
Nadzor Bi Syarh
Nukhbat Al – Fikr ( hal 18 )
F).Berkata
Al – Hafidz As – Sakhowi Rahimahullah ( wafat 902 H
) : kita telah meneliti
sesungguhnya definisi – definisi ini seluruhnya kembali ke
satu makna
sesungguhnya adel itu adalah kelurusan agama seseorang dengan
mengerjakan
kewajiban dan meninggalkan apa – apa yang dilarang seperti
halnya kita telah
meneliti bahwasanya seluruh definisi tidak masuk didalam penjagaan (
hafalanya
dan bukunya ) dan hafalanya seperti syarat di dalam adel kecuali di
definisi
Ibnu Hazm Rahimahullah dan dari sini kita bisa membagi dua macam adel
1.adel
di dalam agamnya maksudnya adalah kelurusannya di dalam agamanya
2.adel
di dalam meriwayatkan yang dimaksud adalah hafalannya seorang periwayat
dan
penjagaanya apa – apa yang akan diriwayatkannya. dan yang
pertama adalah maksud
yang disebutkan para ahli hadits dan fiqh jika kata ini dimutlakan.
Dibawah
ini bukti adelnya shahabat dari Al
– Qur’an
a).
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ
شَهِيدًا
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلا لِنَعْلَمَ
مَنْ
يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ
لَكَبِيرَةً إِلا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ
لِيُضِيعَ
إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ ( البقرة : 143
).
Artinya : “
Dan demikian (pula) Kami
telah menjadikan kamu (umat
Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan)
manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
dan Kami
tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar
Kami
mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang
membelot.
dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi
orang-orang
yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan
menyia-nyiakan
imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
manusia”. (
Qs. Al – Baqarah : 143 ).
Dan sisi pendalilannya di
ayat ini adalah bahwasanya
arti kata وَسَطًا adalah
adil dan pilihan
dan karena mereka shahabat yang diajak bicara di dalam ayat secara
langsung.Tafsir At – Thobari ( 2/7 ),Jami’ Li
Ahkami Al – Qur’an ( 2/153 ) dan
Tafsir Ibnu Katsir ( 1/335 ).dan beberapa Ahli Ilmu telah menyebutkan
sesungguhnya lafadznya walaupun dia untuk umum tetapi yang di maksudkan
adalah
khusus, dan dikatakan : sesungguhnya ayat itu turunnya untuk shahabah
tanpa
yang lainnya. Al – Kifayah Lil Khotib ( hal 64 ).
b).Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ
لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا
لَهُمْ
مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (آل عمران : 110 ).
Artinya: “
Kalian adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah
dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman,
tentulah itu
lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan
kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik”.
( Qs. Ali ‘Imron :
110 ).
Dan sisi pendalilanya
bahwasannya ayat itu menetapkan
kebaikan yang mutlaq untuk ummat ini dari pada ummat – ummat
yang lain
sebelumnya dan pertama yang masuk dalam kebaikan yang lawan bicaranya
ayat ini
secara langsung ketika turunya Al – Qur’an adalah
para shahabat yang mulia
Radhiyallahu ‘Anhum dan itu adalah mengandung lurusnya mereka di dalam
seluruh
keadaannya yang sesuai, dan sangat jauh sekali apakah Allah mensifati
mereka sebaik
– baiknya ummat dan mereka bukan orang – orang yang
adel dan
lurus, dan apakah itu bukan kebaikan,
seperti tidak bolehnya Allah Subhanahu Wata’ala mengkabarkan bahwasanya
Dia
menjadikan mereka ummat yang adil atau jujur dan mereka tidak seperti
itu. Al –
Muwafaqat Li Syatibi ( 4/40 41 ).
c).Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا
وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ
وَرِزْقٌ
كَرِيمٌ (الأنفال : ٧٤).
Artinya : “
Dan orang-orang yang beriman dan
berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi
tempat
kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka
Itulah
orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan
rezki
(nikmat) yang mulia”. (
Qs.Al – Anfaal : 74 ).
Maka di ayat ini Allah
Subhanahu Wata’ala mensifati
Al – Muhajirin dan Al – Anshor dengan yang benar
– benar beriman dan
barangsiapa yang Allah Subhanahu Wata’ala
menjadi saksinya di dalam
persaksian ini maka dia telah mencapai derajat
adel yang paling tinggi.
d).Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ
الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي
تَحْتَهَا
الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(التوبة : ١٠٠ ).
Artinya : “
Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan
orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan
merekapun
ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir
sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya.
Itulah
kemenangan yang besar”.
( Qs. At – Taubah :
100 ).
Sisi pendalilannya
bahwasanya Allah Subhanahu
Wata’ala mengabarkan di dalm ayat itu dengan ridhoNya Dia kepada mereka
dan
Allah Subhanahu Wata’ala tidaklah menetapkan keridhoanNya kecuali orang
– orang
yang cocok mendapatkan ridhoNya, dan tidak ada orang yang sesuai
mendapatkannya
kecuali orang – orang yang lurus di dalam seluruh perkaranya
dan adil atau
jujur di dalam agamanya
e).Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
لَقَدْ
رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ
الشَّجَرَةِ
فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ
وَأَثَابَهُمْ
فَتْحًا قَرِيبًا ( الفتح : 18 ).
Artinya : “
Sesungguhnya Allah telah ridha
terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di
bawah
pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu
menurunkan
ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan
kemenangan yang
dekat (waktunya)”. (
Qs. Al – Fath : 18 ).
Dan dalil diayat ini
sangatlah jelas atas keadilannya
atau jujurnya shahabat yang mereka bersama Nabi Salallahu ‘Alaihi
Wasallam
ketika hari Hudaibiyyah dan sisi pendalilan ayat tentang adelnya
bahwasanya
Allah Subhanahu Wata’ala mengabarkan dengan ridhaNya Dia kepada mereka
dan
bersaksi atas keimanan mereka dan memberikan tazkiyyah kepada mereka
atas apa
yang ada dihati mereka dari kejujuran, menepati, patuh dan taat dan
tidak akan
keluar tazkiyyah yang besar dari Allah Subhanahu Wata’ala kecuali yang
telah
sampai puncak di dalam kejujurannya mempraktekan apa – apa
yang diperintahkan
Allah Subhanahu Wata’ala
f).Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ
مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ
رُكَّعًا
سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي
وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ
وَمَثَلُهُمْ
فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ
فَاسْتَوَى
عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ
اللَّهُ
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً
وَأَجْرًا
عَظِيمًا ( الفتح : 29 ).
Artinya : “
Muhammad itu adalah utusan Allah dan
orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang
kafir,
tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud
mencari
karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka
mereka
dari bekas sujud, Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
sifat-sifat
mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya
Maka tunas
itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak
Lurus di
atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena
Allah
hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan
orang-orang
mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal
yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.
( Qs. Al –
Fath : 29 ).
Maka sifat ini yang Allah
Subhanahu Wata’ala telah
memberikan sifat ini kepada mereka di dalam kitabNya dan ini adalah
pujian
Allah Subhanahu Wata’ala memuji kepadanya tidaklah terdetik keragu
– raguan
dihati tentang kelurusannya atau keadilannya,Tafsir Al –
Qurthubi ( 16/299 ).
Adapun
dalil dari
Sunnah tentang adelnya para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum sebagai berikut
A).Yang diriwayatkan Bukhari
(1/31) dan Muslim
( 3/1306 ) dari hadits Abu Bakrah Radhiyallahu ‘Anhu sesungguhnya Nabi
Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ ….ingatlah
agar yang hadir
menyampaikan yang tidak hadir”.
Sisi pendalilannya adalah
bahwasanya perkataan itu
diucapkan oleh Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam ditempat perkumpulan
shahabat
yang sangat besar
dihaji Wada’ dan
ini
termasuk dalil yang paling besar atas adelnya dan kejujuran para
shahabat,
sehingga Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam
meminta kepada mereka untuk
menyampaikan apa – apa yang mereka dengar
darinya kepada shahabat yang tidak hadir perkumpulan itu tanpa
pengecualian
seseorangpun.
B).Yang diriwayatkan Bukhari
(2/287 – 288 )dan
Muslim
( 4/1964 )dari hadits ‘Imron Bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhu
berkata, Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “
Sebaik – baiknya
ummatku adalah orang yang sezamanku ( shahabat Radhiyallahu ‘Anhum
-pent)
kemudian orang – orang yang setelahnya mereka (
Tabi’in Rahimahumullah -pent)
kemudian orang – orang yang setelahnya mereka (
Tabi’ut Tabi’in Rahimahumullah
-pent)”.
Dan sisi pendalilannya
bahwasanya shahabat adel
seluruhnya yang mana Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersaksi untuk
mereka
dengan kebaikan yang mutlaq.
C).Yang diriwayatkan Bukhari
( 2 / 292 )dari
Abu Sa’id Al – Khudri Radhiyallahu ‘Anhu berkata,
Rasulallah Salallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda : “
Janganlah kalian menghina shahabatku maka demi Dzat
yang jiwaku berada ditanganNya
,
sesungguhnya kalau salah satu dari kalian menginfaqkan seperti emas
yang
sebesar gunung tidaklah akan sampai satu mud ( jenis takaran yang
kurang lebih
6 ons – pent )dan tidak juga setengahnya “. (
maksudnya walaupun sebanyak
mana perbuatan kamu tidak akan menyamakan amalanya walaupun sebanyak
mud atau
setengah mud dari amal mereka ) Allahu Akbar
Sisi pendalilannya
sesungguhnya mensifati mereka
dengan tidak adil atau jujur apalagi menghinanya maka Rasulallah
Salallahu
‘Alaihi Wasallam telah melarang sebagian orang – orang yang
bertemu dengannya
dan menemaninya untuk membicarakan kehormatan orang yang mendahului
dikarenakan
dia menyaksikan waktu – waktu yang utama maka untuk orang
yang setelahnya lebih
utama lagi.dan masih banyak hadits lagi.
Dan
ijma telah
dinukilkan dari banyak ulama
a).Al – Khotib Al
– Baghdadi
berkata di dalam Al
– Kifayah ( hal 67
)setelah menyebutkan dalil dari Al – Qur’an dan
sunnah yang menunjukan tentang
adelnya shahabat, dan sesungguhnya mereka seluruhnya adel beliau
berkata : “ ini
adalah mazhabnya seluruh ulama dan ucapan orang yang dianggap sebagai
sebagai
ahli fiqh”.
b).Ibnu ‘Abdil
Bar berkata di dalam ‘Isti’ab (1/8 )
adapun para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum maka cukuplah bagi kami untuk
meneliti tentang keadaannya dikarenakan
adanya ijma’ orang – orang yang benar dari kaum
muslimin dan mereka adalah Ahlu
Sunnah Wal Jama’ah bahwasanya mereka Radhiyallahu ‘Anhum
seluruhnya adil atau
jujur maka wajib untuk berhenti ( menerima ) kalau disebutkan namanya
mereka
Radhiyallahu ‘Anhum.
c). Berkata Hafidz Ibnu
Hajar di dalam Ishobah ( 1/17
) Ahlu Sunnah sepakat bahwasanya seluruh shahabat Radhiyallahu ‘Anhum
adil atau
jujur tidak ada yang menyelisihinya kecuali sedikit saja dari ahli
bid’ah.dan
selainnya banyak lihatlah Fathul Mughits ( 3/112 ), Tadrib Ar- Rowi (
2/214 ),
Mustashfa kepunyaan Ghazali ( 1/164 ), Muqaddimah Ibnu Sholah ( hal 146
– 147
), Nawawi di Syarh Muslim (15/147 ), Taqrib ( 2/214 ), Ibnu Katsir di
dalam
Ba’its Al – Hatsits ( hal 181 – 182 ),
Syarh Al – alfiyyah kepunyaan ‘Iraqi (
3/13 – 14 ) dan Sakhowi di Fathul Mughits ( 3/108 ).
Dan tidak ada yang ragu
– ragu tentang adilnya para
shahabat setelah Al – Qur’an, Sunnah dan ijma
bersaksi untuk itu.
Ada beberapa kelompok yang
menyelisi alqur’an, Sunnah
dan ijma’ sebenarnya tidak cocok kelompok itu disebutkan
disini, tetapi
disebutkan karena untuk menerangkan kebathilan mereka dan jauhnya
mereka dengan
kebenaran.
A).Madzhab
Syi’ah Rofidhoh : mereka berkeyakinan
bahwasanya shahabat yang mulia Radhiyallahu ‘Anhum tidaklah adil atau
jujur
bahkan mereka berkeyakinan sesatnya seseorang yang tidak berkeyakinan
bahwasanya Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan nash bahwasanya
kekhilafahan ( pemimpinan ) setelahnya langsung adalah ‘Ali
Radhiyallahu ‘Anhu
dan mereka berkeyakinan sesungguhnya seluruh manusia berada di dalam
kehancuran
dan kemurtadan setelah wafatnya Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam
kecuali
beberapa orang saja yang terhitung dengan jari, dan sebab –
sebab mereka
dikafirkan adalah bahwasanya mereka Syi’ah mengaku
sesungguhnya mereka shahabat
Radhiyallahu ‘Anhum memberikan membai’at khilafah (
kepemimpinan )selain ‘Ali
Radhiyallahu ‘Anhu dan mereka tidak mengamalkan nashnya Nabi Salallahu
‘Alaihi
Wasallam,dan keyakinan mereka yang memenuhi buku – buku
mereka lihatlah bukunya
Ikhtishos Al – Mufid ( hal 6 ) dan buku Ar – Raudhoh dari Al
– Kafi kepunyaan
Al – Kalieni hadits no ( 356 )dan lainnya.
B).Madzhab
Mu’tazilah : adapun mu’tazilah telah
goncang pemikiran mereka di atas adilnya atau jujurnya para shahabat
Radhiyallahu ‘Anhum menjadi tiga kelompok
Yang pertama :
sesungguhnya seluruh shahabat
seluruhnya adil atau jujur kecuali yang berperang melawan
‘Ali Radhiyallahu
‘Anhu yang mana jumhur mereka membenarkan perbuatan ‘Ali
Radhiyallahu ‘Anhu di
dalam peperangannya dan menyalahkan orang yang memeranginya maka mereka
menyalahkan Tholhah, Zubair, ‘Aisyah dan Mu’awiyyah
Radhiyallahu ‘Anhum, lihatlah
Maqolat Al – Islamiyyah ( 142/2 ) dan Al – Farqu
baina Al – Firaq ( hal 120 –
121 ).
Yang kedua : perkataannya
Washil Bin ‘Atho’ dia
berpemahaman sesungguhnya kedua belah pihak dari shahabat di dalam
kejadian
perang jamal dan shoffain dalam keadaan salah tidak di tentukan siapa
yang
salah seperti Mutalaa’inain ( dua orang yang sedang baku
laknat – pent ), maka
sesungguhnya salah satu dari keduanya adalah orang yang Fasiq siapapun
dia, dan
derajat yang paling rendah adalah tidak diterimanya shahadat mereka
seperti
Mutalaa’inain ( dua orang yang baku laknat –pent
)itu tidak diterima
syahadatnya.maka dia telah berkata kalau ‘Aisyah,Ali dan
Tholhah Radhiyallahu
‘Anhum bersaksi kepadaku tentang keburukan orang yang berjualan ditoko
maka aku
tidak menghukumi syahadat mereka,Al – Milal Wa An –
Nihal kepunyaan Asy –
Syahristani ( 1/49 ) , Mizan Al – ‘Itidal kepunyaan
Adz – Dzahabi ( 4/ 329 )
dan Al – Farqu Baina Al – Firoq ( hal 120 ).
Yang ketiga : perkataanya
‘Amr Bin ‘Ubaid
sesungguhnya dia berkeyakinan bahwasanya kedua belah pihak yang
berperang di
kejadian jamal dan shaffain seluruhnya telah berbuat fasiq,dan berkata
aku
tidak akan menerima persaksian keseluruhan dari mereka entah itu dari
satu
pihak atau sebagian dari golongan ‘Ali dan sebagian lagi dari
golongan Jamal,
Al – Firaq Baina Al – Firoq ( hal 121 ) dan Milal
Wa An – Nihal ( 1/49 ).
Adapun dalil tentang
pelarangan menghina shahabat
Radhiyallahu ‘Anhu
telah datang isyarat
tentang keharamannya di dalam Al – Qur’an
1.Firman Allah Subhanahu
Wata’ala
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ
الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي
تَحْتَهَا
الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(التوبة : ١٠٠ ).
Artinya : “
Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan
orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan
merekapun
ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir
sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya.
Itulah
kemenangan yang besar”.
( Qs. At – Taubah :
100 ).
2. Firman Allah Subhanahu
Wata’ala
إِنَّ
الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي
الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا ( الأحزاب : 57 ).
Artinya : “
Sesungguhnya orang-orang yang
menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di
akhirat,
dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”.
( Qs. Al – Ahzab : 57
).
Sisi pendalilannya
bahwasanya menyakiti Rasul
Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengandung seluruh
yang menyakitinya entah dari perkataan dan perbuatan, dan barang siapa
yang
menghina dan mencerca kepadanya atau kepada agamanya dan yang mneyakiti
Salallahu ‘Alaihi Wasallam adalah menghina shahabatnya Radhiyallahu
‘Anhum dan
Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengabarkan bahwasanya yang
menyakitinya adalah perbuatan yang menyakiti shahabat dan barangsiapa
yang
menyakiti Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam maka dia telah
menyakiti Allah
Subhanahu Wata’ala Al – Musnad (4/87 ) dan Taisir Al
– Karim Ar – Rahman ( 6/
121 ).
3.Firman Allah Subhanahu
Wata’ala
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا
وَإِثْمًا مُبِينًا (الأحزاب : ٥٨ ).
Artinya : “
Dan orang-orang yang menyakiti
orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka
perbuat, Maka
Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang
nyata”. (
Qs.
Al – Ahzab : 58 ).
Sisi pendalilannya jelas
bahwasanya yang seperti ini
dilarang menyadarkan perkataan kepada orang mu’min dan
mu’minat maka shahabat
lebih utama dari itu.
Adapun dari Sunnah
tentang pelarangan menghina
shahabat
- Yang diriwayatkan Bukhari
( 2 / 292 )dari Abu Sa’id Al – Khudri Radhiyallahu
‘Anhu berkata, Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “
Janganlah kalian menghina shahabatku maka demi Dzat yang jiwaku berada
ditanganNya
, sesungguhnya kalau
salah satu dari kalian menginfaqkan seperti emas yang sebesar gunung
tidaklah akan sampai satu mud ( jenis takaran yang kurang lebih 6 ons
– pent )dan tidak juga setengahnya “. (
maksudnya walaupun sebanyak mana perbuatan kamu tidak akan menyamakan
amalanya walaupun sebanyak mud atau setengah mud dari amal mereka ) - dan diriwayatkan oleh Al
– Hafidz dengan sanadnya ke A’isyah Radhiyallahu
‘Anha berkata : Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“ janganlah kalian mencerca shahabatku, Allah Subhanahu
Wata’ala melaknat orang yang mencerca shahabatku”
.dikeluarkan oleh Al – Haitsami di Majma’
Zawa’id (10/21 )dan periwayatnya adalah orang –
orang yang shohih. - Dan diriwayatkan juga
dengan isnadnya kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma Rasulallahu
Salallahu ‘Alaihi Wasallam besabda : “
Barangsiapa yang mencerca shahabatku maka baginya laknat Allah
Subhanahu Wata’ala, para Malaikat dan manusia seluruhnya”. Dikeluarkan
oleh As – Suyuti di Al – Jami’I As
– Shogir, dan di hasankan oleh Syaikh Albani di dalam Shohih
Al – Jami’. - Dan diriwayatkan oleh Ath
– Thobroni dari hadits Abdullah Ibni Mas’ud
Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda
: “ Jika di sebutkan
para shahabatku maka tahanlah ( maksudnya dari mencercanya)”.
Majma’ Zawa’id ( 7/202 ).dan dishohihkan oleh
Syaikh Albani di Shohih Jami’ .dan Imam Adz
–Dzahabi dosa – dosa yang digolongkan menjadi dosa
besar di dalam kitabnya Al – Kaba’ir ( hal 233
– 237 ). Dan beliau menghitung pencercaan kepada shahabat
sebagai kaba’ir.
Dari perkataan ulama
– ulama salaf di
dalam pengharamannya mencerca shahabat, sesungguhnya nash –
nash yang ada dari
ummat ini dan para imam – imamnya dari shahabat dan juga yang
datang setelahnya
dari At – Tabi’in yang mengikutinya dalam kebaikan
yang mengandung dengan
pengharaman mencerca shahabat dan yang juga membela mereka banyak
sekali, dan
bermacam – macam di dalam menghinakannya dan akibat dari
orang yang mencerca
kepada orang – orang yang patuh dan juga pilihan maka dari
itu adalah
1.Ibnu Al –
Atsir di dalam Jami’ Al – Usul
( 9/408 – 409 ) dan dari Rozin dari hadits Jabir Bin Abdillah
Radhiyallahu
‘Anhuma berkata : dikatakan kepada A’isyah Radhiyallahu ‘Anha
sesungguhnya
seseorang mencerca para shahabat Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam sampai
Abubakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhu mak Dia Berkata : “
Dan apa yang kamu
mau dari ini ? terputusnya amalan – amalan dari mereka maka
Allah Subhanahu
Wata’ala suka agar tidak putus pula pahala – pahala
mereka”.
2.dan di riwayatkan oleh
Ibnu Bathoh di
dalam Syarh Al – Ibanah ( hal 119 ) dengan sanad yang shahih
dari Ibnu Abbas
Radhiyallahu ‘Anhuma berkata : “
Janganlah kalian mencerca para shahabat
Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam maka sungguh kedudukan salah satu
dari
mereka sebentar ( waktu yang sedikit – pent )bersama Nabi Salallahu
‘Alaihi
Wasallam lebih baik dari pada amal – amal kalian selama 40
tahun”.
4.diriwayatkan dari
Muhammad Bin Abdil
Wahid Al – Maqdisi dengan isnadnya kepada Sa’id Bin
Abi Abza Radhiyallahu
‘Anhu
berkata : aku berkata kepada
bapakku : bagaimana menurutmu tentang seorang pria yang mencerca
Abubakar
Radhiyallahu ‘Anhu ? beliau berkata : dibunuh, aku berkata : mencerca
Umar
Radhiyallahu ‘Anhu ?beliau berkata : dibunuh. Tahdzib At –
Tahdzib ( 6/132 –
133 ).
5.Berkata Malik Bin Anas
Rahimahullah : “
Orang yang mencerca para shahabat RAsulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam
dia
tidak mempunyai bagian di dalam Islam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( hal
162 ).
6.Berkata Abdurrahman Bin
‘Amr Al –
Auza’I Rahimahullah : “ Barangsiapa yang mencerca
Abubakar As – Siddiq Radhiyallahu
‘Anhu maka dia telah murtad dan dibolehkan darahnya Syarh Ibanah Li
Ibni Bathah
( hal 162 ).
Hukum
bagi orang yang mencerca para
shahabat Ahlul ilmi berselisih di dalam
menghukumi dan akibat bagi orang yang mencerca shahabat
1.Dari
Ahlil Ilmi ada yang berpendapat
kafirnya orang yang mencerca atau mencaci
para shahabat dan mencerca di
dalam adelnya dan jelas akan kebenciannya
terhadap mereka, dan ini ini sifatnya maka telah dibolehkan darahnya
dan di
halalkan menbunuhnya, sampai dia bertaubat dari itu dan mengasihi para
shahabat
itu.dan yang berpendapat seperti ini
a).Abdurrahman Bin Abza
Shahabat, seperti
di dalam kitab dilarangnya mencerca para shahabat ( hal 23 ).
b).Abdurrahman Bin
‘Amr Al – ‘Auza’I,
seperti di dalam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah (
hal 162 ).
c).Abu Bakar Bin
‘Ayyasy, seperti di
dalam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( hal 160 ).
d).Sufyan Bin
‘Uyainah seperti di dalam
kitab dilarangnya mencerca para shahabat ( hal 24 – 25 ).
e).Muhammad Bin Yusuf Al
– Firyabi,
seperti di dalam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( hal 160 ).
f).Bisyer Bin Al
– Harist Al – Marwazi,
seperti di dalam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( hal 162 ).
g).Muhammad Bin Basyar Al
‘Abdi, seperti
di dalam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( hal 160 ).
Dan selainya sangatlah
banyak,dan mereka
para A’immah dengan jelas mengkafirkan orang yang mencerca
para shahabat
Radhiyallahu ‘Anhu dan sebagian dengan jelas setelah menhukumi dengan
kafir
bahwasanya akibatnya juga dibunuh seperti pendapatnya sebagian ulama
Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan
Dhohiriyyah.
2.Ulama yang berpendapat
bahwasanya
mencerca shahabat tidak di kafirkan tetapi di katakan bahwa dia fasiq
dan dia
adalah sesat dan tidak dihukum hukum bunuh tetapi cukuplah diberi adab
kepadanya dan teguran yang keras sampai dia kembali dari perbuatan dosa
ini
yang ini adalah perbuatan dosa besar dan perbuatan keji, kalau dia
belum
kembali ulangi lagi tegurannya yang keras sampai Nampak taubatnya dan
berpendapat seperti itu dari para imam – imam adalah
a).Umar Bin Abdil Aziz
seperti di As -
Shorim Al – Maslul ( hal 569 ).
b).’Ashim Al
– Ahwal, seperti yang
disebutkan Ibnu Taimiyyah di Shorim Al – Maslul ( hal 569 ).
c).Imam Malik, seperti di
As – Syifa’ (
2/267 ).
d).Ishaq Bin Rahawaih,
sperti di Shorim
Al – Maslul ( hal 568 ).
Dan masih banyak lagi
dari A’immah, dan
nukilan ini menerangkan beberapa kelompok dari Ahli Ilmi berpendapat
bahwasanya
orang yang mencerca para shahabat Radhiyallahu ‘Anhu fasiq dan
mubtadi’
bukanlah kafir, maka wajib atas penguasa untuk menegurnya teguran yang
keras
dan tidak sampai membunuhnya.dan yang Rojih yang benar adalah
bahwasanya orang
yang menghina para shahabat tidaklah dikafirkan, tetapi ini tidaklah
secara
mutlaq, tetapi disyaratkan tidak terbenturnya dengan nash
– nash yang jelas dari Al – Qur’an dan
juga Sunnah dan tidak menginkari apa – apa yang sudah
diketahui di dalam agama
ini secara darurat, dan dengan ini dibawanya pendapat yang tidak
mengkafirkannya secara mutlaq Wallahu ‘Alam.
3.
ada pun perkataan wahai abu saraf : para ulama Ahli jarhi wa
ta’dil dan mereka
menegaskan bahwa dia tidak mengerti apa-apa?! Ibnu Abdil Barr berkata:
وليس
بشئ.
“Ia
bukan apa-apa.”
Maka
kita menjawab semoga Allah melipat lidahmu, amien. para
ulama jarh ta’dil yang mana yang menjarh
( mencela ) shahabat Abu Rozin Al – ‘ Uqoili
Radhiyallahu ‘Anhu, coba beritahukan
kepada ku asalkan dia bukan dari orang – orang
syi’ah seperti buku yang kamu
nukilkan tentang berselisihnya shahabat di dalam masalah keutamaan dan
khilafah
)dan mu’tazilah, dan kamu pastinyapun tidak bisa
memberikannya kepada
kami?karena kamu tuti ( tukang tipu ) pendusta besar.
Adapun
perkataanya Ibnu Abdil Bar Rahimahullah
Ada dua jawaban
a).kamu
pendusta : karena beberapa indikasi
pertama
: kamu menyebutkan ini tanpa di beritahu rujukannya itu dikarenakan
kamu takut
akan terbuka borokmu.
Kedua
: kamu menyebutkan ini yang menguntungkankan kamu sedang nash yang lain
kamu
sembunyikan seperti yang kamu lakukan kepada Syekh Islam terdahulu.
Ketiga
: kamu menghilangkan lafadz hadza.di dalam kata yang disebutkan Ibnu
Abdil
Barr, وليس
بشئ.
b).kamu
bodoh :
pertama
: kamu salah memahami kontek nash ini, sesungguhnya yang dimaksud Ibnu
Abdil
Barr bukanlah mengenai Abu Rozin Al ‘ Uqoili, tetapi
perselisihan yang yang
diselisihkan dinama dia,lihatlah nashnya yang berwarna merah berikut
ini
beserta terjemahanya
لقيط بن صبرة الصحابى، رضى الله عنه((1)):
مذكور فى صفة الوضوء من المختصر والمهذب،
وصبرة بفتح
الصاد وكسر الباء، ويجوز إسكان الباء مع فتح الصاد وكسرها، وهو أبو رزين،
ويقال:
أبو عاصم لقيط بن عامر بن صبرة بن عبد الله بن المنتفق بن عامر بن عقيل
العقيلى
الحجازى الطائفى، هكذا نسبه الجمهور.
وقال بعضهم: لقيط بن عامر غير لقيط بن
صبرة.
قال ابن عبد البر وغيره: وليس هذا بشىء. قال عبد الغنى بن سعيد المصرى: أبو رزين
العقيلى لقيط
بن عامر هو لقيط ابن صبرة، وقيل: هو غيره، وليس بصحيح.
وقال ابن عبد البر: يقال فيه: لقيط بن
صبرة، ولقيط بن
عامر، ولقيط بن المنتفق. وقال الترمذى فى كتاب العلل: سمعت البخارى يقول:
أبو رزين
العقيلى لقيط بن عامر، هو عندى لقيط بن صبرة.
Imam
Nawawi berkata : Laqieth Bin Shobiroh Ash – Shahabi Radhiyallahu
‘Anhu, telah
disebutkan di dalam sifat wudhu yang telah diringkas dan telah di
saring, dan
Shobiroh dengan fathah shodnya dan kasroh ba’nya, dan boleh
ba’nya disukunkan
dengan kasroh shod dan kasrohnya,dan dia adalah Abu Rozin, dan
dikatakan Abu
‘Ashim Laqieth Bin ‘Amir Bin Shobiroh Bin Abdillah
Al – Muntafiq Bin ‘Amir Bin
‘Aqiel Al – ‘Uqoili Al – Hijazi
Ath – tho’ifi,demikianlah yang Jumhur
menyandarkan keturunannya.
dan
sebagian dari mereka berkata, Laqieth Bin ‘Amir bukanlah
Laqieth Bin Shobiroh.Ibnu
Abdil Barr dan yang lainnya berkata ini ( perselisihan nama ini
)bukanlah apa –
apa.Abdul
Ghoni Bin Sa’id Al – Misri : Abu Rozin Al
– ‘Uqoili,Laqieth Bin
‘Amir dia adalah Laqieth Bin Shobiroh dan dikatakan dia
adalah lain dan ini
tidak benar.dan Ibnu Abdil Barr berkata : dikatakan di dalamnya ( nama
Abu
Rozin-pent )Laqieth Bin Shobiroh, dan Laqieth Bin ‘Amir, dan
Laqieth Al –
Muntafiq, dan berkata Tirmidzi di Al – ‘Ilal, Aku
mendengar Bukhori berkata Abu
Rozin Al – ‘Uqoili Laqieth Bin ‘Amir
menurutku dia adalah Laqieth Bin Shobiroh.(
Tahdzib Al – Asma Wa Lughot kepunyaan Abu Zakariya Muhyi Ad
– Din An – Nawawi [
2/84 ]).
Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman
وَمَنْ أَظْلَمُ
مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ
عَمَّا
تَعْمَلُونَ ( البقرة :140 ).
Artinya
:
“ Dan siapakah yang
paling dzolim dari pada orang yang menyembunyikan
persaksiannya dari Allah,dan Allah tidaklah lengah dengan apa
– apa yang kalian
perbuat”. (
Qs. Al – Baqarah : 140 ).
Abu
safaly
bertanya :
2).Bagaimana
kalian meyakini apa yang dikatakan dalam riwayat si Arab Baduwi ini
yang
meniscayakan Allah itu butuh kepada tempat dan lebih konyol lagi adalah
bahwa
awan/’Amâ’ sudah ada bersama Allah atau
bisa jadi malah sudah ada sebelum
Allah!! Sebab semua itu telah ada sebelum Allah menciptakan
ciptaanNya!! Lalu
siapa yang menciptakan ‘Amâ’ tersebut?
Maka kita
menjawab semoga Allah Subhanu
Wata’ala membalas abu safaly, amien,rincian jawaban ini sudah
ada dijawaban
pertanyaan no satu, ringkasnya jika ‘Ama, tersebut di artikan
awan maka artinya
menyelisihi hadits shohih tetapi kita menetapkan yang artinya sama
dengan
hadits shahih ‘ArsyNya di atas air,sesungguhnya arti ini sama
dengan yang ada
dihadits shahih dari Imron Bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhu di
shahih
Bukhari,adapun jika ‘Ama diartikan tidak ada sesuatu yang
bersamaNya ini tidak
ada perselisihan makna seluruhnya antar hadits Abu Rozin Radhiyallahu
‘Anhu dan
hadits ‘Imron Bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhu,adapun
yang mengatakan Allah butuh
tempat kamu sendiri yang berbicara itu,memang kotor otakmu,innalillah
perkara
yang seperti ini adalah perkara yang sangat besar ini permasalahan
mensifati
dzat Rabb bias – bisanya zindiq satu ini,mengambil ibarat
bisa jadi malah ada sebelum
Allah, dari mana zindiq ini ngambil Aqidah istiqfarlah, masa
permasalahan yang
besar begini pake kata bisa jadi !!
Abu safaly
bertanya :
3).Apa itu
artinya kalian meyakini ada
Dzat yang Qadîm selain Allah SWT?!
Maka kita
menjawab semoga Allah melipat
lidah kamu abu safaly
Maha suci
Allah atas apa yang kamu
sebutkan, kalau kamu belum jelas buka ( Qs. Al – Hadid : 3
).mungkin kamu belum
belajar,permasalahan yang seperti ini sudah diketahui oleh anak yang
baru
belajar bahkan orang awwam pun,nasehat untukmu tinggalkanlah ilmu
kalam,dan
berkata Abu Yusuf :”
Barangsiapa yang mencari ilmu dengan ilmu kalam maka
dia akan menjadi zindiq”.
Abu safaly
bertanya :
4).Apakah
kalian percaya kepada seorang
alim atau berakal seperti Albâni setelah
mendha’ifkan hadis itu ia tetap saja
membangun keyakinannya di atasnya?!
Maka kita
menjawab semoga melindungi kita
dari fitnah, amien
Ya kami
percaya kepada orang ‘Alim seperti
Syaikh Albani Rahimahullah seperti yang dianjurkan Rasulallah
Shalallahu
‘Alaihi Wasallam,kalau kita tidak percaya beliau maka ini
adalah zaman sebelum
datangnya hari kiamat dan percaya sama tuti ( tukang tipu ) seperti
kamu juga
tandanya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata : “
Akan datang zaman
sebelum datang hari kiamat tahun – tahun penipuan, orang yang
amanah di
dustakan, dan orang yang berdusta di benarkan, dan berbicaranya
Ruwaibidhoh,dikatakan siapakah Ruwabidhoh itu, dia berkata orang bodoh
yang
berbicara di dalam permasalahan umum”.
( HR.Ibnu Majah,Musnad Imam
Ahmad
dan lainnya ).
Adapun
keyakinan yang diyakini Syaikh
Albani yaitu yang tidak menyelisi hadits shahih yaitu Allah di atas
ArsyNya dan
Arsynya di atas air seperti hadits Imron Bin Hushain Radhiyallahu
‘Anhu telah
lalu dipertanyaan yang pertama dan yang kedua dengarkanlah kaset Syekh
Albani
di Silsilah Huda Wa Nur tentang diskusinya beliau dengan muridnya Hasan
As –
Segaf,adapun buku yang kamu rujuk Mukhtasor Al – Uluw saya
tidak mendapatkannya
dibuku saya dan perlu diketahui cetakan bukunya Syaikh Albani Cuma
satu, yang
kamu pakai cetakan apa?
Dan
akhirnya semoga bermanfaat tulisan ini.
Akhukum Abu
Bakr Fahmi Abu Bakar Jawwas
Yang mengharapkan maaf Rabbnya
Seyoon
Hadramaut 12 Dzulqo’dah 1430 / 31
Oktober 2009
Komentar Terakhir