catatan santri

Just another WordPress.com weblog

terbukanya borok – borok abu safaly Oktober 31, 2009

بسم
الله الرحمن الرحيم

 

PEMBELAAN
TERHADAP
ULAMA AHLU SUNNAH

 

Alhamdulillah
dengan selesainya bantahan yang pertama kritikan abu salafy ( Abu
safaly ) terhadap
ulama Ahlu Sunnah ( Syaikh Bin baz ) Rahimahullah, walaupun ditengah
– tengah
kesibukan thalibul ilmi yang mengharuskan ana untuk membuka syubhat si
fasiq
kecil satu ini,yang mana permusuhannya terhadap shahabat dan ulama
– ulama
Sunnah bukanlah dilakukannya kecuali untuk permusuhan dia dengan yang
di
bawanya yaitu Al – Qur’an dan Sunnah yang mereka
itu adalah pewaris 
para Nabi Sholawatullahi
‘Alaihim dan dengan
wafatnya mereka – mereka itu adalah hilangnya ilmu seperti di
hadits Abdullah
Bin ‘Amr Bin ‘Ash berkata Rasulallah Salallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda :
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak mengambil ilmu langsung
dari dada
hamba – hambanya tetapi mengambil ilmu dengan wafat ulama
sampai jika tidak ada
sisa dari seseorang yang berilmu, manusia menjadikan pemimpin
– pemimpin dari
orang – orang bodoh maka mereka bertanya dan mereka berfatwa
dengan tanpa ilmu,
maka mereka tersesat dan menyesatkan”.

( HR. Shohihain dan lainnya ).

Wahai
pemuda muslimin berfikirlah dengan jernih janganlah cuma karena tidak
senang
lalu kalian menolak kebenaran,dan juga karena permusuhan terhadap Ahlu
Sunnah yang
mereka selalu menasehati kalian agar berbuat baik dan menjauhkan diri
dari yang
keji, yang dengan itulah manusia akan beruntung seperti disurat Al
– ‘Ashar yang
mana mereka berbuat ini dalam rangka menjalankan hadits yang
diriwayatkan oleh Abu
Ruqoyyah Tamim Bin Aus Ad – Dari Radhiyallahu ‘Anhu
bahwasanya Rasulallah
Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
Agama itu adalah nasehat, kami
berkata : untuk siapa wahai Rasulallah ?untuk Allah Subhanahu
Wata’ala, Rasul –
RasulNya, Kitab – KitabNya, pemimpim kaum muslimin dan
keumuman kaum muslimin”.

( HR.Muslim,Abu Dawud, dan
lainnya ).
kalian tidak takut
akan firman
Allah Subhanahu Wata’ala

 

وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا
فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ
ثُمَّ لا
تُنْصَرُونَ ( هود : 113 ).

 

Artinya :
Dan janganlah kalian cenderung kepada
orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan
sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada
Allah,
kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan”.

( Qs. Hud : 113 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman di dalam
kitabNya.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ ( التوبة :١١٩ ).

 

Artinya : ”Wahai
orang-orang yang beriman
bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang
jujur ”.

( Qs. At – Taubah :
119 ).

Yang mana nantinya
kejujuran itu sangatlah bermanfaat
nanti di hari kiamat seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala.

 

قَالَ
اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ
تَجْرِي
مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (المائدة : 119 ).

 

Artinya :
Allah berfirman: “Ini adalah
suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran
mereka. bagi
mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya
selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya Itulah keberuntungan yang
paling
besar”.
(
Qs. Al – Ma’idah : 119 ).
       

Dan
janganlah kalian jadikan agama ini permainan, sehingga mengedepankan
hawa nafsu
kalian

Dan
Allah Subhanahu Wata’ala

 

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا
وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ
كَمَا
نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (
الأعراف
: 51 ).

 

Artinya :
(yaitu) orang-orang yang menjadikan
agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia
telah
menipu mereka.” Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka
sebagaimana mereka melupakan Pertemuan mereka dengan hari ini, dan
(sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami”.

 (
Qs. Al – ‘Araaf : 51 ).

Dan
Allah Subhanahu Wata’ala

 

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ
فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ
الْعَذَابِ
الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (
) وَنَجَّيْنَا
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ( فصلت : 18 – 17 ).

 

Artinya :
Dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka
telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan)
daripada
petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan
apa yang
telah mereka kerjakan. ( # ) Dan Kami selamatkan orang-orang yang
beriman dan
mereka adalah orang-orang yang bertakwa”.

( Qs. Fushilat : 17 -18 ).          

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا
يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
وَكَذَلِكَ
نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ (

الأعراف : 40 ).

 

Artinya : “Sesungguhnya
orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya,
sekali-kali
tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula)
mereka
masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum Demikianlah Kami memberi
pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”.

( Qs. Al –
‘Araaf
: 40 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

                                                                     

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي
آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ
فَكَانَ مِنَ
الْغَاوِينَ ( ) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ
إِلَى
الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ
عَلَيْهِ
يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ
كَذَّبُوا
بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ( الأعراف :
176 –
175 ).

 

Artinya : “Dan
bacakanlah kepada mereka berita
orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan
tentang isi
Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu
Dia
diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk
orang-orang yang sesat.

( # ) Dan kalau Kami
menghendaki, Sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung
kepada dunia
dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti
anjing
jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya Dia
mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang
yang
mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka)
kisah-kisah itu
agar mereka berfikir “.
(
Qs. Al
– ‘Araaf : 175 – 176 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

                                                                                                        

وَقَالَ
الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ
مَهْجُورًا ( ) وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى
بِرَبِّكَ
هَادِيًا وَنَصِيرًا ( ) وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ
عَلَيْهِ
الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ
وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا ( ) وَلا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ
بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا ( الفرقان : 33 – 30 ).

 

Artinya : “Berkatalah
Rasul: “wahai Rabbku ,
Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak
diacuhkan”
(#) Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh
dari
orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk
dan
penolong.(#) Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu
tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami
perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan
benar).(#) Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu
(membawa)sesuatu yang
ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang
paling baik
penjelasannya”.
(
Qs. Al – Furqon : 30 – 33 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

 قَالَ
ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ
قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ
أُمَّةٌ
لَعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ
أُخْرَاهُمْ
لأولاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ
النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لا تَعْلَمُونَ (
 الأعراف
: 38 ).

 

Artinya :
Allah berfirman: “Masuklah kamu
sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah
terdahulu
sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), Dia mengutuk
kawannya
(menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah
orang-orang
yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk
terdahulu:
“Wahai Rabb Kami, mereka telah menyesatkan Kami, sebab itu datangkanlah
kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah
berfirman:
“Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu
tidak Mengetahui”.
(
Qs. Al – ‘Araaf ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ
قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (الصف
:٥).

 

Artinya :
Maka tatkala mereka berpaling (dari
kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah tidak memberi
petunjuk
kepada kaum yang fasik”.

( Qs. As – Shaff : 5
).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

                                                                                                                                              

وَمَنْ
أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
أَعْمَى ( ) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا
( ) قَالَ
كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (
طه :
126 – 124 ).

 

Artinya :
Dan Barangsiapa berpaling dari
peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan
Kami akan
menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”.(#) Berkatalah
ia:
“Wahai Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam Keadaan buta,
Padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”(#) Allah berfirman:
“Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu
melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”.

(
Qs. Thaha : 124 – 126 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ
اللَّهُ
مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ ( البقرة :
١٠ ).

 

Artinya :
Dalam hati mereka ada penyakit lalu
ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih,
disebabkan mereka
berdusta”.
(
Qs. Al – Baqarah 
:
10 ).

                             

                                                                                  

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ
هَوَاهُ
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ
وَجَعَلَ
عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا
تَذَكَّرُونَ ( الجاثية : 23 ).

 

Artinya :
Maka pernahkah kamu melihat orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai rabbnya dan Allah membiarkannya
berdasarkan
ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan
meletakkan
tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya
petunjuk
sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran?.”
(
Qs. Al – Jatsiyyah : 23 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ
الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي
الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ ( النور : ١٩ ).

 

Artinya
: ”Sesungguhnya orang-orang senang  agar
(berita) perbuatan yang Amat keji itu
tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang
pedih di
dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak
mengetahui.”

( Qs. An – Nur : 19 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

أَمْ
حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ
أَضْغَانَهُمْ (محمد :٢٩ ).

 

Artinya : “
Atau Apakah orang-orang yang ada penyakit
dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan Menampakkan kedengkian
mereka ? (
Qs. Muhammad : 29 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

وَنَادَى أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ
النَّارِ أَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ
وَجَدْتُمْ
مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا قَالُوا نَعَمْ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ
بَيْنَهُمْ أَنْ
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (الأعراف : ٤٤ ).

 

Artinya :
Dan penghuni-penghuni surga berseru
kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya Kami
benar
– benar telah mendapatkan apa yang Rabb Kami telah janjikan
kepada kami. Maka
Apakah kamu benar – benar telah mendapatkan apa yang telah
Rabb kalian janjikan
(azab) ?” mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. kemudian
seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu:
“Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.”
(
Qs. Al
- A’araaf : 44 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

يَا
أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ
التَّوْرَاةُ وَالإنْجِيلُ إِلا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ ( ) هَا
أَنْتُمْ هَؤُلاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ
تُحَاجُّونَ
فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا
تَعْلَمُونَ (
آل عمران : 66-65 ).

 

Artinya :
Wahai ahli Kitab, mengapa kamu bantah
membantah tentang hal Ibrahim, Padahal Taurat dan Injil tidak
diturunkan
melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?(#) Beginilah
kamu, kamu
ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui[199],
Maka
kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui[200]?
Allah
mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.

( Qs. Ali – Imran :
65 – 66 ).

Ketahuilah wahai zindiq
janji Allah Subhanahu
Wata’ala pasti nyata dan Allah Subhanahu Wata’ala akan menghinakan
orang –
orang yang bathil baik itu di dahulukan kehinaannya di dunia maupun di
akhirkan
kehinaan tersebut di akherat nanti

Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman di dalam kitabNya
yang mulia

 

وَلا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلا عَمَّا
يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ
الأبْصَارُ (

)
مُهْطِعِينَ
مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ
وَأَفْئِدَتُهُمْ
هَوَاءٌ (
)
وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ
يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا
إِلَى
أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ
تَكُونُوا
أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ (
)
وَسَكَنْتُمْ
فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ
فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الأمْثَالَ (
)
وَقَدْ
مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ
لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ (
)
فَلا
تَحْسَبَنَّ اللَّهَ مُخْلِفَ وَعْدِهِ رُسُلَهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ
ذُو
انْتِقَامٍ (

)
يَوْمَ تُبَدَّلُ
الأرْضُ غَيْرَ الأرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ
الْقَهَّارِ (

)
وَتَرَى
الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ مُقَرَّنِينَ فِي الأصْفَادِ (
)
سَرَابِيلُهُمْ
مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى وُجُوهَهُمُ النَّارُ (
)
لِيَجْزِيَ
اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (
)
هَذَا بَلاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا
أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الألْبَابِ (
 ابراهيم
: 52 -42 ).

 

Artinya :
Dan janganlah sekali-kali kamu
(Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh
orang-orang
yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai
hari yang
pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,(#) Mereka datang
bergegas-gegas
memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka
tidak
berkedip-kedip dan hati mereka kosong.(#) Dan berikanlah peringatan
kepada
manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka,
Maka
berkatalah orang-orang yang zalim: “Wahai Rabb Kami, beri tangguhlah
Kami
(kembalikanlah Kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit,
niscaya Kami
akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul”. (kepada
mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia)
bahwa
sekali-kali kamu tidak akan binasa?(#) Dan kamu telah berdiam di
tempat-tempat
kediaman orang-orang yang Menganiaya diri mereka sendiri, dan telah
nyata
bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami
berikan
kepadamu beberapa perumpamaan”.(#) Dan sungguh mereka telah membuat
makar
Padahal di sisi Allah-lah (yang mengembalikan) makar mereka itu.
walaupun makar
mereka itu (amat besar) yang membuat gunung – gunung itu
lenyap.(#) Karena itu
janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya
kepada
rasul-raaul-Nya; Sesungguhnya Allah Maha perkasa, lagi mempunyai
pembalasan (#)
(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan
(demikian
pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul
menghadap ke
hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.(#) Dan kamu akan melihat
orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan
belenggu.(#)
Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh
api
neraka,(#) Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang
terhadap apa
yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya.(#) (Al
Quran) ini
adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi
peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia
adalah Rabb
yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil
pelajaran”.
(
Qs. Ibrohim :
42
– 52 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ
بِالْمُفْسِدِينَ ( آل عمران : 63 ).

 

Artinya :
Maka jika mereka berpaling (dari
kebenaran), Maka sesunguhnya Allah Maha mengetahui orang-orang yang
berbuat
kerusakan.”
(
Qs. Ali – ‘Imran : 63 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

               

فَإِنْ
تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ( آل عمران : 64  ).

 

Arttinya :
maka jika mereka berpaling Maka
Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang
yang
berserah diri (kepada Allah)”.
(
Qs. Ali – ‘Imron :
 64
).

“ Semoga Allah
merahmati orang yang mengetahui kemampuan
dirinya.”
perkataan ini sangat
cocok
untukmu wahai zindiq kecil,karena beberapa perkara :

(1).abu salafy berkata (
sawwadallahu wajhah ): Di
antara perkara konyol kaum Wahhâbi….

 

Maka kita jawab semoga
Allah Subhanahu Wata’ala memberikan
hidayah kepada kita semua, amien. di dalam penyandaran sidungu tentang
nama
Wahabi untuk Ahlu Sunnah itu bukanlah suatu ejekan, bahkan di dalam
penamaan
itu malah merugikan kamu, padahal dia berikan nama itu untuk mengejek
Ahlu
Sunnah kedua menghinakan kamu karena taqlid butamu kepada
pendahulumu.tidak ada
kegembiraanmu disini,

1.Dengan nama Wahhabi
yang disandarkan kepada Ahlu
Sunnah itu adalah suatu ni’mat buat Ahlu Sunnah yang mana
Wahhab adalah salah
satu nama dari nama – nama Allah

Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman

 

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ
إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ
الْوَهَّابُ ( آل
عمران : ٨ ).

 

Artinya : “Wahai
Rabb Kami, janganlah Engkau
jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk
kepada
Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena
Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”.

( Qs. Ali –
‘Imran
: 8 ).

gimana tidak suatu
keni’matan di sandarkan kepada Al
- Kholik semesta alam ini, dan perlu kamu ingat Wahai zindiq
sesungguhnya
kelompok Allah adalah orang – orang yang mendapatkan
kemenangan seperti  yang
difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala di
Kitabnya

 

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ ( المائدة
: 56 ).

 

Artinya :
Dan Barangsiapa yang menjadikan Allah,
Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka
Sesungguhnya
kelompok Allah itulah yang pasti menang”.

( Qs. Al –
Ma’idah : 56 ).

Dan Allah berfirman di
dalam Kitabnya

 

لا
تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ
مَنْ
حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ
أَوْ إِخْوَانَهُمْ
أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ
وَأَيَّدَهُمْ
بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الأنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ
حِزْبُ
اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ( المجادلة : 22 ).

 

Artinya :
Kamu tak akan mendapati kaum yang
beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan
orang-orang
yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu
bapak-bapak, atau
anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. mereka Itulah
orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan
menguatkan
mereka dengan ( bukti – bukti,cahaya dan petunjuk ) yang
datang daripada-Nya.
dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka,
dan
merekapun ridho kepadaNya ( dengan dimasukannya mereka kesurga-pent ).
mereka
Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan Allah
itu adalah
golongan yang beruntung”.

(Qs. Al – Mujadalah :
22 ).

 

2.Dengan
nama Wahhabi itu terlihatlah kedunguan dan ketaqlidan kamu, karena nama
beliau
adalah Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab, dan ayahnya beliau adalah
Abdul Wahhab
dan dia tidak pernah mengemban dakwah Ahlu Sunnah ini, kalau kamu
memang orang
yang benar maka kamu akan berikan gelar Muhammadi,tetapi pasti kamu
enggan dan
tidak mau mengganti nama itu,karena nama itu dari orang –
orang yang sebelum
kamu, dan walaupun kamu sudah tahu itu salah dan tidak didasari ilmu  maka
inilah yang dinamakan taqlid karena kamu
mengikuti tanpa ilmu alias membebek, ternyata yang selama ini sering
kamu
gembor – gemborkan dan di tujukan taqlid itu ke Ahlu Sunnah
malah kamu yang
terbuka ‘Aib kamu yafdhohukallahu, kalau Ahlu Sunnah itu
mereka mengikuti
dengan berdasarkan dalil, 
bukti dan ilmu
 (
Al – Ittiba’) dan inilah yang di
perintahkan Allah dan Rasulnya seperti di firman Allah Subhanahu
Wata’ala

 

 قُلْ إِنْ كُنْتُمْ
تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ( آل عمران : 31 ).

 

Artinya :
Katakanlah: “Jika kalian
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi
dan
mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”.
(
Qs. Ali – ‘Imran : 31 ).

 

(2).berkata abu salafy
semoga Allah Subhanahu
Wata’ala memburukan wajahnya, amien : mereka menegakkan akidah
“miring“ mereka
di atas pondasi yang rapuh dan ocehan orang Arab Baduwi yang jahil.

 

Maka kita menjawab semoga
Allah Subhanahu Wata’ala
menjaga kita dari tipu daya syaithan, amien : Subhanallah apa yang di
perbuat
orang dungu ini, dia mencerca seorang shahabat yang mana mereka telah
diberikan
tazkiyyah oleh Rabb di beberapa tempat di KitabNya, nanti kita tunda
dulu di
jawaban selanjutnya untuk jelasnya siapakah shahabat yang dia cerca.

 

(3).berkata
abu salafy ( ‘atsrohullahu lisanah) : Kaum Wahhâbi
“ngotot” meyakini bahwa
Allah butuh kepada tempat untuk bersemayam… bahkan sebelum
menciptakan
ciptaan-Nya Allah telah butuh kepada tempat! Dan tempat itu adalah
ruang kedap
udara!!

 

 Maka
kita menjawab semoga Allah menjauhkan
kita dari sifat – sifat dusta, amien : sungguh ini adalah
dusta terhadap Ahlu
Sunnah tidak malukah kamu wahai zindiq dengan apa yang kamu perbuat,
Ma’adzallah,
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

 

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ
مَسْئُولا
( الاسراء : 36 )
.

 

Artinya :
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya.”
(
Qs. Al – Isro : 36 ).

Dan Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ
رَقِيبٌ عَتِيدٌ ( ق : ١٨ ).

 

Artinya : “ Tiada
suatu ucapanpun yang
diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas Roqib dan
‘Atid.”
(
Qs. Qaaf : 18 ).

Sifat – sifat
orang kafir lebih bagus dari kamu wahai
zindiq, yang mana ketika itu Abu Sufyan Radhiyallahu ‘Anhu sebelum
keislaman
beliau di hadits yang panjang ( tentang herackles atau yang dikenal
dengan
Hercules )di hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma,Abu Sufyan
Radhiyallahu
‘Anhu berkata :
Demi Allah kalau bukan karena malu waktu itu dari pengaruh
teman – temanku kepadaku dari kedustaan, sungguh aku akan
mendustainya ketika
dia ( Heracles-pent ) bertanya kepadaku tentangnya ( Nabi Muhammad
Shalallahu
‘Alaihi Wasallam – pent )tetapi aku malu akan pengaruh teman
– temanku kepadaku
dari kedustaan, maka aku membenarkanya” .

(HR.Bukhori [ 2940 ]dan Muslim
[1773] ).

Dan di hadist
Mu’adz Bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu
Rasulallah bersabda : Celakalah
kamu Wahai Mu’adz! Tidakkah seseorang itu
dibalikan hidung – hidung mereka ( dalam keadaan hidung
– hidung mereka dibawah
– pent)di neraka Jahannam kecuali hasil dari buah perkataan
mereka.?”.
(HR.Ibnu
Majah, Hakim dan Baihaqi
dan
lainnya dan dishahihkan hadits ini oleh Syaikh
Albani Rahimahullah ).

Kapan Ahlu Sunnah
berbicara seperti itu ?dan apa yang
kamu maksud dengan tempat disini ?kalau yang kamu maksud itu tempat
yang ada
yang tempat itu berada di dalam lingkup alam ini ?Ahlu Sunnah tidak
mengatakan
dengan adanya Allah Subhanahu Wata’ala di dalam sesuatu  yang
semisal itu karena sesuatu dari
ciptaaNya tidak bisa meliputi dan membatasi Allah Subhanahu Wata’ala
denganya,dan
sesungguhnya keumuman Ahlu Sunnah dan ulama Salaf dan para imam
– imamnya tidak
mengingkari tempat secara mutlaq dikarenakan adanya Nash yang shahih
dan jelas
dari Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam dengan itu secara tanya jawab
yaitu
haditsnya budak perempuan kecil yang masyhur yang nanti dibawah ini
akan ada
diPERTANYAAN kamu terhadap Ahlu Sunnah berserta jawabanya semoga Allah
Subhanahu
Wata’ala memudahkan ini semua, amien, bukanlah kandungan dari perkataan
Ahlu
Sunnah yang seperti ini terus kamu simpulkan bahwasanya Ahlu sunnah
berkata
Allah Subhanahu Wata’ala butuh kepada tempat, tidaklah pemahaman yang
seperti
ini kecuali dihasilkan dari otak – otak yang kotor seperti
otakmu, karena kamu
menganggap keharusan
suatu perkataan itu adalah perkataan
kalau
begitu memang adanya sekarang Ahlu Sunnah dalam keadaan terdzolimi atas
tuduhan
yang tidak berdasarkan dengan dalil, apakah kamu mau diterlaknat.?itu
adalah
lazim dari ayat ini Allah Subhanahu Wata’ala melaknat orang –
orang yang berbuat
dzolim ?seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala  

 

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى
اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ
الأشْهَادُ
هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى
الظَّالِمِينَ ( هود : ١٨).

 

Artinya :
Dan siapakah yang lebih zalim daripada
orang yang membuat-buat Dusta terhadap Allah?. mereka itu akan
dihadapkan
kepada Rabb mereka, dan Para
saksi akan
berkata: “Orang-orang Inilah yang telah berdusta terhadap Rabb
mereka”. Ingatlah, laknat ( kutukan ) Allah (ditimpakan) atas
orang-orang
yang dzalim”.
(
Qs. Hud : 18 ).

 apakah
kamu
juga termasuk orang yang menafikan sifat Uluw bagi Allah Subhanahu
Wata’ala?

Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman

 

هَا
أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ
بِالْكِتَابِ
كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا
عَلَيْكُمُ
الأنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ
بِذَاتِ الصُّدُورِ (آل عمران : ١١٩ ).

 

Artinya :
Beginilah kalian, kalian menyukai
mereka, Padahal mereka tidak menyukai kalian, dan kalian beriman kepada
Kitab-Kitab semuanya, Dan apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata
“Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung
jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada
mereka): “Matilah
kamu karena kemarahanmu itu
“.
Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi
hati”.
(
Qs. Ali – ‘Imran : 119 ).

 

(4).abu
salafy berkata ( semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan balasan
yang
setimpal buat lidahnya): Mereka meriwayatkan untuk mendukung keyakinan
mereka
riwayat di bawah ini dari Abu Razin al Uqaili yang mengaku telah
bertanya
kepada Nabi saw.

 

أين
كان الله قبل ٍأنَ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟ فقال: كان في عماء ,ما تحته هواء
وما فوقه
هواء ثم خلقٌ، عرْشُهُ علَى المَاءِ
.

 

“Dimanakah
Allah sebelum menciptakan ciptaan-Nya?

 

Maka Nabi saw. menjawab:
Allah berada di awan di
atas-Nya tidak ada udara dan di bawahnya juga tidak ada udara. Di sana
tidak ada ciptaan.
Dan Arsy-Nya di atas air.”

 

Kita menjawab semoga
Allah Subhanahu Wata’ala 
memberi rahmatnya kepada
kita, amien :
lihatlah kedunguannya dan plin – plinnya kalimat  عماء
di terjemahkan dua kali dengan tanpa di
beritahu kalau ini satu terjemahan yang lebih heran lagi dalam tempat
yang
berjauhan, apakah kamu sedang menterjemahkan kalimat yang lain?yang
seperti ini
mau mengkritik Syaikh Islam Dan Syaikh Albani Rahimahullah yang ilmu
mereka
seperti gunung

si zindiq kecil ini 
mengartikan kata ini dengan
diawan setelah beberapa kata dia artikan
lagi dengan kata disana tidak ada ciptaan.

(5).berkata
abu salafy 
( qabbahullahu wajhah ) : Para
ulama Islam telah membantah hadis palsu di atas baik
sanad maupun kandungannya! Akan tetapi Ibnu Taimiyah (Nabi Junior kaum
Wahhâbi)
berpegang teguh dengannya dan membanggakannya lebih dari tiga puluh
kali dalam
berbagai kitab karangannya!!

 

Kita
menjawab semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan karunianya kepada
kita,
amien : sizindiq kecil ini gobloknya memang bukan kepalang, sehingga
tidak bisa
membedakan yang namanya hadits dha’if atau lemah dengan
hadits maudhu’ atau
palsu, padahal ini perkara yang dasar,siapakah dari ulama yang
mengatakan
hadits ini palsu bukan lemah ?apakah karena ingin menjatuhkan Syaikh Al
– Islam
Ibnu Taimiyyah Rahimahullah sehingga dibuatlah hukum hadits ini
sedemikian
ngerinya?mana amanah ilmiyyah kamu? bagaimana dia mau mengkritik Al
– Muhadits
Ad –Diyar Al – Allamah As – Syaikh Albani
Rahimahullah yang jasanya diberikan
ummat ini sangatlah banyak, lihatlah karya – karya beliau,
adapun kamu muftin,
tukang penebar fitnah, semoga Allah Subhanahu Wata’ala menjaga kita
dari
fitnah, amien

 

1.Definisi
yang paling bagus dalam hadits dha’if atau lemah adalah
definisi Al – Hafidz
ialah setiap hadits yang tidak terkumpul di dalamnya sifat –
sifat di terimanya
hadits ( yang lima-pent ) ( lihat “ Nukat” 1/491 ).

Dan
juga definisi yang paling bagus dalam hadits dha’if atau
lemah ialah setiap
hadits yang hilang darinya salah satu syarat dari syarat – syarat di
terimanya
hadits ( yang lima-pent ) ( 
lihatlah “
Al – Bahr Al – Ladzi Zakher ” 3/
1283-1287 ).

 

2.Definisi
hadits maudhu’ atau palsu secara bahasa adalah yang melekat,
dan secara
isthilah adalah hadits yang di dasarkan atas dusta kepada Rasulallah
Salallahu
‘Alaihi Wasallam yang dibuat – buat sedemikian bagusnya,dan
hukum
meriwayatkannya adalah di haramkan meriwayatkannya dengan mengetahui
kepalsuannya kecuali untuk diterangkannya dan dibuka syubhat
– syubhatnya (
lihatlah “ Fathul Mughits” 1/274,
“Tadrib” 1/323  dan
“Ghoyah” 1/331 ).dan perbedaannya adalah
kalau hadits lemah yang ringan bisa naik hukumnya menjadi hasan
lighoirihi
dikarenakan ada diikuti oleh hadits yang shohih,dan boleh diriwayatkan
kalau ada
pendukungnya dari hadits yang shohih, adapun hadits palsu haram
hukumnya
kecuali untuk diterangkannya dan dibuka syubhat – syubhatnya
itulah sekilas
perbedaannya.dan untuk menyingkat singkapan si zindiq satu ini kita
langsung
saja kejawaban pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut semoga
Allah memberikan
kemudahan untuk ini, amien.

 Abu
Safaly Bertanya:

 

1).Wahai
kaum Wahhâbi mengapakah kalian menegakkan akidah kalian di
atas hadis Abu Razin
al ‘Uqaili, padahal ia seorang Arab Baduwi yang telah dicacat
para ulama Ahli
jarhi wa ta’dil dan mereka menegaskan bahwa dia tidak
mengerti apa-apa?! Ibnu
Abdil Barr berkata:

وليس
بشئ
.

 

“Ia
bukan apa-apa.”

 

Maka
kita menjawab qabbahallahu wajhak, amien

1.Syaikh
Islam dan Ibnu Taimiyyah tidak membangun akidah di atas hadits yang
lemah itu,
tetapi kamu memang pendusta karena mengambil sebagian nash dan
menyembunyikan
nash lainnya, inilah nash nya

     

فإن
عامة أهل السنة وسلف الأمة وأئمتها لا ينفون عنه الأين مطلقا لثبوت النصوص
الصحيحة
الصريحة عن النبي ص بذلك سؤالا وجوابا

 فقد
ثبت في الصحيح عنه انه قال للجارية أين الله
قالت في السماء وكذلك قال ذلك لغيرها

 وقال
له أبو رزين العقيلي أين كان ربنا قبل أن
يخلق السماوات والأرض قال في عماء ما فوقه هواء وما تحته هواء ثم خلق عرشه
على
الماء

 ومن
نفي الأين عنه يحتاج إلى أن يستدل على انتفاء
ذلك بدليل

أما أن
يجعل انتفاء الأين عنه دليلا فهذا لا يقوله عاقل ومن نفى الأين قال لأن
الأين سؤال
عن المكان يقول والله ليس في المكان لأن المكان لا يكون إلا للجسم والله
ليس بجسم
لأن الجسم لا يكون إلا محدثا ممكنا فلا بد له من هذه المقدمات أو ما
يناسبها

 ثم
المثبت لما جاءت به السنة يرد عليه بمنع بعض
هذه المقدمات والتفصيل فيها أو بعضها وبيان الحق في ذلك من الباطل مثل أن
يقال
المكان يراد به ما يحيط بالشئ والله لا يحيط به مخلوق أو يراد به ما يفتقر
إليه
الممكن والله لا يفتقر إلى شئ وقد يراد بالمكان ما يكون الشئ فوقه والله
فوق عرشه
فوق سماواته فلا يسلم نفى المكان عنه بهذا التفسير

 ونقول
قد وردت الآثار الثابتة بإثبات لفظ المكان
فلا يصح نفيه مطلقا 

 

Maka  sesungguhnya
keumuman Ahlu Sunnah dan ulama
Salaf ummat ini dan para imam – imamnya tidak mengingkari
tempat secara mutlaq
dikarenakan adanya Nash yang shahih dan jelas dari Nabi Salallahu
‘Alaihi
Wasallam dengan itu secara tanya jawab yaitu haditsnya budak perempuan
kecil.

Maka
telah tetap adanya hadits yang shahih dari Rasulallah Salallahu ‘Alaihi
Wasallam bahwasanya beliau Salallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada
budak
perempuan kecil : “ dimana Allah Salallahu ‘Alaihi Wasallam,
dia berkata diatas
langit.dan juga selainya berkata seperti itu.

Dan
Abu Razin Al – ‘Uqaili Radhiyallahu ‘Anhu berkata
kepada beliau Salallahu
‘Alaihi Wasallam dimana Rabb kami, sebelum Dia menciptakan langit dan
bumi
beliau Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di tempat yang tidak ada
sesuatu
selainnya, tidak ada udara diatasnya dan tidak ada udara dibawahnya,
kemudian
Dia menciptakan ArsyNya diatas air. Barang siapa yang menafikan الأين
(
yaitu kata yang diucapkan untuk menanyakan suatu tempat ialah dimana
-pent ).maka
butuh agar dia menunjukan dalil tentang penafian tersebut adapun yang
menjadikan penafian الأين
tersebut menjadi dalil baginya, dan tidak ada orang yang
berakal yang mengatakan ini, dan barangsiapa yang menafikan الأين
dan dia berkata
karena الأين
adalah pertanyaan untuk menanyakan tempat, dia berkata dan Allah
Subhanahu
Wata’ala tidaklah berada ditempat, karena tidaklah sesuatu yang berada
ditempat
kecuali untuk sesuatu yang mempunyai tubuh dan Allah Subhanahu Wata’ala
tidaklah
mempunyai tubuh, karena tubuh tidaklah terjadi kecuali setelah
diciptakan, maka
diharuskan baginya dari pendahuluan – pendahuluan yang
seperti ini atau yang
menyerupainya.

Kemudian
orang yang menetapkan dengan apa – apa yang datang dari
Sunnah membantahnya
dengan melarang sebagian dari pendahuluan – pendahuluan yang
seperti ini dan
merinci apa yang ada di dalamnya atau sebagiannya dan menerangkan yang
benar di
dalam permasalahan itu dan juga yang bathilnya, seperti dikatakan kata
“ tempat
“ dan dia bermaksud dengan itu apa – apa yang meliputi
sesuatu dan tidaklah
makhluk itu meliputi Allah Subhanahu Wata’ala atau dimaksudkan dengan
apa – apa
yang membutuhkan tempat, dan Allah Subhanahu Wata’ala tidaklah butuh
kepada
sesuatu, dan kadang dia maksudkan “ tempat “ apa
– apa yang berada di atas
Allah Subhanahu Wata’ala, dan Allah Subhanahu Wata’ala diatas ArsyNya
diatas
langitNya, maka tidaklah benar menafikan tempat dariNya dengan
penafsiran yang
seperti ini, dan kami berkata telah datang hadits – hadits
yang shahih dengan
penetapan lafadz tempat, dan juga tidak benar menafikannya secara
mutlaq.selesai perkataan Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah.dari
perkataan
beliau diatas kita ada beberapa masalah :

 (a).
keumuman Ahlu Sunnah dan ulama Salaf
ummat ini dan para imam – imamnya tidak mengingkari tempat
secara mutlaq
dikarenakan adanya Nash yang shahih dan jelas dari Nabi Salallahu
‘Alaihi
Wasallam di hadits budak perempuan kecil yang diriwayatkan oleh
Mu’awiyah Bin
Al – Hakam Bin As – Sulami Radhiyallahu ‘Anhu ( HR.
Muslim, Abu daud, An –
Nasa’I dan lainnya) jadi Ahlu Sunnah mendirikan aqidah ini
bukan berdasarkan
hadits yang lemah saja tetapi sebelum hadits lemah tersebut ada hadits
shahih
sayang memang disayang si zindiq memang tuti ( tukang tipu ) menuduh
dalam
keadaan dia tahu Ahlu Sunnah berdalilkan hadits yang di atas, hanya
saja Syaikh
Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah membawakan hadits lemah tersebut
setelah
datangnya hadits shahih ini, dan ini adalah perbuatan ulama –
ulama salaf
seperti Ibnu Khuzaimah, Muslim kadang terdapat hadits lemah tetapi
bukan di
induk babnya tetapi sebagai pengikut hadits yang shahih dan di ikuti
oleh
Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab An – Najdi Rahimahumullah
Ajma’in di dalam
kitab Tauhidnya,dan ini di namakan di dalam ilmu hadits bab Syawahid
dan
Mutaba’at, selama hadits yang lemah tersebut tidak menyelisi
hadits yang
shahih, seperti hadits Abu Rozin ini

Jika
Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengartikan عماء
dengan arti tidak ada sesuatu yang
bersamaNya seperti yang dikatakan oleh Yazid Bin Harun, dan
Tsa’lab, dan juga
seperti yang si zindiq ini artikan walaupun dengan plin –
plan, jadi tidaklah
hadits ini berselisih bahkan artinya sama dengan hadits shahih yang
diriwayatkan ‘Imron Bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhu berkata :
orang – orang
negeri Yaman berkata kepada Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam kami
datang
untuk memahami agama dan untuk menanyaimu tentang awal dari perkara
ini, maka
Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda Allah Subhanahu Wata’ala
sudah
ada dan tidak ada sesuatu sebelum Dia, ( diriwayat lain Allah sudah ada
dan
tidak ada sesuatu selainnya ) ( HR.Bukhari [3191][7418]).dan inilah
yang
dirojihkan oleh Syaikh kami Syaikh Abdullah Bin Mar’I Bin
Buraik Rahimahullah
di Syarh Al – Uluw dan juga Syarh Aqidah Wasitiyyah.

Dan
jika Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah mengartikan عماء
dengan arti awan dan ini adalah perkataannya
Ibnu Al – Atsir, Abu ‘Ubaid dan juga Syaikh Albani
Rahimahumullah Ajma’in ini
adalah perkara ijtihad, mereka adalah para ulama dan mereka tidak
membangun
aqidah mereka di atas hadits ini, dan Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah
membawakan
hadits ini dalam rangka menetapkan kata الأين  (
yaitu kata yang diucapkan untuk menanyakan suatu tempat ialah dimana
-pent )
yang mana sebelum dibawakan hadits ini beliau telah membawakan hadits
Mu’awiyah
Bin Hakam As – Sulami Radhiyallahu ‘Anhu yang di dalam hadits
itu juga terdapat
lafadz الأين  untuk
membantah orang yang menafikan sifat
uluw atau sifat tinggi bagi Allah Subhanahu Wata’ala.

 

b).Lafadz
tajsim awal pertama yang mengatakan tajsim adalah Muqotil Bin Sulaiman
Al –
Barkha dan di bantah oleh beberapa ulama Ahlu Sunnah,dan dia sangat
pandai di
dalam ilmu tafsir tetapi di dalam kepandaiannya itu dia punya pemikiran

pemikiran yang menyimpang, maka telah bertanya seseorang kepada
Waqi’ Bin Jarah
 tentang
tafsirnya maka beliau berkata :
janganlah kamu melihat apa – apa yang ada di
dalamnya” orang itu berkata : lalu
apa yang aku perbuat dengannya beliau berkata : tanamlah.”
Dan
Ibnu Mubarak
pernah ditanya mengenai tafsir Muqotil Maka beliau berkata :
lemparlah “.
ini
di dalam permasalahan tafsir adapun di dalam ilmu hadits  dia
adalah mungkarul hadits dan pendusta,
Imam Bukhori berkata tentangnya :
dia buka apa – apa”.

dan beliau
berkata di lain riwayat tentangnya:
haditsnya mungkar “.
Ibnu
Sa’ad
berkata : ” ahlul
hadits mencela hadits yang diriwayatkannya”.

dan Abu
Hatim : melemahkan
haditsnya.”
dan Ad
– Dzahabi berkata di dalam siyar :
secara ijma meninggalkan
haditsnya”.
lihatlah
apa yang dilakukan para
imam dan ulama salaf dalam membantah perkataanya dan juga melemahkan
hadits
yang diriwayatkannya dan memboikot bukunya dan dengan itu pula Ahlu
Sunnah
digelari dengan orang yang menetapkan jism bagi Allah Subhanahu
Wata’ala
Allahul Musta’an wa ilaihi tuqlaan,tidaklah Ahlu Sunnah di
berikan nama
mujassim ( yang menetapkan jism ) kecuali setelah mereka menetapkam
sifat –
sifat yang ditetapkan Allah Subhanahu Wata’ala dan NabiNya Salallahu
‘Alaihi
Wasallam seperti sifat Allah itu melihat, Allah itu mendengar dan juga
seperti
yang disini Ahlu Sunnah menetapkan lafadz الأين  dan
dari penetapan tersebut setelah ada rantai pertanyaan yang dilakukan
oleh
filsafah sehingga mereka tesesat, seperti di atas, mereka akhirnya
menafikan
sesuatu yang tetap bagi Allah Subhanahu Wata’ala, kalau Allah mendengar
atau
melihat berarti dia mempunyai jism dan lain – lainya dari
pertanyaan –
pertanyaan filsafat, lafadz jism ini tidak datang dari Al –
Qur’an dan juga Sunnah
menetapkannya yang dengan itu kita tetapkan lafadz itu dan Al
– Qur’an dan
Sunnah tidak juga menafikkanya yang dengan itu kita nafikan, maka
barangsiapa
yang menafikannya atau menetapkannya secara muthlaq ditanyakan
kepadanya apa
yang dia maksudkan dari lafadz itu, maka jika dia berkata yang saya
maksudkan
dengan jism itu adalah maknanya didalam bahasa arab badan yang padat
yang
sebagaimana bahasa pakai didalam bahasa, maka makna yang seperti ini
nash dan
aqal menafikannya dari Allah Subhanahu Wata’ala, dan jika yang kamu
maksudkan
adalah sesuatu yang tersusun dari unsur dan bentuk dan yang tersusun
dari
kumpulan jauhar, maka makna yang seperti ini pasti manfi atau tidak ada
dari
Allah Subhanahu Wata’ala, maka jism tidaklah suatu makhluk yang
tersusun dari
ini ataupun itu, dan jika kamu maksudkan apa – apa yang
mensifati dengan sifat,
melihat dengan pandangan, berkata, mengatakan, melihat, mendengar,
ridho dan
juga murka, maka makna – makna seperti ini adalah tetap bagi
Allah Subhanahu
Wata’ala dan Dia disifati dengannya maka kami tidak akan menafikan
sifat –
sifat itu dari Allah Subhanahu Wata’ala walaupun kalian menggelari bagi
yang disifatinya
dengan jism.

c).bukanlah
suatu kelaziman bagi Ahlu Sunnah di dalam penetapan mereka terhadap
lafadz الأين  melazimkan
Allah Subhanahu Wata’ala butuh
kepada tempat dan ini karena sudah sangat rusaknya otak sizindiq ini
atau karena
Ahlu Sunnah telah terdzolimi dengan perkataan ini maukah kamu di laknat
..?

Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman

 

أَلا
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ ( هود : ١٨).

 

2.ittaqillah
wahai zindiq, Abu Rozin Al – Uqaili Radhiyallahu ‘Anhu adalah
seorang shahabat
sangat lancang sekali lidahmu semoga Allah memberikan balasannya,
amien,
siapakah kamu sehingga kamu sehingga mencela seorang shahabat
Rasulallah
Salallahu ‘Alaihi Wasallam semua kitab – kitab tarjamah
menyebutkan bahwasanya
beliau Radhiyallahu ‘Anhu adalah shahabat di
Isti’ab, Thobaqat Ibnu Sa’ad,
Taqrib At – Tahzib, Al – Ishobah, Usud Al
– Ghobah, Tarekh Al – Kabir Lil bukhari,
Taqrib Al – Asma’ wa Lughoh Linawawi dan lainnya,
dan siapakah kamu sehingga mencela
orang yang ditazkiyah oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Sebelum
kita masuk kepermasalahan kita harus mengetahui dulu definisi dari adel
yang
adel itu salah satu syarat diterimannya seorang periwayat

A).Berkata
Imam Syafi’I Rahimahullah : “ kalau seandainya adel
itu orang yang tidak ada
dosanya maka kita tidak akan mendapatkan yang namanya adel, dan kalau
seandainya setiap orang yang berdosa disebut adel maka tidak ada orang
yang
dicerca ( maksudnya dalam periwayatannya –pent )tetapi adel
itu adalah orang
yang menjauhkan diri dari dosa – dosa besar, dan kebaikannya
lebih banyak dari
pada kejelekannya 
Ar – Raudhoh (
11/225
)

B).Berkata
Imam Khotib Al – Baghdadi berkata Rahimahullah ( wafat 463 H
): “ 
menukilkan dari Al
– Qodhi Abu Bakar Bin
Thoyyib Rahimahullah ( wafat 403 H ) : “ adel yang dimaksud
di dalam sifat
orang yang bersaksi dan orang yang mengabarkan adalah adel yang kembali
kepada
kelurusan agamanya, dan selamatnya dia dari kefasikan, dan yang
semisalnya yang
telah disepakati bahwasanya itu adalah dari pembatal –
pembatal adel dari
perbuatan anggota tubuh dan hati yang dilarang darinya Khotib Al
– Baghdadi :
Al kifayah Fi Ilmi Ar – Riwayah ( hal 102 ).

C).Berkata
Imam Al – Hazimi Rahimahullah ( wafat 594 H ) : dan sifat
– sifat adel adalah
mengikuti perintah – perintah Allah Subhanahu Wata’ala, dan
berhenti dari
perbuatan yang telah dilarang perbuatanya, dan menjauhi perbuatan yang
keji
yang menjatuhkannya, dan selalu mencari – cari kebenaran
…,Syurut Al – A’immah
Al – Khomsah ( hal 55 )

D).Berkata
Ibnu Sholah Rahimahullah ( wafat 643 H ) : telah ijma jumhur ahli
hadits dan
fiqh bahwasanya disyaratkan bagi orang dijadikan bukti periwatannya dia
harus
adel dan menjaga ( hafalanya dan juga bukunya ) dengan apa –
apa yang
diriwayatkannya dan perinciannya adalah dia seorang yang muslim,
baligh, orang
yang berakal selamat dari sebab – sebab fisq dan menjaga
kewibawaan ‘Ulumu Al –
hadits ( hal 94 )

E).Berkata
Ibnu hajar Rahimahullah ( wafat 802 H ) : orang yang bisa mengendalikan
dirinya
untuk selalu berlaku takwa dan menjaga wibawa Nuzhah An –
Nadzor Bi Syarh
Nukhbat Al – Fikr ( hal 18 )

F).Berkata
Al – Hafidz As – Sakhowi Rahimahullah ( wafat 902 H
) : kita telah meneliti
sesungguhnya definisi – definisi ini seluruhnya kembali ke
satu makna
sesungguhnya adel itu adalah kelurusan agama seseorang dengan
mengerjakan
kewajiban dan meninggalkan apa – apa yang dilarang seperti
halnya kita telah
meneliti bahwasanya seluruh definisi tidak masuk didalam penjagaan (
hafalanya
dan bukunya ) dan hafalanya seperti syarat di dalam adel kecuali di
definisi
Ibnu Hazm Rahimahullah dan dari sini kita bisa membagi dua macam adel

1.adel
di dalam agamnya maksudnya adalah kelurusannya di dalam agamanya

2.adel
di dalam meriwayatkan yang dimaksud adalah hafalannya seorang periwayat
dan
penjagaanya apa – apa yang akan diriwayatkannya. dan yang
pertama adalah maksud
yang disebutkan para ahli hadits dan fiqh jika kata ini dimutlakan.

Dibawah
ini bukti adelnya shahabat dari Al
– Qur’an

a).
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ
شَهِيدًا
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلا لِنَعْلَمَ
مَنْ
يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ
لَكَبِيرَةً إِلا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ
لِيُضِيعَ
إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ ( البقرة : 143
).

 

Artinya :
Dan demikian (pula) Kami
telah menjadikan kamu (umat
Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan)
manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
dan Kami
tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar
Kami
mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang
membelot.
dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi
orang-orang
yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan
menyia-nyiakan
imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
manusia”.
(
Qs. Al – Baqarah : 143 ).

Dan sisi pendalilannya di
ayat ini adalah bahwasanya
arti kata وَسَطًا  adalah
adil dan pilihan
dan karena mereka shahabat yang diajak bicara di dalam ayat secara
langsung.Tafsir At – Thobari ( 2/7 ),Jami’ Li
Ahkami Al – Qur’an ( 2/153 ) dan
Tafsir Ibnu Katsir ( 1/335 ).dan beberapa Ahli Ilmu telah menyebutkan
sesungguhnya lafadznya walaupun dia untuk umum tetapi yang di maksudkan
adalah
khusus, dan dikatakan : sesungguhnya ayat itu turunnya untuk shahabah
tanpa
yang lainnya. Al – Kifayah Lil Khotib ( hal 64 ).

b).Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ
لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا
لَهُمْ
مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (آل عمران : 110 ).

 

Artinya:
Kalian adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah
dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman,
tentulah itu
lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan
kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik”.

( Qs. Ali ‘Imron :
110 ).

Dan sisi pendalilanya
bahwasannya ayat itu menetapkan
kebaikan yang mutlaq untuk ummat ini dari pada ummat – ummat
yang lain
sebelumnya dan pertama yang masuk dalam kebaikan yang lawan bicaranya
ayat ini
secara langsung ketika turunya Al – Qur’an adalah
para shahabat yang mulia
Radhiyallahu ‘Anhum dan itu adalah mengandung lurusnya mereka di dalam
seluruh
keadaannya yang sesuai, dan sangat jauh sekali apakah Allah mensifati
mereka sebaik
– baiknya ummat dan mereka bukan orang – orang yang
adel  dan
lurus, dan apakah itu bukan kebaikan,
seperti tidak bolehnya Allah Subhanahu Wata’ala mengkabarkan bahwasanya
Dia
menjadikan mereka ummat yang adil atau jujur dan mereka tidak seperti
itu. Al –
Muwafaqat Li Syatibi ( 4/40 41 ).

 

c).Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا
وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ
وَرِزْقٌ
كَرِيمٌ (الأنفال : ٧٤).

 

Artinya :
Dan orang-orang yang beriman dan
berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi
tempat
kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka
Itulah
orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan
rezki
(nikmat) yang mulia”.
(
Qs.Al – Anfaal : 74 ).

Maka di ayat ini Allah
Subhanahu Wata’ala mensifati
Al – Muhajirin dan Al – Anshor dengan yang benar
– benar beriman dan
barangsiapa yang Allah Subhanahu Wata’ala 
menjadi saksinya di dalam
persaksian ini maka dia telah mencapai derajat
adel yang paling tinggi.

d).Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ
الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي
تَحْتَهَا
الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(التوبة : ١٠٠ ).

 

Artinya :
Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan
orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan
merekapun
ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir
sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya.
Itulah
kemenangan yang besar”.

( Qs. At – Taubah :
100
).

Sisi pendalilannya
bahwasanya Allah Subhanahu
Wata’ala mengabarkan di dalm ayat itu dengan ridhoNya Dia kepada mereka
dan
Allah Subhanahu Wata’ala tidaklah menetapkan keridhoanNya kecuali orang
– orang
yang cocok mendapatkan ridhoNya, dan tidak ada orang yang sesuai
mendapatkannya
kecuali orang – orang yang lurus di dalam seluruh perkaranya
dan adil atau
jujur di dalam agamanya

e).Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

لَقَدْ
رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ
الشَّجَرَةِ
فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ
وَأَثَابَهُمْ
فَتْحًا قَرِيبًا ( الفتح : 18 ).

 

Artinya :
Sesungguhnya Allah telah ridha
terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di
bawah
pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu
menurunkan
ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan
kemenangan yang
dekat (waktunya)”.
(
Qs. Al – Fath : 18 ).

Dan dalil diayat ini
sangatlah jelas atas keadilannya
atau jujurnya shahabat yang mereka bersama Nabi Salallahu ‘Alaihi
Wasallam
ketika hari Hudaibiyyah dan sisi pendalilan ayat tentang adelnya
bahwasanya
Allah Subhanahu Wata’ala mengabarkan dengan ridhaNya Dia kepada mereka
dan
bersaksi atas keimanan mereka dan memberikan tazkiyyah kepada mereka
atas apa
yang ada dihati mereka dari kejujuran, menepati, patuh dan taat dan
tidak akan
keluar tazkiyyah yang besar dari Allah Subhanahu Wata’ala kecuali yang
telah
sampai puncak di dalam kejujurannya mempraktekan apa – apa
yang diperintahkan
Allah Subhanahu Wata’ala

f).Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman

 

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ
مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ
رُكَّعًا
سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي
وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ
وَمَثَلُهُمْ
فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ
فَاسْتَوَى
عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ
اللَّهُ
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً
وَأَجْرًا
عَظِيمًا ( الفتح : 29 ).

 

Artinya :
Muhammad itu adalah utusan Allah dan
orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang
kafir,
tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud
mencari
karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka
mereka
dari bekas sujud, Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
sifat-sifat
mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya
Maka tunas
itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak
Lurus di
atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena
Allah
hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan
orang-orang
mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal
yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.

( Qs. Al –
Fath : 29 ).

Maka sifat ini yang Allah
Subhanahu Wata’ala telah
memberikan sifat ini kepada mereka di dalam kitabNya dan ini adalah
pujian
Allah Subhanahu Wata’ala memuji kepadanya tidaklah terdetik keragu
– raguan
dihati tentang kelurusannya atau keadilannya,Tafsir Al –
Qurthubi ( 16/299 ).

 

Adapun
dalil dari
Sunnah tentang adelnya para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum sebagai berikut

A).Yang diriwayatkan Bukhari
(1/31) dan Muslim
( 3/1306 ) dari hadits Abu Bakrah Radhiyallahu ‘Anhu sesungguhnya Nabi
Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ ….ingatlah
agar yang hadir
menyampaikan yang tidak hadir”.

Sisi pendalilannya adalah
bahwasanya perkataan itu
diucapkan oleh Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam ditempat perkumpulan
shahabat
yang sangat besar 
dihaji Wada’ dan
ini
termasuk dalil yang paling besar atas adelnya dan kejujuran para
shahabat,
sehingga Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam 
meminta kepada mereka untuk
menyampaikan apa – apa yang mereka dengar
darinya kepada shahabat yang tidak hadir perkumpulan itu tanpa
pengecualian
seseorangpun.

B).Yang diriwayatkan Bukhari
(2/287 – 288 )dan
Muslim
( 4/1964 )dari hadits ‘Imron Bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhu
berkata, Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
Sebaik – baiknya
ummatku adalah orang yang sezamanku ( shahabat Radhiyallahu ‘Anhum
-pent)
kemudian orang – orang yang setelahnya mereka (
Tabi’in Rahimahumullah -pent)
kemudian orang – orang yang setelahnya mereka (
Tabi’ut Tabi’in Rahimahumullah
-pent)”.

Dan sisi pendalilannya
bahwasanya shahabat adel
seluruhnya yang mana Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersaksi untuk
mereka
dengan kebaikan yang mutlaq.

C).Yang diriwayatkan Bukhari
( 2 / 292 )dari
Abu Sa’id Al – Khudri Radhiyallahu ‘Anhu berkata,
Rasulallah Salallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda :
Janganlah kalian menghina shahabatku maka demi Dzat
yang jiwaku berada ditanganNya 
,
sesungguhnya kalau salah satu dari kalian menginfaqkan seperti emas
yang
sebesar gunung tidaklah akan sampai satu mud ( jenis takaran yang
kurang lebih
6 ons – pent )dan tidak juga setengahnya “.
(
maksudnya walaupun sebanyak
mana perbuatan kamu tidak akan menyamakan amalanya walaupun sebanyak
mud atau
setengah mud dari amal mereka ) Allahu Akbar

Sisi pendalilannya
sesungguhnya mensifati mereka
dengan tidak adil atau jujur apalagi menghinanya maka Rasulallah
Salallahu
‘Alaihi Wasallam telah melarang sebagian orang – orang yang
bertemu dengannya
dan menemaninya untuk membicarakan kehormatan orang yang mendahului
dikarenakan
dia menyaksikan waktu – waktu yang utama maka untuk orang
yang setelahnya lebih
utama lagi.dan masih banyak hadits lagi.

 

Dan
ijma telah
dinukilkan dari banyak ulama

a).Al – Khotib Al
– Baghdadi 
berkata di dalam Al
– Kifayah ( hal 67
)setelah menyebutkan dalil dari Al – Qur’an dan
sunnah yang menunjukan tentang
adelnya shahabat, dan sesungguhnya mereka seluruhnya adel beliau
berkata : “ ini
adalah mazhabnya seluruh ulama dan ucapan orang yang dianggap sebagai
sebagai
ahli fiqh”.

b).Ibnu ‘Abdil
Bar berkata di dalam ‘Isti’ab (1/8 )
adapun para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum maka cukuplah bagi kami  untuk
meneliti tentang keadaannya dikarenakan
adanya ijma’ orang – orang yang benar dari kaum
muslimin dan mereka adalah Ahlu
Sunnah Wal Jama’ah bahwasanya mereka Radhiyallahu ‘Anhum
seluruhnya adil atau
jujur maka wajib untuk berhenti ( menerima ) kalau disebutkan namanya
mereka
Radhiyallahu ‘Anhum.

c). Berkata Hafidz Ibnu
Hajar di dalam Ishobah ( 1/17
) Ahlu Sunnah sepakat bahwasanya seluruh shahabat Radhiyallahu ‘Anhum
adil atau
jujur tidak ada yang menyelisihinya kecuali sedikit saja dari ahli
bid’ah.dan
selainnya banyak lihatlah Fathul Mughits ( 3/112 ), Tadrib Ar- Rowi (
2/214 ),
Mustashfa kepunyaan Ghazali ( 1/164 ), Muqaddimah Ibnu Sholah ( hal 146
– 147
), Nawawi di Syarh Muslim (15/147 ), Taqrib ( 2/214 ), Ibnu Katsir di
dalam
Ba’its Al – Hatsits ( hal 181 – 182 ),
Syarh Al – alfiyyah kepunyaan ‘Iraqi (
3/13 – 14 ) dan Sakhowi di Fathul Mughits ( 3/108 ).

Dan tidak ada yang ragu
– ragu tentang adilnya para
shahabat setelah Al – Qur’an, Sunnah dan ijma
bersaksi untuk itu.

 

Ada beberapa kelompok yang
menyelisi alqur’an, Sunnah
dan ijma’ sebenarnya tidak cocok kelompok itu disebutkan
disini, tetapi
disebutkan karena untuk menerangkan kebathilan mereka dan jauhnya
mereka dengan
kebenaran.

A).Madzhab
Syi’ah Rofidhoh : mereka berkeyakinan
bahwasanya shahabat yang mulia Radhiyallahu ‘Anhum tidaklah adil atau
jujur
bahkan mereka berkeyakinan sesatnya seseorang yang tidak berkeyakinan
bahwasanya Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan nash bahwasanya
kekhilafahan ( pemimpinan ) setelahnya langsung adalah ‘Ali
Radhiyallahu ‘Anhu
dan mereka berkeyakinan sesungguhnya seluruh manusia berada di dalam
kehancuran
dan kemurtadan setelah wafatnya Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam
kecuali
beberapa orang saja yang terhitung dengan jari, dan sebab –
sebab mereka
dikafirkan adalah bahwasanya mereka Syi’ah mengaku
sesungguhnya mereka shahabat
Radhiyallahu ‘Anhum memberikan membai’at khilafah (
kepemimpinan )selain ‘Ali
Radhiyallahu ‘Anhu dan mereka tidak mengamalkan nashnya Nabi Salallahu
‘Alaihi
Wasallam,dan keyakinan mereka yang memenuhi buku – buku
mereka lihatlah bukunya
Ikhtishos Al – Mufid ( hal 6 ) dan buku Ar – Raudhoh dari Al
– Kafi kepunyaan
Al – Kalieni hadits no ( 356 )dan lainnya.

B).Madzhab
Mu’tazilah : adapun mu’tazilah telah
goncang pemikiran mereka di atas adilnya atau jujurnya para shahabat
Radhiyallahu ‘Anhum menjadi tiga kelompok

Yang pertama :
sesungguhnya seluruh shahabat
seluruhnya adil atau jujur kecuali yang berperang melawan
‘Ali Radhiyallahu
‘Anhu yang mana jumhur mereka membenarkan perbuatan ‘Ali
Radhiyallahu ‘Anhu di
dalam peperangannya dan menyalahkan orang yang memeranginya maka mereka
menyalahkan Tholhah, Zubair, ‘Aisyah dan Mu’awiyyah
Radhiyallahu ‘Anhum, lihatlah
Maqolat Al – Islamiyyah ( 142/2 ) dan Al – Farqu
baina Al – Firaq ( hal 120 –
121 ).

Yang kedua : perkataannya
Washil Bin ‘Atho’ dia
berpemahaman sesungguhnya kedua belah pihak dari shahabat di dalam
kejadian
perang jamal dan shoffain dalam keadaan salah tidak di tentukan siapa
yang
salah seperti Mutalaa’inain ( dua orang yang sedang baku
laknat – pent ), maka
sesungguhnya salah satu dari keduanya adalah orang yang Fasiq siapapun
dia, dan
derajat yang paling rendah adalah tidak diterimanya shahadat mereka
seperti
Mutalaa’inain ( dua orang yang baku laknat –pent
)itu tidak diterima
syahadatnya.maka dia telah berkata kalau ‘Aisyah,Ali dan
Tholhah Radhiyallahu
‘Anhum bersaksi kepadaku tentang keburukan orang yang berjualan ditoko
maka aku
tidak menghukumi syahadat mereka,Al – Milal Wa An –
Nihal kepunyaan Asy –
Syahristani ( 1/49 ) , Mizan Al – ‘Itidal kepunyaan
Adz – Dzahabi ( 4/ 329 )
dan Al – Farqu Baina Al – Firoq ( hal 120 ).

Yang ketiga : perkataanya
‘Amr Bin ‘Ubaid
sesungguhnya dia berkeyakinan bahwasanya kedua belah pihak yang
berperang di
kejadian jamal dan shaffain seluruhnya telah berbuat fasiq,dan berkata
aku
tidak akan menerima persaksian keseluruhan dari mereka entah itu dari
satu
pihak atau sebagian dari golongan ‘Ali dan sebagian lagi dari
golongan Jamal,
Al – Firaq Baina Al – Firoq ( hal 121 ) dan Milal
Wa An – Nihal ( 1/49 ).

Adapun dalil tentang
pelarangan menghina shahabat
Radhiyallahu ‘Anhu 
telah datang isyarat
tentang keharamannya di dalam Al – Qur’an

1.Firman Allah Subhanahu
Wata’ala

 

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ
الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي
تَحْتَهَا
الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(التوبة : ١٠٠ ).

 

Artinya :
Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan
orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan
merekapun
ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir
sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya.
Itulah
kemenangan yang besar”.

( Qs. At – Taubah :
100
).

2. Firman Allah Subhanahu
Wata’ala

 

إِنَّ
الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي
الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا ( الأحزاب : 57 ).

 

Artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang
menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di
akhirat,
dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”.

( Qs. Al – Ahzab : 57
).

Sisi pendalilannya 
bahwasanya menyakiti Rasul
Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengandung seluruh
yang menyakitinya entah dari perkataan dan perbuatan, dan barang siapa
yang
menghina dan mencerca kepadanya atau kepada agamanya dan yang mneyakiti
Salallahu ‘Alaihi Wasallam adalah menghina shahabatnya Radhiyallahu
‘Anhum dan
Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengabarkan bahwasanya yang
menyakitinya adalah perbuatan yang menyakiti shahabat dan barangsiapa
yang
menyakiti Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam maka dia telah
menyakiti Allah
Subhanahu Wata’ala Al – Musnad (4/87 ) dan Taisir Al
– Karim Ar – Rahman ( 6/
121 ).

3.Firman Allah Subhanahu
Wata’ala

 

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا
وَإِثْمًا مُبِينًا (الأحزاب : ٥٨ ).

 

Artinya :
Dan orang-orang yang menyakiti
orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka
perbuat, Maka
Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang
nyata”.
(
Qs.
Al – Ahzab : 58 ).

                                  

Sisi pendalilannya jelas
bahwasanya yang seperti ini
dilarang menyadarkan perkataan kepada orang mu’min dan
mu’minat maka shahabat
lebih utama dari itu.

Adapun dari Sunnah
tentang pelarangan menghina
shahabat

  1. Yang diriwayatkan Bukhari
    ( 2 / 292 )dari Abu Sa’id Al – Khudri Radhiyallahu
    ‘Anhu berkata, Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
    Janganlah kalian menghina shahabatku maka demi Dzat yang jiwaku berada
    ditanganNya 
    , sesungguhnya kalau
    salah satu dari kalian menginfaqkan seperti emas yang sebesar gunung
    tidaklah akan sampai satu mud ( jenis takaran yang kurang lebih 6 ons
    – pent )dan tidak juga setengahnya “.
    (
    maksudnya walaupun sebanyak mana perbuatan kamu tidak akan menyamakan
    amalanya walaupun sebanyak mud atau setengah mud dari amal mereka )
  2. dan diriwayatkan oleh Al
    – Hafidz dengan sanadnya ke A’isyah Radhiyallahu
    ‘Anha berkata : Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
    “ janganlah kalian mencerca shahabatku, Allah Subhanahu
    Wata’ala melaknat orang yang mencerca shahabatku”
    .dikeluarkan oleh Al – Haitsami di Majma’
    Zawa’id (10/21 )dan periwayatnya adalah orang –
    orang yang shohih.
  3. Dan diriwayatkan juga
    dengan isnadnya kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma Rasulallahu
    Salallahu ‘Alaihi Wasallam besabda :
    Barangsiapa yang mencerca shahabatku maka baginya laknat Allah
    Subhanahu Wata’ala, para Malaikat dan manusia seluruhnya”.
    Dikeluarkan
    oleh As – Suyuti di Al – Jami’I As
    – Shogir, dan di hasankan oleh Syaikh Albani di dalam Shohih
    Al – Jami’.
  4. Dan diriwayatkan oleh Ath
    – Thobroni dari hadits Abdullah Ibni Mas’ud
    Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda
    : “ Jika di sebutkan
    para shahabatku maka tahanlah ( maksudnya dari mencercanya)”.

    Majma’ Zawa’id ( 7/202 ).dan dishohihkan oleh
    Syaikh Albani di Shohih Jami’ .dan Imam Adz
    –Dzahabi dosa – dosa yang digolongkan menjadi dosa
    besar di dalam kitabnya Al – Kaba’ir ( hal 233
    – 237 ). Dan beliau menghitung pencercaan kepada shahabat
    sebagai kaba’ir.

Dari perkataan ulama
– ulama salaf di
dalam pengharamannya mencerca shahabat, sesungguhnya nash –
nash yang ada dari
ummat ini dan para imam – imamnya dari shahabat dan juga yang
datang setelahnya
dari At – Tabi’in yang mengikutinya dalam kebaikan
yang mengandung dengan
pengharaman mencerca shahabat dan yang juga membela mereka banyak
sekali, dan
bermacam – macam di dalam menghinakannya dan akibat dari
orang yang mencerca
kepada orang – orang yang patuh dan juga pilihan maka dari
itu adalah

1.Ibnu Al –
Atsir di dalam Jami’ Al – Usul
( 9/408 – 409 ) dan dari Rozin dari hadits Jabir Bin Abdillah
Radhiyallahu
‘Anhuma berkata : dikatakan kepada A’isyah Radhiyallahu ‘Anha
sesungguhnya
seseorang mencerca para shahabat Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam sampai
Abubakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhu mak Dia Berkata :
Dan apa yang kamu
mau dari ini ? terputusnya amalan – amalan dari mereka maka
Allah Subhanahu
Wata’ala suka agar tidak putus pula pahala – pahala
mereka”.

2.dan di riwayatkan oleh
Ibnu Bathoh di
dalam Syarh Al – Ibanah ( hal 119 ) dengan sanad yang shahih
dari Ibnu Abbas
Radhiyallahu ‘Anhuma berkata :
Janganlah kalian mencerca para shahabat
Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam maka sungguh kedudukan salah satu
dari
mereka sebentar ( waktu yang sedikit – pent )bersama Nabi Salallahu
‘Alaihi
Wasallam lebih baik dari pada amal – amal kalian selama 40
tahun”.

4.diriwayatkan dari
Muhammad Bin Abdil
Wahid Al – Maqdisi dengan isnadnya kepada Sa’id Bin
Abi Abza Radhiyallahu
‘Anhu 
berkata : aku berkata kepada
bapakku : bagaimana menurutmu tentang seorang pria yang mencerca
Abubakar
Radhiyallahu ‘Anhu ? beliau berkata : dibunuh, aku berkata : mencerca
Umar
Radhiyallahu ‘Anhu ?beliau berkata : dibunuh. Tahdzib At –
Tahdzib ( 6/132 –
133 ).

5.Berkata Malik Bin Anas
Rahimahullah : “
Orang yang mencerca para shahabat RAsulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam
dia
tidak mempunyai bagian di dalam Islam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( hal
162 ).

6.Berkata Abdurrahman Bin
‘Amr Al –
Auza’I Rahimahullah : “ Barangsiapa yang mencerca
Abubakar As – Siddiq Radhiyallahu
‘Anhu maka dia telah murtad dan dibolehkan darahnya Syarh Ibanah Li
Ibni Bathah
( hal 162 ).

 

Hukum 
bagi orang yang mencerca para
shahabat Ahlul ilmi berselisih di dalam
menghukumi dan akibat bagi orang yang mencerca shahabat

 1.Dari
Ahlil Ilmi ada yang berpendapat
kafirnya orang yang mencerca atau mencaci 
para shahabat dan mencerca di
dalam adelnya dan jelas akan kebenciannya
terhadap mereka, dan ini ini sifatnya maka telah dibolehkan darahnya
dan di
halalkan menbunuhnya, sampai dia bertaubat dari itu dan mengasihi para
shahabat
itu.dan yang berpendapat seperti ini

a).Abdurrahman Bin Abza
Shahabat, seperti
di dalam kitab dilarangnya mencerca para shahabat ( hal 23 ).

b).Abdurrahman Bin
‘Amr Al – ‘Auza’I,
seperti di dalam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( 
hal 162 ).

c).Abu Bakar Bin
‘Ayyasy, seperti di
dalam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( hal 160 ).

d).Sufyan Bin
‘Uyainah seperti di dalam
kitab dilarangnya mencerca para shahabat ( hal 24 – 25 ).

e).Muhammad Bin Yusuf Al
– Firyabi,
seperti di dalam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( hal 160 ).

f).Bisyer Bin Al
– Harist Al – Marwazi,
seperti di dalam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( hal 162 ).

g).Muhammad Bin Basyar Al
‘Abdi, seperti
di dalam Syarh Ibanah Li Ibni Bathah ( hal 160 ).

Dan selainya sangatlah
banyak,dan mereka
para A’immah dengan jelas mengkafirkan orang yang mencerca
para shahabat
Radhiyallahu ‘Anhu dan sebagian dengan jelas setelah menhukumi dengan
kafir
bahwasanya akibatnya juga dibunuh seperti pendapatnya sebagian ulama
Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan
Dhohiriyyah.

2.Ulama yang berpendapat
bahwasanya
mencerca shahabat tidak di kafirkan tetapi di katakan bahwa dia fasiq
dan dia
adalah sesat dan tidak dihukum hukum bunuh tetapi cukuplah diberi adab
kepadanya dan teguran yang keras sampai dia kembali dari perbuatan dosa
ini
yang ini adalah perbuatan dosa besar dan perbuatan keji, kalau dia
belum
kembali ulangi lagi tegurannya yang keras sampai Nampak taubatnya dan
berpendapat seperti itu dari para imam – imam adalah

a).Umar Bin Abdil Aziz
seperti di As -
Shorim Al – Maslul ( hal 569 ).

b).’Ashim Al
– Ahwal, seperti yang
disebutkan Ibnu Taimiyyah di Shorim Al – Maslul ( hal 569 ).

c).Imam Malik, seperti di
As – Syifa’ (
2/267 ).

d).Ishaq Bin Rahawaih,
sperti di Shorim
Al – Maslul ( hal 568 ).

Dan masih banyak lagi
dari A’immah, dan
nukilan ini menerangkan beberapa kelompok dari Ahli Ilmi berpendapat
bahwasanya
orang yang mencerca para shahabat Radhiyallahu ‘Anhu fasiq dan
mubtadi’
bukanlah kafir, maka wajib atas penguasa untuk menegurnya teguran yang
keras
dan tidak sampai membunuhnya.dan yang Rojih yang benar adalah
bahwasanya orang
yang menghina para shahabat tidaklah dikafirkan, tetapi ini tidaklah
secara
mutlaq, tetapi disyaratkan tidak terbenturnya dengan  nash
– nash yang jelas dari Al – Qur’an dan
juga Sunnah dan tidak menginkari apa – apa yang sudah
diketahui di dalam agama
ini secara darurat, dan dengan ini dibawanya pendapat yang tidak
mengkafirkannya secara mutlaq Wallahu ‘Alam.

3.
ada pun perkataan wahai abu saraf : para ulama Ahli jarhi wa
ta’dil dan mereka
menegaskan bahwa dia tidak mengerti apa-apa?! Ibnu Abdil Barr berkata:

وليس
بشئ
.

 

“Ia
bukan apa-apa.”

 

Maka
kita menjawab semoga Allah melipat lidahmu, amien.  para
ulama jarh ta’dil yang mana yang menjarh
( mencela ) shahabat Abu Rozin Al – ‘ Uqoili
Radhiyallahu ‘Anhu, coba beritahukan
kepada ku asalkan dia bukan dari orang – orang
syi’ah seperti buku yang kamu
nukilkan tentang berselisihnya shahabat di dalam masalah keutamaan dan
khilafah
)dan mu’tazilah, dan kamu pastinyapun tidak bisa
memberikannya kepada
kami?karena kamu tuti ( tukang tipu ) pendusta besar.

Adapun
perkataanya Ibnu Abdil Bar  Rahimahullah

Ada dua jawaban

a).kamu
pendusta : karena beberapa indikasi

pertama
: kamu menyebutkan ini tanpa di beritahu rujukannya itu dikarenakan
kamu takut
akan terbuka borokmu.

Kedua
: kamu menyebutkan ini yang menguntungkankan kamu sedang nash yang lain
kamu
sembunyikan seperti yang kamu lakukan kepada Syekh Islam terdahulu.

Ketiga
: kamu menghilangkan lafadz hadza.di dalam kata yang disebutkan Ibnu
Abdil
Barr, وليس
بشئ
.

b).kamu
bodoh :

pertama
: kamu salah memahami kontek nash ini, sesungguhnya yang dimaksud Ibnu
Abdil
Barr bukanlah mengenai Abu Rozin Al ‘ Uqoili, tetapi
perselisihan yang yang
diselisihkan dinama dia,lihatlah nashnya yang berwarna merah berikut
ini
beserta terjemahanya

 

لقيط بن صبرة الصحابى، رضى الله عنه((1)):

مذكور فى صفة الوضوء من المختصر والمهذب،
وصبرة بفتح
الصاد وكسر الباء، ويجوز إسكان الباء مع فتح الصاد وكسرها، وهو أبو رزين،
ويقال:
أبو عاصم لقيط بن عامر بن صبرة بن عبد الله بن المنتفق بن عامر بن عقيل
العقيلى
الحجازى الطائفى، هكذا نسبه الجمهور.

وقال بعضهم: لقيط بن عامر غير لقيط بن
صبرة.
قال ابن عبد البر وغيره: وليس هذا بشىء
. قال عبد الغنى بن سعيد المصرى: أبو رزين
العقيلى لقيط
بن عامر هو لقيط ابن صبرة، وقيل: هو غيره، وليس بصحيح.

وقال ابن عبد البر: يقال فيه: لقيط بن
صبرة، ولقيط بن
عامر، ولقيط بن المنتفق. وقال الترمذى فى كتاب العلل: سمعت البخارى يقول:
أبو رزين
العقيلى لقيط بن عامر، هو عندى لقيط بن صبرة.

 

Imam
Nawawi berkata : Laqieth Bin Shobiroh Ash – Shahabi Radhiyallahu
‘Anhu, telah
disebutkan di dalam sifat wudhu yang telah diringkas dan telah di
saring, dan
Shobiroh dengan fathah shodnya dan kasroh ba’nya, dan boleh
ba’nya disukunkan
dengan kasroh shod dan kasrohnya,dan dia adalah Abu Rozin, dan
dikatakan Abu
‘Ashim Laqieth Bin ‘Amir Bin Shobiroh Bin Abdillah
Al – Muntafiq Bin ‘Amir Bin
‘Aqiel Al – ‘Uqoili Al – Hijazi
Ath – tho’ifi,demikianlah yang Jumhur
menyandarkan keturunannya.

dan
sebagian dari mereka berkata, Laqieth Bin ‘Amir bukanlah
Laqieth Bin Shobiroh.Ibnu
Abdil Barr dan yang lainnya berkata ini ( perselisihan nama ini
)bukanlah apa –
apa.
Abdul
Ghoni Bin Sa’id Al – Misri : Abu Rozin Al
– ‘Uqoili,Laqieth Bin
‘Amir dia adalah Laqieth Bin Shobiroh dan dikatakan dia
adalah lain dan ini
tidak benar.dan Ibnu Abdil Barr berkata : dikatakan di dalamnya ( nama
Abu
Rozin-pent )Laqieth Bin Shobiroh, dan Laqieth Bin ‘Amir, dan
Laqieth Al –
Muntafiq, dan berkata Tirmidzi di Al – ‘Ilal, Aku
mendengar Bukhori berkata Abu
Rozin Al – ‘Uqoili Laqieth Bin ‘Amir
menurutku dia adalah Laqieth Bin Shobiroh.(
Tahdzib Al – Asma Wa Lughot kepunyaan Abu Zakariya Muhyi Ad
– Din An – Nawawi [
2/84 ]).

Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman

 

وَمَنْ أَظْلَمُ
مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ
عَمَّا
تَعْمَلُونَ ( البقرة :140 ).

 

 

Artinya
:
“ Dan siapakah yang
paling dzolim dari pada orang yang menyembunyikan
persaksiannya dari Allah,dan Allah tidaklah lengah dengan apa
– apa yang kalian
perbuat”.
(
Qs. Al – Baqarah : 140 ).

 

Abu
safaly
bertanya :

 2).Bagaimana
kalian meyakini apa yang dikatakan dalam riwayat si Arab Baduwi ini
yang
meniscayakan Allah itu butuh kepada tempat dan lebih konyol lagi adalah
bahwa
awan/’Amâ’ sudah ada bersama Allah atau
bisa jadi malah sudah ada sebelum
Allah!! Sebab semua itu telah ada sebelum Allah menciptakan
ciptaanNya!! Lalu
siapa yang menciptakan ‘Amâ’ tersebut?

 

Maka kita
menjawab semoga Allah Subhanu
Wata’ala membalas abu safaly, amien,rincian jawaban ini sudah
ada dijawaban
pertanyaan no satu, ringkasnya jika ‘Ama, tersebut di artikan
awan maka artinya
menyelisihi hadits shohih tetapi kita menetapkan yang artinya sama
dengan
hadits shahih ‘ArsyNya di atas air,sesungguhnya arti ini sama
dengan yang ada
dihadits shahih dari Imron Bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhu di
shahih
Bukhari,adapun jika ‘Ama diartikan tidak ada sesuatu yang
bersamaNya ini tidak
ada perselisihan makna seluruhnya antar hadits Abu Rozin Radhiyallahu
‘Anhu dan
hadits ‘Imron Bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhu,adapun
yang mengatakan Allah butuh
tempat kamu sendiri yang berbicara itu,memang kotor otakmu,innalillah
perkara
yang seperti ini adalah perkara yang sangat besar ini permasalahan
mensifati
dzat Rabb bias – bisanya zindiq satu ini,mengambil ibarat
bisa jadi malah ada sebelum
Allah, dari mana zindiq ini ngambil Aqidah istiqfarlah, masa
permasalahan yang
besar begini pake kata bisa jadi !!

 

Abu safaly
bertanya :

3).Apa itu
artinya kalian meyakini ada
Dzat yang Qadîm selain Allah SWT?!

 

Maka kita
menjawab semoga Allah melipat
lidah kamu abu safaly

Maha suci
Allah atas apa yang kamu
sebutkan, kalau kamu belum jelas buka ( Qs. Al – Hadid : 3
).mungkin kamu belum
belajar,permasalahan yang seperti ini sudah diketahui oleh anak yang
baru
belajar bahkan orang awwam pun,nasehat untukmu tinggalkanlah ilmu
kalam,dan
berkata Abu Yusuf :”
Barangsiapa yang mencari ilmu dengan ilmu kalam maka
dia akan menjadi zindiq”.

 

Abu safaly
bertanya :

4).Apakah
kalian percaya kepada seorang
alim atau berakal seperti Albâni setelah
mendha’ifkan hadis itu ia tetap saja
membangun keyakinannya di atasnya?!

Maka kita
menjawab semoga melindungi kita
dari fitnah, amien

Ya kami
percaya kepada orang ‘Alim seperti
Syaikh Albani Rahimahullah seperti yang dianjurkan Rasulallah
Shalallahu
‘Alaihi Wasallam,kalau kita tidak percaya beliau maka ini
adalah zaman sebelum
datangnya hari kiamat dan percaya sama tuti ( tukang tipu ) seperti
kamu juga
tandanya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata :
Akan datang zaman
sebelum datang hari kiamat tahun – tahun penipuan, orang yang
amanah di
dustakan, dan orang yang berdusta di benarkan, dan berbicaranya
Ruwaibidhoh,dikatakan siapakah Ruwabidhoh itu, dia berkata orang bodoh
yang
berbicara di dalam permasalahan umum”.

( HR.Ibnu Majah,Musnad Imam
Ahmad
dan lainnya ).

Adapun
keyakinan yang diyakini Syaikh
Albani yaitu yang tidak menyelisi hadits shahih yaitu Allah di atas
ArsyNya dan
Arsynya di atas air seperti hadits Imron Bin Hushain Radhiyallahu
‘Anhu telah
lalu dipertanyaan yang pertama dan yang kedua dengarkanlah kaset Syekh
Albani
di Silsilah Huda Wa Nur tentang diskusinya beliau dengan muridnya Hasan
As –
Segaf,adapun buku yang kamu rujuk Mukhtasor Al – Uluw saya
tidak mendapatkannya
dibuku saya dan perlu diketahui cetakan bukunya Syaikh Albani Cuma
satu, yang
kamu pakai cetakan apa?

Dan
akhirnya semoga bermanfaat tulisan ini.

 

Akhukum Abu
Bakr Fahmi Abu Bakar Jawwas

      
Yang mengharapkan maaf  Rabbnya

Seyoon
Hadramaut 12 Dzulqo’dah 1430 / 31
Oktober 2009

                                            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                             

 

                                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                   

                                                 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASURANSI Oktober 20, 2009

Filed under: Fatwa - fatwa ulama Ahlu Sunnah — fahmijawwas @ 3:28 pm

ASURANSI

Muhadharah  : “Ma’ali Al – Allaamah anggota Lajnah Ad – Da’imah  As – Syaikh dokter Sa’ad Bin Naashir As – Syitry

 

Sebelum saya memulai pembicaran tentang asuransi, saya ingin menetapkan beberapa kaidah Syar’iyyah yang bisa dibilang kaidah ini sebagai pembukaan judul ini.

1.Sesungguhnya Syari’at Islam ditetapkan untuk maslahat makhluknya dan sesungguhnya kita jika ingin memperbaiki keadaan manusia di dunia dan akheratnya maka harus berpegang teguh dengan hukum – hukum Syari’at yang suci yang baik untuk kebaikan di setiap zaman dan di setiap tempat dan dalil ini adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (الأنبياء : 107).

 

Artinya :”Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” ( Qs.Al – Anbiya :107)

Dan rahmat terjadi karena dengan berpegang teguh kepada syari’at ini dan dalilnya adalah Firman Allah Subhanahu Wata’ala

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ( المائدة : ٣ ).

 

Artinya : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama kalian,Maka barang siapa terpaksa ( yakni makan – makanan yang dilarang oleh ayat ini seperti bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kalian menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala. Dan mengundi nasib dengan anak panah), karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. Al – Ma’idah : 3 ).

Dan sempurnanya nikmat itu di dapatkan dengan Syari’at ini yaitu Syari’at Islam dan untuk itu Allah Subhanahu Wata’ala telah berjanji kepada wali – waliNya dari orang yang beriman jika mereka melakukan apa – apa yang ada di Syari’at Rabb semesta alam ini untuk mempermudah mereka perkara – perkara dunianya dan perkara – perkara akheratnya seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala

 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (  ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ( الطلاق : 2 – 3 ).

 

Artinya : “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Memberikan baginya jalan keluar ) # ) Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka, dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan perkara yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” ( Qs. Al – tholaq : 2 – 3).

2.Sesungguhnya Syari’at Islam itu tidaklah hanya sebatas ketergantungan hamba dengan Rabbnya saja, atau dengan ibadahnya seseorang kepada Rabbnya, atau akhlak saja tetapi Syari’at Islam itu Syari’at yang umum ( menyeluruh –pent ) tidaklah sesuatu yang ada di dalam hidup manusia ini kecuali sudah di hukumi oleh Syari’at ini dan diterangkan hukum Allah Subhanahu Wata’ala di dalamnya dan untuk itu telah datang nash dengan menerangkan sesungguhnya Syari’at ini umum untuk seluruh keadaan manusia Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

                          

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ( المائدة : 162 ).

 

Artinya : “Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” ( Qs. Al – Ma’idah : 162 ).

3.Sesungguhnya sisi maslahat di dalam hukum – hukum Allah Subhanahu Wata’ala kadang tampak oleh beberapa hamba Allah Subhanahu Wata’ala dan kadang tersembunyi terhadapnya, dan beberapa hukum kadang tampak jelas kepada manusia seluruhnya sisi kemaslahatanya dan kadang tersembunyi terhadap manusia dan tidak mengetahui sisi adanya maslahat itu sendiri dan tidak mengetahui kebahagian yang dia dapatkan dengan hukum itu.

4.Sesungguhnya kembalinya hukum – hukum mu’amalahnya manusia di dalam berjual – belinya dan yang berbentuk materi itu kepada Al – Qur’an dan Sunnah, sesungguhnya telah datang nash dengan menerangkan bahwansanya iman itu terjadi dikarenakan berhukum kepada kedua asal ini yaitu Al – Qur’an dan Sunnah Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman

 

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ( النساء : 65 ).

 

Artinya : “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” ( Qs. An – Nisa’I : 65 (.

dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا ( الأحزاب : 36 ).

 

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa yang durhaka kepada  Allah dan Rasul-Nya Maka sungguh Dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” ( Qs . Al – Ahzab : 36 ).

Dan ketika itu maka ketika terjadi suatu perselisihan atau apa – apa yang akan kita dapatkan dari kejadian – kejadian manusia maka sesungguhnya kita kembali kepada Al – Qur’an dan Sunnah karena Al – Qur’an dan Sunnah mengandung segala sesuatu dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

 

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ ( النحل : ٨٩ ).

 

Artinya : “Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” ( Qs. An – Nahl : 89 ).

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا ( النساء : 59 ).

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan pemimpin – pemimpin kalian . kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” ( Qs. An – Nisa’I : 59 )

Maka perkataannya شَيْء nakirah ( tidak ada alif laam ) di dalam penyebutan Syarath maka menjadi umum di dalam segala Sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia baik itu dalam perbuatannya mereka, ibadahnya mereka, nikah – nikahnya mereka, perseteruan mereka, makanan – makananya mereka, atau selain dari itu, maka jika telah tetap seperti ini maka sesungguhnya dari ketetapan – ketetapan  yang ada yang Syari’at datang dengan menerangkan hukum – hukumnya ketetapan – ketetapan yang ada di dalam masalah asuransi, dan asuransi adalah suatu ketetapan harta yang karena itu maka haruslah bagi kita agar memahami asuransi ini sebelum kita berpindah ke permasalahan mengetahui hukum – hukum Allah Subhanahu Wata’ala  di dalamnya, apakah asuransi ini, asuransi adalah membayarnya seseorang dengan mengangsur dengan waktu yang berbeda, untuk sesuatu yang jika terjadi baginya kecelakaan maka wajib bagi orang yang telah dibayar uang angsuran yang telah lalu untuk membayar harta kepada orang yang terjadi baginya kecelakaan ini dan asuransi  masuk kepada ummat  kurang lebih dua abad terakhir dan ketika itu para ulama Syari’ah membahas permasalahan akad yang baru ini dan mereka menerangkan hukumnya  dan berkumpullah perkumpulan ulama – ulama fiqh dan ulama – ulama ilmu pengetahuan yang mulia di dalamnya dan jika manusia telah melihat di dalam perkataan – perkataan ulama Syari’at mereka mendapatkan sesungguhnya ulama – ulama membagi asuransi menjadi dua, asuransi At – Tijari ( komersial ) dan asuransi At – Ta’awuni ( yang atas dasar tolong menolong )

(1).Yang dimaksud dengan asuransi At – Tijari ( komersial ) adalah adanya suatu serikat atau lembaga yang mana tugasnya serikat ini mengambil pembayaran angsuran dari seseorang maka jika terjadi suatu kecelakaan serikat itu membayar kepadanya uang tersebut sebagai ganti dari pembayaran yang diangsur tersebut, seperti apa yang  telah serikat itu sepakati kepadanya, dan Asuransi At – Tijari ( komersial ) telah keluar ketetapan – ketetapan  dan fatwa – fatwa dari perkumpulan ulama dengan pelarangannya dan kebanyakan dari ulama – ulama ummat ini mengharamkannya dan tidak membolehkannya dan untuk itu dari pertama orang yang mengeluarkan ketetapan ini dengan pelarangan dan keharamannya ulama – ulama besar negeri ini ( Saudi Arabia ) dan di ikuti beberapa perkumpulan ulama – ulama fiqh seperti Majma’il Fiqh Bi Robithotil ‘Aalamil Islami dan Majma’il Fiqhil Islami yang bagian dari Al – Munadzdzomul Mu’tamaratil Islami, dan sebab dari pengharaman asuransi At – Tijari ( komersial ) ada beberapa perkara

1.Sesungguhnya akad ini mengandung riba dan sisi kandungannya terhadap riba adalah bahwasanya seseorang yang anggota Asuransi membayar dengan angsuran, kemudian setelah itu mengambil uang itu darinya pengganti uang itu dengan uang yang lainnya, tidak ada kesamaan disana, tetapi seringnya keduanya lebih dari pada yang lainnya, dan riba adalah membayar uang yang lebih  dengan ganti uang yang lebih pula dengan cara  salah satunya lebih dari pada yang lain dan ini pasti ada di dalam asuransi dan tidak diragukan lagi ini haram hukumnya Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

 

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ( البقرة : 275 ).

 

Artinya : “Allah Subhanahu Wata’ala telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” ( Qs. Al – Baqarah : 275 ).

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (البقرة : 278).

 

Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” ( Qs. Al – Baqarah : 278 ).

2.Mengandung perjudian di dalamnya dan sisi kandungannya adalah sesungguhnya seseorang membayar dalam keadaan yakin dan dia tidak tahu apakah dia akan mendapatkan ganti dari uang tersebut atau tidak ? dan perjudian itu adalah kerugian yang diketahui dengan yakin ( yakni seseorang membayarkan uang itu dalam keadaan yakin ) sebagai ganti kerugian yang mungkin akan terjadi atau tidak terjadi dan hasilnya dan yang akan kembail kepadanya sebagai ganti dari harta yang pertama, mungkin dia akan di bayar dan mungkin dia tidak di bayar dan ini pasti di dalam Asuransi At – Tijari ( komersial ), maka kamu membayarkan uang dan kamu tidak mengetahui apa kamu akan kecelakaan dan mendapatkan hak kamu sebagai gantinya atau tidak terjadi sesuatu, dan ketika itu dia masuk keumuman dalil tentang pelarangan berjudi Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ( المائدة : 90 ).

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” ( Qs. Al – Ma’idah : 90 ).

3.Mengandung penipuan dan sisi kandungannya adalah seseorang membayar uang dan dia tidak tahu apakah dia akan mendapatkan ganti uangnya itu atau dia tidak mendapatkannya, dan ini adalah penipuan Syari’at telah datang mengharamkan penipuan di dalam perbuatan dan di riwayatkan di shohih Muslim sesungguhnya Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam :” melarang jual beli yang di dalamnya ada unsur penipuan.

4.Di dalamnya terdapat memakan harta seseorang, karena serikat asuransi mengambil harta dari manusia dan menahannya dan tidak membayarkanya gantinya itu ( seperti semula ) kecuali sedikit dan tidak berarti, dan memakan harta orang lain tanpa alasan yang Syar’I itu adalah termasuk sesuatu yang haram seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (النساء :٢٩ ).

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” ( Qs. An – Nisa’I : 29 ).

Dan ini bukanlah dari bentuk perniagaan maka ketika itu menjadi dilarang darinya.

5.Di dalamnya juga terdapat jual beli dalam bentuk hutang – piutang, sesungguhnya orang yang mengasuransikan diri membayar uang dengan mengangsur dan sebagiannya di akhirkan  yang gantinya dibayarkan ketika terjadi kecelakaan, maka ketika itu terjadi jual beli dalam bentuk hutang – piutang dan sebagian ahlul Ilmi mengharamkan jula beli dalam bentuk hutang – piutang dan telah ada hadits Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam melarang jual beli yang tidak ada dengan yang tidak ada ( hutang piutang ).tetapi haditsnya dhoif, dan  yang menjadikan patokan adalah telah adanya ijma’.

(2).Asuransi At – Ta’awuni ( yang di dasarkan tolong menolong ) atau disebut dengan Asuransi Al – Badali (  yang diganti )dan ringkasan dari asuransi ini adalah berkumpulnya suatu perkumpulan manusia yang mereka membayarkan uang – uang mereka dan jika terjadi dari mereka sesuatu yang membahayakan maka sesungguhnya orang itu mengambil ganti dari sesuatu yang membahayakan itu dari apa  yang telah mereka kumpulkan seperti berkumpulnya pekerja ( pegawai )suatu daerah kemudian mereka membayar 100 riyal seluruhnya, mereka membayar 100 riyal untuk kotak yang ada di antara mereka maka jika terjadi di antar mereka sesuatu yang membahayakan atau terlibat kesulitan akan diganti dari kotak tersebut  dan ini terjadi di zaman kita kotak untuk kebaikan yang ditujukan untuk kekeluargaan atau kepunyaan beberapa daerah pemerintahan dan ini semua masuk di dalam Asuransi At – Ta’awuni ( yang di dasarkan tolong menolong )telah keluar fatwa – fatwa dari perkumpulan ulama dan ulama – ulama besar dalam membolehkan yang semacam ini dari asuransi ini dan mereka berdalilkan untuk itu dari beberapa nash dan darinya adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala

 

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (  المائدة : ٢ ).

 

Artinya : “ Dan tolong-menolonglah kalian  dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan kalian  tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” ( Qs. Al – Ma’idah : 2 ).

Mereka berkata dan ini dalam rangka tolong – menolong dalam kebaikan maka masuklah di dalam ayat ini, dan juga mereka berdalilkan hadits Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam :” Permisalan seorang mu’min di dalam kecintaannya, kasih sayangnya dan lemah lembutnya seperti tubuh yang satu jika salah satu anggota tubuhnya sakit maka seluruh tubuhnya akan merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur (begadang ).” ( HR. Shohihan ).dan  hadits Abu Musa Al – Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam besabda : “ permisalan seorang mu’min dengan mu’min lainnya seperti bangunan yang menguatkan sebagian dengan bagian yang lainnya.” ( HR.Shohihain ).dan perkataan menguatkan sebagian dengan bagian yang lain masuk darinya jika bertolong – menolong dalang mewujudkan kotak di antara mereka agar nanti jika di alih dana itu kepada orang yang terkena sesuatu yang bahaya dan mereka juga berdalilkan hadits Abu Musa Al – Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu  berkata Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :”Sesungguhnya orang – orang Asy’ari ( disandarkan kepada Isy’ar qobilah di yaman ) jika kehabisan bekal – bekal mereka ketika peperangan atau jika tinggal sedikitnya makanan keluarganya dikota Madinah mereka mengumpulkan apa – apa yang ada pada mereka di satu pakaian kemudian mereka membagi – bagikan di antara mereka di dalam satu bejana dengan sama rata maka mereka adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka.” ( HR. Shohihain ).dan mereka juga berdalil dengan anjuran agar menyantuni muslim di antara mereka dari bahaya yang menimpa dan Syari’at telah datang dengan sifat – sifat penyantunan di dalam islam tentang keprihatinannya terhadap orang islam sebagian dengan sebagian lainnya di dalam kebutuhannya.

PERBEDAAN ANTARA ASURANSI AT – TIJARI ( KOMERSIAL ) DENGAN ASURANSI AT – TA’AWUNI ( ATAS DASAR TOLONG – MENOLONG )

1.Di dalam permasalahan niat dan tujuannya dari keduanya, Asuransi At – Tijari ( komersial ) ditujukan untuk perniagaan dan keuntungan dari harta yang akan di dapatkan, adapun Asuransi At – Ta’awuni, mereka bertujuan tolong menolong diantara mereka.

2.Sesungguhnya angsuran yang di bayarkan di dalam Asuransi At – Tijari ( komersial ) tergantung apa yang telah disepakati di antara mereka maka wajib bagi angota asuransi  tersebut untuk membayar kepada mereka untuk itu beberapa manusia mereka sama atas uang yang akan diberikan kepada mereka tetapi mereka berselisih dalam nominal uang yang akan di bayarkannya kepada serikat asuransi misal dari itu ada dua orang yang mempunyai dua mobil yang mirip dari jenis yang sama dari model yang sama dan dua sopir derajat kemampuannya sama dan dengan itu mereka berselisih dalam masalah pembayaran angsuran diantara mereka yang dibayarkan kepada serikat asuransi, maka berbeda dengan Asuransi At – Ta’awuni ( atas dasar tolong – menolong ) sesungguhnya angsuran yang akan di bayarkannya sama maka jika di dapatkan satu dengan sifat yang sama dan cara yang sama dan ciri – ciri yang sama maka sesungguhnya mereka membayarkan angsurannya juga sama.

3.Sesungguhnya Asuransi At – Ta’awuni ( atas dasar tolong – menolong )uang yang akan di bayarkan di dalamnya yang dihasilkan ketika kecelakaan terhadap seseorang dari segi penggantian saja maka tidak dibayarkan kepada dia kecuali ganti dari kerugian yang di dapatkannya, berbeda dengan Asuransi At – Tijari ( komersial )maka sesungguhnya ganti yang akan di bayarkan tidak berkaitan dengan bahaya yang tertimpa manusia tersebut tetapi sekedar kesepakatan, yang seperti itu jika terjadi kecelakaan terhadap mobilnya maka asuransi At – Tijari ( komersial )sesungguhnya ganti yang akan di bayarkan adalah sekedar apa yang disepakati kepadanya kadang mereka bersepakat dengan uang yang sangat besar yang di bayarkan kepadanya jika terjadi kecelakaan terhadap mobil ini, berbeda dengan Asuransi At – Ta’awuni ( atas dasar tolong – menolong ) maka sesungguhnya ganti yang di bayarkan adalah di lihat dari bahayanya.

4.Asuransi At – Ta’awun ( atas dasar tolong – menolong )tidak mendapatkan jaminan kecuali yang terkena mara bahaya, berbeda dengan Asuransi At – Tijari ( komersial )maka sesungguhnya itu terkadang mendapatkan berita yang menggembirakan atau dari perkara – perkara yang bukan di dalamnya terdapat sesuatu yang membahayakan misalnya anggota Asuransi At – Tijari ( komersial )mendapatkan kemenangan untuk kelompok yang membayar angsuran tiap bulannya maka jika menang suatu kelompok maka dia akan berhak mendapatkan harta yang banyak tergantung dengan apa yang disepakatinya, berbeda dengan Asuransi At – Ta’awuni ( atas dasar tolong – menolong )maka sesungguhnya dia tidak berhak mendapatkan gantinya kecuali jika dia tertimpa bahaya dan tidak melebihi biaya kecelakaan tersebut.

5.Sesungguhnya Asuransi At – Tijari ( komersial ) apa – apa yang lebih dari uang di dalamnya maka di ambil oleh serikat Asuransi At – Tijari ( komersial ) dan tidak akan kembali kepada angota asuransi, berbeda dengan Asuransi At – Ta’awuni ( atas dasar tolong – menolong ) maka sesungguhnya dimbil darinya uang – uang pengganti yang di bayarkan untuk beberapa orang yang mereka tertimpa bahaya adapun sisanya akan di bayarkan atau kembali kepada anggota auransi tersebut atau kepada anggota – anggota asuransi yang telah membayar angsuran – angsuran  tersebut.

 

                               

Abu Bakr Fahmi Abu Bakar jawwas

Yang mengharapkan rahmat dan ridho Rabbnya

Darul Hadeth Syeher Hadramaut 1 Dzulqo’dah 1430 H / 20 Oktober 2009

 

 

 

hadiah buat abu salafy Oktober 15, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

Dibuatnya tulisan ini bukanlah untuk tujuan lain tetapi karena cemburunya saya atas apa yang dilakukan oleh abu salafy terhadap ulama – ulama Sunnah dan ini adalah pembelaan terhadap yang haq yang mana bagi seorang muslim tidak boleh diam untuk ini apa lagi bagi para penuntut ilmu seperti saya dan juga para Asatidzah lebih lagi, berapa banyak pembelaan – pembelaan terhadap yang haq di dalam hadits Riyah Bin Al – Harits berkata :” Aku sedang duduk – duduk disisi fulan dimasjid kufah dan di dalamnya ada orang – orang dari kufah maka datang Sa’id Bin Zaid Bin ‘Amr Bin Nufail kemudian dia berkata marhaban dan memberikan kata selamat dan di dudukilah dia di kasur, maka datanglah seorang pria dari kufah disebut namanya Qois Bin Al – Qomah maka menghadap kepadanya dan mencerca.kemudian Sa’id berkata :”siapa yang dicerca pria ini ?dia berkata :” dia memcerca Ali Radhiyallahu ‘Anhu, Sa’id berkata :” Aku tidak habis fikir seorang shahabat Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dicerca depan kamu kemudian kamu tidak mengingkarinya dan tidak merubahnya?Aku telah mendengar Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dan sungguh aku telah mencukupiku dari perkataanku kepada beliau sesuatu yang tidak dikatakannya (artinya tidak menyandarkan perkataan kepada Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam yang tidak dikatakannya), maka bertanyalah kepadaku tentangnya besok jika aku bertemu dengannya Abubakar di surga, Umar di surga, Utsman disurga, Ali di surga surga,Tholhah disurga Zubair Bin Awwam di surga, Sa’ad Bin Malik di surga, Abdurrahman Bin ‘Auf di surga, kalau kamu mau akan aku sebutkan yang kesepuluh dia berkata : mereka berkata siapa dia ( yang kesepuluh )?maka dia diam,mereka berkata siapa dia?dia berkata Sa’id Bin Zaid, kemudian dia berkata :”sungguh hidupnya salah satu dari mereka bersama Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dalm keadaan wajahnya berdebu lebih baik dari amal/perbuatan – perbuatan kalian seluruh hidupnya,walaupun umurnya seperti Nabi Nuh ‘Alaihi Salam (950 tahun).” (HR.Abu Dawud {12/401-402} di dalam Shahih Musnad min Dalaa’ilin Nubuwwah Karya Syaikh Muqbil Bin Hadi Al – Wadi’I Rahimahullah ) lihatlah pembelaan shahabat terhadap shahabat lainnya ketika dicerca,dan juga kagetnya shahabat ketika ada seseorang yang diam tidak mengingkari dan merubah ketika mendengar shahabat atau orang yang baik dicerca,dan juga shahabat tidak akan menyandarkan perkataan kepada Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam yang beliau tidak mengatakannya pertanyaan buat abu salafy apakah orang yang seperti ini tidak perlu untuk mengikutinya seperti yang kamu katankan ?,dan juga rendah dirinya seorang shahabat tidak mau menunjukan dirinya sebagai orang yang kesepuluh yang masuk surga,dan diriwayat lain orang – orang yang mendengar Sa’id Bin Zaid bersumpah Atas nama Allah agar dia Sa’id Bin Zaid bersedia memberitahukan siapakah orang yang kesepuluh yang masuk surga itu? dan juga keutamaan para shahabat walaupun seseorang umurnya 950 tahun beramal ibadah tidak akan menyamakan amalnya para shahabat Ridwanullah ‘Ajmain dan diriwayat lain walaupun seluruh umurnya berbuat amal baik tidak akan menyamakan setengah dari amalnya shahabat itu,subhanallah Allahu Akbar, semoga Allah Subhanahu Wata’ala mempermudah membuat tulisan – tulisan ini , amien

Hadiah buat abu salafy

Ana namakan ini hadiah agar dia mau menerima nasehat ini dan tidak menolaknya seperti dihadits Ibnu Mas’ud Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Janganlah kalian menolak hadiah.” ( HR.Bukhari dishohihkan oleh Syaikh Albani, Baihaqi diSyu’abnya, Ahmad, Thohawi) afwan saya tulis nama antum dengan huruf kecil karena tidak ada kehormatan buat ahli bathil,siapakah abu salafi ini.?

1.Sepertinya kamu adalah seseorang yang hasad kepada Ahlussunnah yang mana mereka telah sering menasehatimu, sehingga kamu menolaknya entah kamu mengetahui bahwa kamu itu salah ataupun tidak.

2.Atau kamu seorang syi’I yang mengaku – ngaku membela Ali Radhiyallahu ‘Anhu dan mengkafirkan para shahabat lainnya dan Ali Radhiayallahu ‘Anhu berlepas diri dengan ini.

3.Atau orang yang bodoh sekali yang tertipu dari apa – apa yang mereka dengar dari perkataan orang – orang munafiq dan orang – orang yang punya keragu – raguan di dalam agamanya.

4.Atau juga seorang zindiq yang ingin menghancurkan islam lewat pemikiran – pemikiran yang bertuhankan otak belaka dan memberikan syubhat – syubhatnya kepada ummat Na’udzu billah min khudzlani dunia qoblal akhirat.Padahal Ali Bin Tholib Radhiyallahu ‘Anhu berkata : “kalau seandainya agama ini didirikan dengan akal sungguh mengusap bawahnya khuf ( kata Ibnul Faris di Mu’jam Maqayisil Lughah alas kaki yang lebih tinggi dari sandal ) lebih diutamakan dari pada mengusap atasnya khuf sungguh aku telah melihat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengusap begian atas kedua khufnya.” ( HR.Abu dawud dishahih Abu Dawud {153 }, Daruquthni { 73 },Baihaqi { 1 /229 }, Ibnu Hazm di dalam Muhalla { 2/111 } )kamu adalah orang yang pantas menerima nasehat ini karena kamu dengan gigih mengutamakan Ali dari pada Abubakar Radhiyallahu ‘Anhuma,untuk masalah yang itu nanti ada bagiannya insya Allah, dan yang lebih lucu lagi Syi’ah menolak hadits itu.

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman di dalam kitabNya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (ال عمران : 118)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” ( Qs.Ali Imron : 118 )

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (ال عمران : 54  (

Artinya : “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” ( Qs.Ali Imron : 54 )

Adapun perkataanku tentang zindiqnya kamu itupun berdasarkan fatwa ulama Syaikh dokter Sholeh Bin Fauzan Al – Fauzan di dalam kitabnya Muhadharatun Fil Aqidah Wada’wah Al – Khilafu Bainal Ulama’ Wa Mauqiful Muslimi Minhu (Hal :124) cetakan Maktabah Al – Islamiyyah Mesir, beliau berkata :” Ulama mereka mempunyai tempat dan derajat yang tinggi dan tidaklah seseorang yang menghina kedudukannya kecuali zindiq yang melenceng dari jalan yang benar yang membenci kebenaran dan orang yang berjalan diatasnya atau orang bodoh sekali yang tertipu dari apa – apa yang mereka dengar dari perkataan orang – orang munafiq dan orang – orang yang punya keragu – raguan di dalam agamanya.seperti yang diceritakan Allah Subhanahu Wata’ala di dalam Al – Qur’an bahwasanya orang – orang munafiq mencaci Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Shahabat beliau, dan mereka berkata :” kami tidak melihat seperti mereka ini pembaca – pembaca Al – Qur’an kita dan sangat senang mendahulukan perut – perut mereka dan yang sangat dusta perkataannya dan yang sangat takut jika peperangan “ yang mereka maksud adalah Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya maka Allah Subhanahu Wata’ala turunkan ayat kepada Rasulnya

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ( )لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (التوبة : 65 – 66 )

Artinya : “ Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

(#) “ Janganlah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman. jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” ( At – Taubah : 65 – 66 )

Maka bagi orang – orang yang menghina ulama di zaman ini mereka terkena ayat ini sebatas kebenciannya terhadap ulama.”

Plin – planya abu salafy ini tidak menyukai salafi tetapi memakai kunyahnya abu salafy, walaupun kunyah itu belum tentu dari nama anaknya seperti kunyahnya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dengan Ummu Abdillah yang mana  ana yakin dia tidak mempunyai anak yang dinamakan salafi,atau orang yang senang akan apa yang dia sandarkan seperti Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu beliau senang dengan yang namanya kucing sehingga dia dijuluki Abu Hurairah,adapun kamu tidak ini tidak juga itu.Yang pertama saya bahas tentang kritikannya terhadap fatwa ulama Ahlussunnah tentang hukumnya bertepuk tangan sebelum saya bahas masalah ini kita bahas dulu masalah adab – adab menasehati pemerintah, yang dengan bodohnya abu salafy ini menhinakan ulama Ahlussunnah ( Syaikh Bin Baz Rahimahullah ) Cuma dikarenakan dia mengira Syaikh Bin Baz tidak menasehati pemerintahan Saudi buruk sekali perkiraanmu kepada ulama pewaris para Nabi,telah datang hadits dari Katsir Bin Qois berkata aku bersama Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu sedang duduk –duduk di masjid Damaskus maka datanglah seseorang kepadanya wahai Abu Darda’ aku mendatangimu dari kotanya Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam karena suatu hadits yang sampai kepadaku bahwasanya kamu yang samapikan hadits itu dari Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan aku tidak mendatangimu untuk keperluan suatu apapun beliau berkata sesungguhnya aku mendengar Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :“ Barangsiapa yang berjalan mencari ilmu di dalamnya maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga dan sungguh malaikat mengepakan sayap – sayapnya ridho atas apa yang diperbuat oleh seorang pencari ilmu dan sesungguhnya ulama dimintakan untuknya permintaan ampunan seluruh yang ada di langit dan di bumi dan juga ikan yang ada di dalam air dan sesungguhnya keutaman ulama dari pada ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama di malam hari terhadap planet – planet lainnya sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham ( harta-pent ) tetapi mewariskan ilmu barang siapa yang mengambil ilmu tersebut maka dia mengambil dengan sangat tepat.”( HR.Ahmad,Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Darimi dan dihasankan oleh Syaikh Albani ) dan sungguh dia tidak ada adabnya sama sekali pada ulama sama seperti adab – adab orang munafik dahulu mereka berburuk sangka kepada Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan orang – orang yang beriman Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا (الفتح : 12)

Artinya : “ Tetapi kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menghiasi menjadikan kalian memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kalian telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kalian menjadi kaum yang binasa.(QS.Al – Fath :12 )

Wahai abu salafy yang bodoh yang majhul (tidak diketahui ) bentuknya ada nama tidak ada gambar he,he,he,seperti angin dan para lelembut kali yah,atau mungkin kentut?biarlah kalian yang menilai

ingatlah bahwasanya Ahlussunnah mempunyai kriteria yang khusus dalam menasehati pemerintah yaitu menurut ajaran Al – Qur’an dan Sunnah dan Salaf Sholeh ( orang – orang baik yang terdahulu ), buat apa diberitahukan kekamu siapa dirimu tidak mendatangkan manfaat dan juga mudharat, lihatlah dibeberapa buku biografinya Syaikh Abdul Aziz Bin Baz Rahimahullah bahwasanya beliau dituliskan sifat – sifat beliau dan salah satunya adalah menasehati ulama secara rahasia.inilah

Fatwa Syaikh Abdul Aziz Bin Baz Rahimahullah berkata :” Adapun mencerca pemerintah diatas mimbar – mimbar bukan suatu pencegahan, maka pencegahan baginya adalah didoakan agar mereka diberikan hidayah dan taufiq dan memperbaiki niat dan memperbaiki orang – orang yang dekat dengan pemerintah ini adalah pencegahan, karena mencercanya tidaklah mendatangkan kebaikan, dan juga maslahat maka sesungguhnya mencercanya dan melaknatnya bukanlah ajaran agama Islam.” ( dinukilkan dari kitab Syaikh Abdul Malik Romadhoni Al – Jaza’iri Wafaqahullah Fatawaa ulama’il Akabir Hal : 65 ).

Fatwa Syekh Utsaimin yang dinukilkan oleh Syekh Abdullah bin Mar’ie Bin Buraik dan beliau adalah murid Syaikh Utsaimin,ketika Syaikh Utsaimin ditanya kenapa kalian tidak membantah pemerintah ?Syaikh Utsaimin menjawab dengan dua jawaban

1.Jika seandainya kami kabarkan kepada kalian apa yang terjadi diantara kami dan pemerintahan maka sesungguhnya diri kami tidak aman dari riya’ dan sum’ah ( memperdengarkan amalan baik –pent ) dan lainnya

2. Jika seandainya kami kabarkan kepada kalian apa terjadi diantara kami, dan kalian mengetahuinya bahwasanya mereka menolak / tidak menerima nasehat itu maka kalian akan menjadikan penolakan itu sebagai alasan untuk keluar kepada pemerintah/berontak.

Fatwa Syaikh Dokter Sholeh Bin Fauzan Bin Abdillah Al – Fauzan di dalam bukunya Al – Ajwibah Al – Mufidah ‘An As’ilatil Manahij beliau ditanya :”Bagaimana caranya menasehati pemerintah secara Syar’i?

Beliau menjawab : “Menasehati pemerintah dapat dilakukan dengan beberapa perkara diantaranya

1.Berdoa agar mereka mendapatkan kebaikan dan terus – menerus dalam keadaan baik karena sesungguhnya perbuatan yang sunnah adalah mendoakan kebaikan untuk pemerintahan kaum muslimin apalagi diwaktu – waktu yang dikabulkan doa – doa dan di tempat – tempat yang diharapkan baginya terkabulnya doa, Imam Ahmad berkata :” Kalau kami mempunyai doa yang dikabulkan sungguh kami akan berdoa untuk penguasa/pemerintah.

karena baiknya suatu penguasa/pemerintahan itu baik pula masyarakatnya, dan buruknya suatu penguasa/pemerintah itu buruk pula masyarakatnya.( dan Fudhail Bin Iyyadh berkata : “Kalau seandainya aku mempunyai doa yang mustajab maka akan aku alihkan untuk pemerintah, seseorang bertanya kenapa seperti itu wahai Abu Ali?maka beliau menjawab jika aku alihkan untuk diriku maka aku tidak mendapatkan pahala dan jika aku berikan untuk pemerintah maka baiknya suatu pemerintahan adalah baiknya masyarakat dan negera, Hulyatul Auliya’ 8/91 – pent )

2.Mengerjakan pekerjaan dari apa – apa yang disandarkankan kepada pemerintahan bagi para pegawai – pegawainya ( yang tidak menyelisihi syari’at )

3.Memperingati mereka dari kesalahan – kesalahan dan kemungkaran – kemungkaran atas apa – apa yang terjadi di masyarakat, dan mereka terkadang tidak mengetahuinya, tetapi nasehat ini dilakukan secara rahasia antara orang yang menasehati dan mereka pemerintah yang menasehati ( seperti yang disabdakan Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :” Barangsiapa yang mempunyai nasehat untuk penguasa maka janganlah dia membicarakannya ditempat terbuka maka hendaklah baginya untuk mengambil tangannya dan berkhalwahlah dengannya ( menyepilah dengannya – pent ) maka jika dia menerima nasehat itu dia akan menerima nasehat itu dan jika dia tidak menerimanya kamu telah menunaikan kewajibanmu (yaitu menasehatinya )dan kamu telah taat kepadanya ( yaitu tidak menyebarkan aibnya ).” (HR.Baihaqi dan Hakim dan dishahihkan oleh Syaikh Albani Rahimahullah – pent )bukanlah nasehat yang sebarkan di depan manusia atau di atas mimbar – mimbar, karena cara ini pengaruhnya buruk, dan menyebabkan permusuhan antara rakyat dan pemerintah.”

Inilah perbedaan antara Ahlu Sunnah/Salafi mereka selalu mengedapankan Al – Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman ulama salaf, aku sangat bangga dengan perbedaan yang ada diantara sifat – sifat Ahlu Sunnah dengan ahlul ahwa bahkan bab ini termasuk pondasi Ahlu Sunnah seperti dihadits Ibnu Umar dan Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘Anhu Rasulallahu shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :” Taat kepada pemerintah di dalam keadaan dia suka dan dalam keadaan dia benci semasih dia tidak memerintahkan kepada maksiat dan jika dia memerintahkan kepada maksiat maka tidak ada ketaatan.” (HR.Abu Daud dan Tirmidzi dan dishahihlan Syaikh Albani Rahimahullah ),dan juga dihadits lain dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :” Barangsiapa yang melihat dari penguasanya sesuatu dan dia membencinya maka hendaklah dia bersabar sesungguhnya yang tidaklah seseorang berpisah dari jama’ah ( yakni tanpa Imam )sejengkal saja kemudian dia mati kecuali dia mati dalam keadaan jahiliyyah.” ( HR.Shohihain ). mana cara – cara yang kau banggakan wahai abu salafy!? Bisanya Cuma mencerca saja sungguh telah benar apa yang dikatakan Imam Al – Barbahari di kitabnya Syarhus Sunnah :” Jika kamu melihat seorang pria mendoakan keburukan atas pemerintah, maka ketauhilah sesungguhnya dia adalah shohibu hawa ( orang yang melakukan perbuatanya berdasarkan hawa nafsu – pent ) dan jika kamu melihat seorang pria mendoakan kebaikan untuk pemerintah maka ketahuilah sesungguhnya dia adalah shohibu sunnah ( orang yang melakukan perbuatanya berdasarkan Al – Qur’an dan Sunnah – pent ) insya Allah.”

**Adapun disebarkanya nasehat untuk pemerintah kepada orang umum disana terdapat beberapa keburukan

1.Di dalamnya terdapat sesuatu dari riya’,dan timbulnya keinginan tinggi hati dan sudah di ketahui akibat dari riya’ itu adalah terhapusnya pahala amalan tersebut, dan perbuatan ketika diamalkan dalam keadaan rahasia itu kesempatan sangat sekali untuk diterimanya amalan tersebut.

2.Sangat sedikit sekali harapanya untuk diterimanya nasehat itu bagi orang yang dinasehati, jika manusia aja malu dinasehati di depan umum pemerintah lebih utama.

3.Sesungguhnya menyebarkan nasehat ketempat umum walaupun yang dikatakannya adalah benar di dalamnya terdapat membuat kekacaun kepada kaum muslimin dan membuat permusuhan antara rakyat dan pemerintah dan ini akan menyebabkan tidak taat dan patuhnya rakyat kepada pemerintah sampai dipermasalahan yang baik sekalipun dan ini adalah jalannya orang – orang khawarij, dan tidaklah terjadi pembunuhan Utsman Radhiyallahu ‘Anhu kecuali apa – apa yang dilakukan beberapa orang yang bodoh terhadap Sunnah yang mengikuti orang – orang yang menginginkan kekacauan terhadap kaum muslimin.

4.Terancam baginya dunianya baik itu nyawanya, hartanya, keluarganya dan lainya, Ibnul Mubarak berkata : “ Barangsiapa yang menghina ulama maka hilanglah akhiratnya dan barangsiapa yang menghina pemimpin maka hilanglah dunianya.”

Adapun mengenai tepuk tangan dibawah ini adalah fatwa – fatwa ulama Ahlussunah yang disertakan dengan dalil dari alqur’an dan sunnah

Dan Syekh Islam Ibnu Taimiyyah berkata :”adapun mendengarkan siulan dan tepuk tangan dan siulan itu seperti bunyinya pluit dan lainnya ini adalah kebiasan pendengerannya orang – orang musyrik yang Allah Subhanahu Wata’ala sebutkan diKitabNya

وَمَا كَانَ صَلاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ ( الأنفال : 35 )

Artinya :”Tidaklah shalat mereka disisi Baitullah itu, kecuali siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.” ( Qs.Al – Anfaal : 35 ) dan Allah Subhanahu Wata’ala mengabarkan tentang orang – orang musyrikin bahwasanya mereka menjadikan siulan dan tepuk tangan sebagai agama dan sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah dan tidaklah Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya berkumpul mendengarkan suara ini dan sama sekali tidak pernah menghadirinya,sampai keperkatanya dan secara globalnya sudah diketahui secara darurat dari agama ini bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mensyari’atkan bagi orang – orang yang shaleh dari ummat ini, ahli ibadahnya dan ahli zuhudnya agar berkumpul untuk mendengarkan bait – bait syair yang dilantunkan dengan bertepuk tangan atau memukulkan beduk atau duf ( rebana yang bermata satu ), seperti tidak dibolehkannya bagi seseorang untuk tidak mengikutinya, dan tidak mengikuti apa yang dia bawa dari Alqur’an dan sunnah, bukan perkara yang dhohir dan juga bathinnya dan juga tidak untuk orang umumnya dan juga orang khususnya tetapi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan keringanan beberapa jenis permainan dipernikahan dan lainnya, seperti diringankan bagi wanita untuk memukul duf ( rebana bermata satu ) di dalam pernikahan dan hari – hari kegembiraan lainnya.

Adapun untuk laki – laki di zaman beliau maka tidak ada seorang shahabat pun yang memukul duf ( rebana yang bermata satu ) dan tidak pula bertepuk tangan, bahkan telah datang hadits shohih dari Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bahwasanya beliau bersabda : “tepuk tangan itu untuk wanita dan tasbih ( subhanallah )untuk pria.”dan beliau melaknat wanita yang menyerupai pria dan melaknat pria yang menyerupai wanita.

Dan ketika lagu dan memukul duf dan memukul telapak tangan dari perbuatan wanita dahulu salaf menamakan perbuatan seperti itu dari pria sebagai banci ,dan menamakan seorang pria yang melantunkan lagu sebagai banci.

Syaikh Hamud At – tuwaijiry berkata : “ dan dari penyerupaan kepada musuh – musuh Allah yaitu apa – apa yang telah dilakukan oleh kebanyaka dari orang – orang bodoh dengan bertepuk tangan dimajlis – majlis dan tempa – tempat berkumpul ketika melihat perbuatan yang menyenangkannya dan ketika mendengar sesuatu yang bagus dari khtubah – khutbah dan sya’ir – sya’ir dan ketika datangnya seorang raja atau pembesar – pembesar kepadanya, dan tepuk tangan ini adalah perbuatan yang hina dan mungkar tertolak dari beberapa segi

1.Di dalamnya menyerupai musuh – musuh Allah dari orang – orang musyrikin dan kelompok – kelompok orang asing dan sebagainya adapun penyerupaannya terhadap kaum musyrikin maka Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman tentangnya

وَمَا كَانَ صَلاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ ( الأنفال : 35 )

Artinya :”Tidaklah shalat mereka disisi Baitullah itu, kecuali siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.” ( Qs.Al – Anfaal : 35 )Ahli Bahasa dan jumhur Ahli Tafsir berkata : mukaa artinya siulan dan tasdiyyah artinya tepuk tangan dan dengan ini Ibnu Abbas dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhum menafsirkannya

Adapun Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma maka telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir tentangnya dan di dalamnya :”sesungguhnya Ibnu Umar menceritakan perbuatan orang – orang musyrikin mereka bersiul dan mencondongkan pipinya dan bertepuk tangan “ dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim tentang Ibnu Umar sesungguhnya dia berkata :” Bahwasanya mereka orang – orang musyrikin menaruh pipi – pipi mereka diatas tanah, bersiul dan bertepuk tangan.

Adapun Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma maka telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dan Abul Faraj Ibnul Jauzi tentang Ibnu Abbas dan lafadznya Ibnu Abi Hatim berkata :”dahulu kaum Quraisy thowaf/mengelilingi Bait/Ka’bah dalam keadaan telanjang, dengan melakukan siulan dan bertepuk tangan dan Al – Mukaa artinya siulan dan At – Tashdiyah artinya tepukan tangan .” inilah yang diriwayatkan oleh Mujahid, Muhammad Bin Ka’ab, Abi Salamah Bin Abdirrahman, Dhohaak, Hasan, Qatadah,Athiyyaj Al – Aufi dan lainnya.

Ibnu ‘Arafah dan Ibnul Anbari berkata siulan dan tepukan tangan itu bukanlah suatu shalat tetapi Allah Subhanahu Wata’ala mengabarkan bahwasanya mereka menjadikan tempat shalat yang mereka diperintahkan untuk shalat di dalamnya sebagai tempat siulan dan tepuk tangan, maka mereka diwajibkan berbuat seperti itu oleh pembesar – pembesar mentri mereka.

Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nasa’I, dan Baihaqi dari hadits Ibni Abbas Radhiyallahu ‘Anhu : “ Sesungguhnya Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan seorang Quraisy bahwasanya Beliau isro/berpergian ke Baitil Maqdis, mereka berkata :”kemudian kamu telah sampai disisi kita?beliau menjawab :”iya,beliau berkata :”diantara mereka ada yang bertepuk tangan dan diantar mereka ada yang menaruh tangan – tangan mereka di atas kepala mereka dengan keheranan untuk mendustakannya” ( HR.Ahmad : 1/309 ).

Dan adapun orang – orang asing dan yang semisal mereka dari musuh – musuh Allah maka sungguh telah disebutkan oleh orang – orang yang bercampur – baur dengan mereka bahwasanya tepuk tangan adalah perbuatan mereka di tempat – tempat pesta mereka, jika mereka senang akan suatu perkataan atau perbuatan mereka bertepuk tangan dengan penuh keheranan dan pengagungan untuk perkataan / perbuatan tersebut dan sungguh orang – orang bodoh dari kaum muslimin telah mengambil perbuatan yang hina ini dari mereka, meniru mereka, dan menyerupai mereka dan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bersama kaum tersebut.” ( HR.Abu Dawud : 4031 ) dan juga dari hadits Abdullah Bin Amr Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata, Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ bukanlah termasuk dari golongan kami orang – orang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai orang – orang yahudi dan nashroni.” (HR.Tirmidzi : 2695 ) dan dari kedua hadits ini adalah bukti tentang dilarangnya bertepuk tangan karena di dalamnya terdapat penyerupaan terhadap orang – orang kafir dan bukti pelaranganya juga sabdanyanya Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma :” selisihilah orang – orang yahudi.” ( Mutafaqun ‘Alaihi )dan juga sabdanya Rasulallahu Shalallahu ‘Alaihi wasallam di dalam hadits Muhamad Bin Qois Bin Makhromah dari Al – Miswar Bni Makhromah Radhiyallahu ‘Anhuma :”Jalan kita menyelisihi jalan mereka “ yakni orang – orang musyrikin.” (HR.Hakim di dalam Mustadroknya dan dia berkata Shahhih dengan syarth Bukhari dan Muslim dan mereka berdua tidak mengeluarkannya, dan di sepakati oleh Dzahabi di dalam Talkhisnya, dan diriwayatkan oleh Syafi’I di dalam Musnadnya dari hadits Ibnu Juraij dari Muhammad Bin Makhromah secara mursal, dan lafadznya :” Jalan kita menyelisihi jalan orang – orang musyrik dan orang – orang penyembah berhala.”)dan telah ditetapkan di dalam kaidah – kaidah ushul fiqh sesungguhnya perintah terhadap sesuatu itu adalah laranganan bagi kebalikannya, dan untuk itu sesungguhnya perintah untuk menyelisi kaum musyrikin itu hakekatnya adalah larangan untuk menyamainya, dan menyerupai mereka di dalam apa – apa yang mereka kerjakan dari tepuk tangan dan lainnya dari sifat – sifat mereka dan perbuatan mereka yang jelek, dan juga tentang yang dikabarkan Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sesungguhnya jalannya kaum muslimin menyelisihi jalannya kaum musyrikin, itu semua mengandung larangan kaum muslimin dari perbuatan tepuk tangan dan lainnya dari perbutan kaum musyrikin Wallahu ‘Alam

Dan telah diriwayatkan bahwasanya tepuk tangan adalah perbuatan kaum Luth maka telah diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dalam Tarekhnya dari Hasan secara Mursal sesungguhnya Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Sepuluh sifat perbuatan yang oleh kaum Luth dengannyalah mereka binasa dan ummatku menambahkan sifat kikir dan beliau menyebutkan di antaranya adalah tepuk tangan.”

2.Sesungguhnya tepuk tangan adalah kekhususan para wanita untuk memperingati imam jika ia lupa akan sesuatu di dalam shalatnya sepserti yang disabdakan Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits shahih :

“hanya saja tepuk tangan itu untuk wanita .”( HR.Malik, ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’I dari hadits Sahl Bin Sa’ad Assa’idi Radhiyallahu ‘Anhu dan Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam kalimat yang bagus ini dengan kata yang membatasi, memasuki, dan mengkhususi maka menunukan bahwasanya tidak boleh dilakukan bagi pria dalam keadaan apapun, dan untuk itu barangsiapa yang bertepuk tangan dari golongan pria maka sungguh dia telah melakukan penyerupaan terhadap wanita yang mana itu adalah dari kekhususannya wanita dan Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam “telah melaknat orang yang menyerupai wanita dari pria,”(HR.Bukhari, Ahmad, Abu Dawud Thoyalisi dan Ahlu sunan kecuali Nasa’I dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma dan tirmidzi berkata hadits ini hasan shahih.

Dan diriwayatkan Ibnu Majah di Sunannya dengan sanad yang baik dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu :”Sesungguhnya Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat wanita yang meyerupai pria dan pria yang menyerupai wanita.” ( HR.Ahmad , Abu Dawud, Nasa’I yang mirip dengannya dan Ibnu Hibban, Hakim, Nawawi, dan lainnya menshahihkannya dan Hakim Berkata :”shahih dengan syarath Muslim dan dia tidak mengeluarkanya, dan disepakati oleh Dzahabi di dalam Talkhisnya.

Dan diriwayatkan oleh imam Ahmad juga dari Abdillah Bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma berkata aku telah mendengar Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :” Bukanlah dari golongan kami orang – orang yang menyerupai pria dari golongan wanita dan tidak pula orang – orang yang menyerupai wanita dari golongan pria .” di dalamnya ada orang yang tidak di ketahui dan pearawi hadits yang lainnya Tsiqat.

3.Sesungguhnya Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengingkari perbuatan tepuk tangan yang dilakukan pria di dalam waktu shalat, karena mereka mengerjakan perbuatan yang dilarang bagi pria untuk mengerjakannya, dan tidak cocok baginya,hanya saja cocok bagi wanita, dan Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyertakan pengingkaran dengan menerangkan sebab di larangnya perbuatan tersebut maka beliau Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :” Hanya saja tepuk tangan itu untuk wanita.” maka kalimat ini menunjukan tentang di larangnya pria dari perbuatan tepuk tangan sama sekali, dan sesungguhnya diwajibkan mengingkari siapa saja yang bertepuk tangan dari mereka.

4.Sesungguhnya tepuk tangan itu bukanlah dari jalanya Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dan jalan para Shahabatnya Radhiyallahu ‘Anhuum dan juga bukan dari perbuatan At – Tabi’in dan pengikutnya dalam perbuatan baik, sesungguhnya itu terjadi di tengah – tengah abad ke empat belas dari hijriyyah, ketika banyaknya percampuran antara kaum muslimin dengan orang – orang asing,dan orang – orang yang bodoh dari kaum muslimin mengikuti jalan – jalan musuh – musuh Allah dan perbuatanya yang hina.

Ibnul Qoyyim berkata di Igatsatul Lahafan :”Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak mensyari’atkannya kepada pria di waktu yang darurat di dalam shalat jika mereka lalai akan sesuatu tetapi membenarkannya agar melakukan tasbih agar tidak menyerupaii wanita maka bagaiman jika mereka melakukannya tidak di waktu yang darurat dan dengan diselingi beberapa macamperbuatan maksiat dalam bentuk pebuatan ataupun perkataan

Dan akhirnya cocok bagimu dijuluki abu salafy yang mana salaf – salafmu (pendahulumu) adalah orang – orang kafir, orang – orang asing, kaum Luth, orang – orang sufi dan ahli bid’ahnya Al – Hafidz Abul Farj Rahimahullah berkata :” Jika orang – orang sufi bergerak – gerak ketika asik mendengarkan lagu mereka bertepuk tangan.

Cukuplah firman Allah Subhanahu Wata’ala

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُون َ( الأنعام : 112)

Artinya :” Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”( Qs.Al – ‘An’am : 112 )

Semoga dengan ini dapat bermanfaat amien

Akhukum Abu Bakr Fahmi Abu Bakar Jawwas

Yang mengharapkan rahmat dari rabbnya

Darul hadits Syeher Hadramaut

27 Syawwal 1430 H,/15 Oktober 2009

 

GEMPA BUMI Oktober 9, 2009

Filed under: Aqidah — fahmijawwas @ 3:14 pm
Tags: , , , ,

بسم الله الرحمن الرحيم

GEMPA BUMI

Masalah gempa bumi sedang marak – maraknya dibahas dimedia massa berkaitan dengan kejadian gempa bumi yang terjadi dibumi pertiwi Indonesia kita dengan secara berturut – turut, Tidak ada kalimat yang cocok keluar dari mulut ini kecuali kalimat ini

انا لله و انا اليه راجعون

Artinya : “ Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepadaNya lah kita akan kembali .”

Dan juga doa musibah seperti yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah bahwasanya dia berkata : “ aku mendengar Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Tidaklah seorang muslim yang tertimpa musibah kemudian dia berkata sesuatu itu perintah Allah Subhanahu Wata’ala sesungguhnya kami adalah milik Allah Subhanahu Wata’ala dan hanya kepadaNya kami akan kembali, Yaa Allah berikanlah aku pahala didalam musibahku, berikanlah aku gantinya yang lebih baik darinya, Kecuali Allah akan gantikan baginya yang lebih baik darinya “ (HR.Muslim, Sunan Baihaqi, Musnad Ahmad Dan lainnya ) { berkata Muhammaad Fu’ad Abdul Baaqi dita’liqnya terhadap Shohih Muslim perkataan sesuatu itu adalah perintah Allah maksudnya adalah dalam kandungan pujian terhadap orang – orang yang bersabar seperti firman Allah Ta’ala

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُون أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ( البقرة : 156 – 157 )

Artinya : “ Orang – orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ( kalimat istirja’ –pent )sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadanyalah kami akan kembali.” ( ) “ Mereka itulah yang mendapat orang – orang yang mendapat doa dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang – orang yang mendapat petunjuk.” ( Qs.Al – Baqarah : 156 – 157 )

Maka sesungguhnya seluruh kebiasaan yang dipuji di dalam Al – Qur’an mengandung arti perintah dengannya seperti halnya kebiasan yang dihina di dalam Al – Qur’an mengandung arti larangan darinya }

Dan sudah sepatutnya bagi seorang muslim merasakan apa yang dirasakan oleh muslim lainnya seperti di firman Allah

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَة ( الحجرات : 10)

Artinya : “ Sesungguhnya orang – orang mu’min adalah bersaudara. “ ( Qs.Al – hujurat : 10 ) Dan dihadits Abi Musa Al – Asy’ari Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya seperti bangunan saling menguatkan sebagian di antara yang lainnya. “ ( HR.Muslim )

Dan juga di hadits Nu’man Bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhu Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Permisalan seorang mu’min di dalam kasih sayangnya dan kecintaannya seperti satu tubuh, jika sakit anggota tubuhnya maka seluruh tubuhnya akan merasakanya dengan susah tidur dan demam. “ ( Mutafaqun ‘Alaihi )

Di dalam permasalahan ini kita harus mengetahui sebab – sebab terjadinya Gempa bumi ini agar kita mengantisipasi dari kejadian ini dan mengintropeksi diri kita .

Sebab – sebab gempa bumi terjadi

1.Karena dosa – dosa yang dibuat para manusia

Allah berfirman di dalam kitabNya

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (الشوري : 30 )

Artinya : “ Dan apa saja musibah yang menimpa maka adalah disebabkan oelh perbuatan tanganmu sendiri, Dan Allah memaafkan sebagian besar ( dari kesalahan – kesalahanmu ). “ ( Asy – Syuraa : 30 )

Dan Allah berfirman di dalam kitabNya

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ , قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ , فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ , فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ ( الأعراف : 75 – 78 )

Artinya : “ Pemuka – pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang – orang yang dianggap lemah yang telah beriman diantara mereka : “ Tahukah kamu bahwa Shaleh diutus ( menjadi Rasul ) oleh rabbnya ?”.mereka menjawab : “ Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang mana Shaleh diutus untuk menyampaikanya.” (#) “Orang – orang yang menyombongkan diri berkata “ Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu. “(#) “ Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah rabb.Dan mereka berkata : “ Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika ( betul ) kamu termasuk orang – orang yang diutus ( Allah ).”(#) “ Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat – mayat yang bergelimpangan ditempat tinggal mereka. “( Qs.Al – A’raaf : 75 – 78 )

Dan Allah berfirman dikitabNya

وقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ, فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ (الأعراف : 90 – 91 )

Artinya : “ Pemuka – pemuka kaum Syua’ib yang kafir berkata ( kepada sesamanya ) :” Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib tentu kamu jika berbuat demikian menjadi orang – orang yang merugi. ”(#) “ Kemudian mereka ditimpa gempa , maka jadilah mereka mayat – mayat yang bergelimpangan di dalam rumah – rumah mereka. “( Qs.Al – A’raaf : 90 – 91 )

وَاخْتَارَ مُوسَى قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ (الأعراف : 155 )

Artinya : “ Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk ( memohonkan taubat kepada kami )pada waktu yang telah kami tentukan.Maka ketika mereka diguncang gempa bumi, Musa berkata : “Yaa Rabbku,kalau Engkau kehendaki ,tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini .Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang – orang yang kurang akal di antara kami ? itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.Engkaulah wali kami, maka ampunilah kami dan berilah kami Rahmat dan Engkaulah sebaik – baiknya Pemberi ampunan.” (Qs.Al – ‘Araaf : 155 )

Dan Allah berfirman di dalam kitabNya

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا (الاسراء : ١٦)

Artinya : “ Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” ( Qs.Al – isro : 16 )

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ ) ) وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِين ( ) قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ ( ) فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ ( )وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلا يُلَقَّاهَا إِلا الصَّابِرُونَ ( ) فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ ( )وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالأمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ )القصص : 76 – 82 ).

Artinya : “ Sesungguhnya Qarun adalah Termasuk kaum Musa, Maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. ( ingatlah ) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”( ) ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”( )”Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.”( ) “Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya, berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.( ) “Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”.( ) ” Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”( ) “ Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)”.( Qs.Al – Qasas 76 – 82 )

Dan Allah berfirman di dalam kitabNya

فَكُلا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الأرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (الأنكبوت : 40 )

Artinya : “ Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs.Al – Ankabut : 40 )

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ (النحل : 112 – 113)

Artinya : “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah memberikan mereka rasa kelaparan dan ketakutan, seperti pakaian yang meliputinya, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” ( ) “ Dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang Rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Qs.An – Nahl : 112 – 113 )

Dan ini adalah ayat yang paling jelas yang mengatakan bahwasanya gempa bumi itu disebabkan oleh dosa – dosa yang mereka lakukan dan masih banyak ayat – ayat yang semisal tetapi musuh – musuh Allah Al – Malahidah dan orang – orang yang bodoh mengatakan bahwasanya permasalahan gempa bumi ini adalah permasalahan yang thabi’at/alami pergeseran bumi hanya untuk menafikan/meniadakan firman Allah dan kemurkaan Allah atas apa – apa yang mereka lakukan terhadap Nabi – nabi Allah

2. Gempa bumi juga terjadi sebagai cobaan bagi orang – orang yang beriman

Allah berfirman di dalam kitabnya

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِين ) )الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ( )أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ )البقرة : 155- 157 )

Artinya : “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” ( ) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepadanyalah kami akan kembali.” (Qs.Al – Baqarah :155 – 157 )

Dan Allah berfirman di dalam kitabNya

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (الأنفال : 25 )

Artinya : “ Dan takutlah kalian terhadap cobaan dan ujian yang tidak hanya menimpa orang – orang yang mendzolimi secara khusus diantara kalian ( tetapi merata –pent )dan ketahuilah bahwasanya adzab Allah sangat pedih siksaanya.” ( Qs.Al – Anfaal : 25 )

Dan dari sunnah masih banyak lagi tetapi cukup beberapa saja untuk meringkas dari ummil mu’minin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda prajurit ka’bah berperang maka ketika mereka sampai di gurun Sahara dibenamkanlah mereka dari permulaannya hingga akhirnya ,” ‘Aisyah berkata : “ Wahai Rasulallah bagaimana dibenamkan dari awalnya hingga akhirnya dan di dalamnya ada orang – orang awwamnya dan orang – orang yang bukan dari mereka ?Rasulallah bersabda : “ Mereka dibenamkan dari awwal sampai akhrinya mereka kemudian mereka dibangkitkan tergantung niat – niat mereka.” ( Mutafaqqun ‘Alaihi )

Dan dari Zainab Binti Jahsyin Radhiyallahu ‘Anha berkata bahwasanya Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wasallam masuk kekamarnya dalam keadaan ketakutan dan berkata : ” tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, sungguh celaka bagi orang – orang Arab dari kejahatan yang telah dekat telah dibuka hari ini dari tempat pengurugan Ya’juj dan Ma’juj seperti ini dan beliau melingkarkan jari jempolnya dan jari yang disampingnya. Zainab berkata wahai Rasulallah apakah kita akan binasa dan diantara kita ada orang – orang shaleh Rasulallah bersabda : “ iya jika telah banyak kemaksiatan.” ( HR.Bukhari dan Muslim )

** Adapun yang menyandarkan perkara ini yaitu gempa bumi ini adalah thabi’at jika menginginkan dari kata thabi’at itu adalah disebabkan / karena hal yang biasa yaitu pergeseran bumi semata tanpa menyandarkanya kepada Allah maka dia telah kafir seperti di dalam hadits, dari Zaid Bin Al – Kholid Al – Juhani Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya dia berkata Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Apakah kalian tahu apa yang dikatakan rabb kalian?Mereka menjawab Allah dan RasulNyalah yang tahu,beliau bersabda Allah berkata : “ hambaku menjadi kafir kepadaKu dan mu’min kepadaKu,adapun orang – orang yang mengatakan telah turun hujan kepada kita disebabkan karunia Allah dan Rahmatnya maka itulah orang – orang yang beriman kepadaKu dan kafir ( tidak percaya )kepada Planet dan adapun orang – orang yang mengatakan telah turun hujan kepada kita disebabkan bintang ini dan bintang itu maka itulah orang – orang yang kafir kepadaKu dan percaya kepada Planet, “ ( HR.Bukhari dan Muslim )

Dan dari Ibnu Abbas, ‘Aisyah dan lainnya Radhiyallahu ‘Anhum bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Sesungguhnya matahari dan bulan tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang dank arena kehidupan seseorang,tetapi kedua – duanya adalah tanda – tanda kebesaran Allah Subhanahu Wata’ala, yang mana Allah menakut – nakuti hambanya dengan itu,maka jika kalian melihat gerhana maka ingatlah Allah sampai kelihatan ( hilang gerhananya-pent ).” ( HR.Bukhari dan Muslim )

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman di dalam KitabNya

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ أَنْ تَزُولا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا ( فاطر :٤١ )

Artinya : “ Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” ( Qs.Fathir : 41 )

**Dan bantahan bagi mereka yang mengatakan bahwasanya kejadian ini yaitu gempa bumi ini terjadi karena thabi’at

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ( البقرة : ١٦٤ )

Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, kapal yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”( Qs.Al – Baqarah )

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الأكْمَهَ وَالأبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ (المائدة : 110 ) )

Artinya : “(ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu aku menguatkan kamu dengan Ruhul qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu aku memberikankanmu ilmu Kitab, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu menjadikan tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Qs.Al – Maidah : 110)

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman di dalam KitabNya

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (المائدة :141 )

Artinya : “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Qs.Al – Ma’idah : 141 )

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الأمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ (الرعد : 2 )

Artinya : ”Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Rabbmu.” (Qs.Ar – Ra’ad : 2 )

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ ))وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ ( )وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالأعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ) النحل : 65 – 67 )

Artinya : “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).”.( ) “Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”

( ) “ Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (Qs.An – Nahl : 65 – 67 )

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman di dalam kitabNya

أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ أَفَلا يَسْمَعُونَ ( السجدة : 26 )

Artinya : “Dan Apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Maka Apakah mereka tidak mendengarkan?.” ( Qs.As – Sajdah : 26 )

Jika kamu merenungi ayat – ayat diayat maka kamu akan mengetahui bahwasanya Al – Malahidah ( orang yang mengatakan bahwasanya gempa bumi hanya alami saja )mereka bukanlah orang – orang yang berakal dan katakanlah kepada para Malahidah itu sesuatu yang thabi’I / alami itu menciptakan atau dia diciptakan ? Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ( )أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بَل لا يُوقِنُونَ ( الطور : 35 – 36 )

Artinya : “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?.” ( ) “Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (Qs.At – Thur : 35 – 36 )

Dan orang – orang Arab yang dizamannya ketika turunnya Al-Qur’an mereka memahami lafadz – lafadz bahasa Arab Jubair Bin Muth’im Radhiyallahu ‘Anhu berkata dan dia ketika itu dalam keadaan musyrik : “ Ketika aku mendengar Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam membaca “أم خلقوا من غير شيء أم هم الخالقون “ dia berkata seperti hatiku ini terbang.” ( HR.Bukhari fi ‘Af’alil ‘Ibad,Thohawi dan Thobrani,dan hadits dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullah ) dan diriwayat lain: ” maka masuklah iman ke dalam hatiku.”

Adapun para Malahidah mereka adalah orang – orang asing yang telah tertutup otaknya dengan minuman keras, dan telah kecanduan dengan alat – alat musik, dan kecanduan dengan wanita – wanita yang membawa fitnah,dan orang – orang yang bodoh, yang sibuk dengan perut – perut mereka bagaimana mereka memahami kitab Allah yang suci ini dengan yang seperti itu Na’udzu billahi min dzalik.

Dan untuk mengantisipasinya adalah seperti dengan istigfar seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala

وما كان الله ليعذبههم وأنت فيهم وما كان الله ليعذهم وهم يستغفرون (الأنفال : 33 )

Artinya : “Dan Allah sekali – sekali tidak akan mengadzab mereka sedang kamu( Muhammad )berada diantara mereka dan Allah sekali –sekali tidak pula mengadzab mereka sedangkan mereka beristigfar/meminta ampunan.” ( Qs.Al – Anfaal : 33 )

Dan untuk upaya mengantisipasi dari gempa dan lainnya dari adzab Allah bagi orang – orang yang durhaka dan menjadi cobaan bagi orang – orang beriman Seorang shahabat Abu Musa Al – Asy’ari berkata : ” Dahulu kita mempunyai dua keamanan ( dari adzab Allah ) 1.Dengan adanya Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam 2.Dengan istigfar/meminta ampunan,adapun Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kini telah wafat,adapun istigfar/minta ampun senantiasa ada sampai hari kiamat

Alhamdulillah telah selesai dan ana mengambil sebagian faedah dari bukunya Syaikh Al – Allamah Al – Mujaddid Yamani Muqbil Bin Hadi Al – Wadi’I Rahimahullah semoga Allah menjaga tempatnya darul hadits Dammaj dari setiap kejahatan Amien

Akhukum Abu bakr Fahmi Abubakar jawwas

Di Darul Hadeth Syeher Hadramauth

17 Syawwal 1430 H/6 oktober 2009 M

p

 

Fatwa – fatwa Syaikh Abdullah Bin Mar’ie Bin Buraik Oktober 8, 2009

Fatwa As – Syaikh Abdullah Bin Mar’ie Bin Buraik hafidzohullah wa ra’aah

Syaikh Abdullah Bin Mar’ie menukilkan fatwa Syaikh Utsaimin ketika Syaikh Utsaimin ditanya kenapa kalian tidak membantah pemerintah ?Syaikh Utsaimin menjawab dengan dua jawaban

1.Jika seandainya kami kabarkan kepada kalian apa yang terjadi diantara kami dan pemerintahan maka sesungguhnya diri kami tidak aman dari riya’ dan sum’ah ( memperdengarkan amalan baik –pent ) dan lainnya

2. jika seandainya kami kabarkan kepada kalian apa terjadi diantara kami dan kalian mengetahuinya bahwasanya mereka menolak / tidak menerima nasehat itu maka kalian akan menjadikan penolakan itu sebagai alasan untuk keluar kepada pemerintah/berontak.

 

Fatwa As – Syaikh Abdullah Bin Mar’ie Bin Buraik hafidzohullah wa ra’aah

Syaikh Abdullah Bin Mar’ie Bin Buraik ditanya tentang fatwa syaikh Albani tentang menggaris atasi tulisan bukan menggaris bawahi ?

Beliau menjawab  dengan menguatkan fatwa Syaikh Albani

1.Yang ada contohnya dari ahli hadits dan fiqh itu seperti yang diisyaratkan Syaikh Ahmad Syakir ialah bahwasanaya menggaris tulisan itu dari atas tulisan tersebut bukan dari bawah.

2.Bahwasanya menggaris bawahi tulisan itu dimasyhurkan oleh orang – orang Negara timur.

3.Perhatian yang didapatkan dari menggaris bawahi tulisan itu tidaklah sama seperti yang didapatkan dengan menggaris tulisan itu.

Fatwa As – Syaikh Abdullah Bin Mar’ie Bin Buraik hafidzohullah wa ra’aah

Beliau ditanya apakah bagi seorang tholibul ilmi/pencari ilmu yang masih pemula dia belum bisa bahes ( meneliti hukum – hukum agama –pent ) apakah dia mentaqlid seorang Alim dari ulama ?

Beliau menjawab : “iya baginya adalah bertanya kepada orang yang mempunyai ilmu seperti firman Allah Subhanahu Wata’ala

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (النحل : ٤٣)

Artinya : ”Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui,” ( Qs.An-Nahl : 43 ) dan ini bukanlah suatu taqlid ini namanya ittiba ( mengikuti )tetapi dengan bukti/dalil adapun taqlid adalah mengikuti perkataan seseorang dengan tanpa bukti/dalil.

 

Fatwa As – Syaikh Abdullah Bin Mar’ie Bin Buraik  hafidzohullah wa ra’aah

Syaikh Abdullah Bin Mar’ie ditanya : Jika imam sujud sahwi dan ma’mum yang masbuk/terlambat mengerjakan apa ?

Beliau menjawab : “ Baginya adalah menyempurnakan shalatnya yang terlambat dan bersujud sahwi setelah berpisah dari imam boleh itu sujudnya setelah salam dan boleh sujudnya sebelum salam.

                                                           

Fatwa As – Syaikh Abdullah Bin Mar’ie Bin Buraik  hafidzohullah wa ra’aah

Syaikh Abdullah ditanya : “ Apa definisi dari pakaian Syuhroh ?

Beliau menjawab :” Definisinya adalah pakaian yang tidak dikenal oleh adat dan tidak dikenal oleh agama. “

 

Fatwa As – Syaikh Abdullah Bin Mar’ie Bin Buraik  hafidzohullah wa ra’aah

Syaikh Abdullah ditanya :” Seorang pria sakit perutnya dan dalam sehari dia mengeluarkan mani lebih dari sekali dikarenakan penyakitnya, apakah wajib baginya untuk mandi ?

Beliau menjawab :” jika dia merasakan dengan syahwat maka wajib baginya untuk mandi dan Imam Nawawi menukilkan Ijma’ bahwasanya keluar mani yang diwajibkan baginya mandi adalah keluarnya mani tersebut dengan syahwat dan disertai dengan lemasnya beberapa anggota tubuh lihatlah Syarh hadits Abu Hurairah di Muslim.

 

Fatwa As – Syaikh Abdullah Bin Mar’ie Bin Buraik  hafidzohullah wa ra’aah

Syaikh Abdullah ditanya :” Apa yang diperbuat dengan waktu – waktu sholat yang mana harinya lebih sedikit atau lebih banyak dari dua puluh empat jam ?

Beliau menjawab :”para ulama berpendapat agar mengira – ngira waktu shalat tersebut dengan berdalilkan hadits dajjal dan di dalamnya :”akan dating datang di akhir zaman dan satu hari seperti satu tahun,satu hari seperti satu bulan,dan sehari seperti sepekan maka mereka bertanya wahai Rasulallah bagaiman kita mengerjakan shalat ? beliau bersabda :”kalian kira – kira waktunya, adapun jika waktu diantara maghrib dan isyanya 6 – 7 jam dan diantara isya dan shubuhnya  dua jam maka untuk hal yang seperti ini ulama berpendapat agar sholatnya dijama’, karena penduduk negeri menjadikan pekerjaan disiang hari, maka akan menyulitkan mereka jika sholatnya tidak dijama’,maka ulama memfatwatan jama’ bagi mereka dengan dalil hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu di dalam shahih Muslim bahwasanya Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam tanpa ada turun hujan dan tidak dalam ketakutan tetapi untuk mempermudah ummatnya.  

 

Fatwa As – Syaikh Abdullah Bin Mar’ie Bin Buraik  hafidzohullah wa ra’aah

Syaikh Abdullah ditanya :”bolehkah kita mengulang – ngulang bacaan Al – Fathihah di dalam shalat ?

Beliau menjawab :” Jika dia sholat sunnah maka telah datang dari Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam dihadits shahih bahwa beliau mengulang – ngulang surat disholat sunnah adapun di sholat wajib maka ini adalah menyelisihi sunnah dan membuka bab waswasah ( yaitu syaithon yang kerjanya memberikan keragu – raguan di dalam hati )

 

KEKHUSUSAN BULAN RAMADHAN TERHADAP BULAN – BULAN LAINNYA Oktober 4, 2009

KEKHUSUSAN BULAN RAMADHAN TERHADAP  BULAN-BULAN LAINNYA

Oleh : Abu Bakr Fahmi  Abu bakar Jawwas

1.   Bahwasanya puasa Ramadhan adalah salah satu rukun islam yang kelima seperti dihadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

2.  Bahwasanya Allah Subhanahu Wata’ala mengkhususkan bulan Ramadhan dengan puasa  diantara bulan – bulan lainnya  seperti difirman Allah Subhanahu Wata’ala ( QS.Al – Baqarah : 183 ) dan dihadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim 

3.  Bahwasanya Allah Subhanahu Wata’ala mengkhususkan bulan Ramadhan dengan turunnya Al Qur’an dibulan itu seperti difirman Allah subhanahu Wata’ala ( Qs. Al – Baqarah : 185 )

4.  Bahwasanya Allah Subhanahu Wata’ala mengkhususkan bulan Ramadhan dengan lailatul/malam qadar yang mana malam itu lebih baik dari pada 1000 bulan  Allah Ta’ala  berfirman

  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ( الفجر : 3 )

Artinya : “ Malam lailatul qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan( Qs. Al – Fajr : 3 )             

5. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan adanya sholat taraweh seperti dihadits Abu Hurairah Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barang siapa yang mendirikan shalat lail dibulan Ramadhan dengan beriman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah semata maka dia akan diampuni dosa – dosanya yang telah lalu “ (HR.Bukhari dan Muslim )

6.  Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan dibukanya pintu – pintu surga seperti dihadits Abu Hurairah Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ jika masuk Ramadhan dibukanya pintu – pintu surga dan ditutupnya pintu – pintu neraka jahannam dan dirantainya para syaithan( HR.Bukhari dan Muslim ) 

7.  Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan ditutupnya pintu – pintu neraka

8.  Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan dibukanya pintu – pintu langit  seperti dihadits Abu Hurairah Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Jika masuk bulan Ramadhan  dibukanya pintu – pintu surga dan ditutupnya pintu – pintu jahannam dan dibukanya pintu langit( HR.Bukhari )

9.  Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan dibukanya pintu – pintu rahmah seperti dihadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Jika masuk bulan Ramadhan  dibukanya pintu – pintu surga dan ditutupnya pintu – pintu jahannam dan dibukanya pintu rahmah( HR.Muslim,Nasa’I,Baihaqi dan lainnya ) 

10. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan terbebasnya dari api neraka setiap malamnya

11. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan seruan makhluk yang berseru ,wahai orang – orang yang menginginkan kebaikan berbuatlah kebaikan dan wahai orang-orang yang menginginkan kejahatan janganlah kamu berbuat kejahatan seperti dihadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu (HR.Tirmidzi,ibnu majah, baihaqi dan lainya dan dishohihkan oleh syaik Albani)

12. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan dirantainya syaithon

13. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan bahwasanya umrah dibulan Ramadhan pahalanya seperti orang yang haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti dihadits Ibnu Abbas ( HR.Bukhari dan Muslim )

14. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan sepuluh malam terakhir yang mana malam sepuluh terakhir itu adalah malam yang paling mulia dari pada malam – malam tahunan yang lainya

15. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan bahwasanya barang siapa yang puasa Ramadhan dengan beriman dan mengharapkan pahala semata dia akan diampuni dosa – dosanya yang telah lalu seperti dihadits Abu Hurairah ( Mutafaqun ‘Alaihi )

16. Bahwasanya bulan puasa dikhususkan barangsiapa yang sholat malam taraweh dengan beriman dan mengharapkan pahala semata maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu seperti dihadist Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu  (Bukhari dan Muslim)

17. Bahwasanya bulan puasa dikhususkan barangsiapa yang sholat lailatul/malam qadar dengan beriman dan mengharapkan pahala semata dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu seperti dihadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu (HR.Bukhari )

18. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan zakat fitrah        

19. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan diterima persaksian satu

20. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan berdoanya Jibril dan Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang mengamininya

21. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhususkan dengan turunnya Jibril disetiap malamnya untuk mengajarkan Al-qur’an kepada Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi

22. Bahwasanya puasa Ramadhan menghapuskan dosa dari selang waktu Ramadhan keRamadhan seperti dihadits Abu Hurairah Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Shalat lima waktu dan dari jum’at kejum’at dan dari Ramadhan keRamadhan menghapuskan dosa – dosa diantara keduanya jika menjauhkan diri dari dosa – dosa besar “ ( HR.Muslim,Baihaqi dan lainnya )

23. Bahwasanya tidak ada bulan yang disebutkan didalam Alqur’an dengan namanya kecuali bulan Ramadhan ( Qs. Al – Baqarah 185 )

24. Dan Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi wasallam bersungguh – sungguh dibulan Ramadhan yang mana beliau tidak bersungguh dibulan lainya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata Rasulallah adalah orang yang paling baik dan paling suka dengan kebaikan dan yang paling baik keadaannya adalah ketika Ramadhan ketika Jibril ‘Alaihi Salam mengajarkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan Jibril mengajarkan setiap malam dibulan Ramadhan sampai meninggalkan Ramadhan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menampakan/memperdengarkan Al – Qur’an kepada Jibril ‘Alaihi Salam dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang paling baik dan paling suka dengan kebaikan jika beliau bertemu Jibril ‘Alaihi Wasallam maka beliau adalah orang yang paling baik dan paling suka dengan kebaikan lebih dari pada angin yang berhembus( maksudnya perbuatan baik yang dilakukan Rasulallah ) ( HR Bukhari dan Muslim )

25. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam jika memasuki 10 hari pertama dibulan Ramadhan,beliau menghidupkan malam – malamnya dan membangunkan keluarganya dan bersungguh – sungguh dan menguatkan kain sarungnya dan beliau bersungguh – sungguh dibulan Ramadhan yang mana Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tidak bersungguh – sungguh dibulan lainnya                                                                                                     26. Sesungguhnya barangsiapa yang sholat taraweh bersama imam sampai selesai maka ditulislah baginya pahala sholat satu malam penuh seperti hadits Abi Dzar disunan Nasa’I dan dishohihkan syaikh Albani

27. Bahwasanya Allah Subhallahu Wata’ala memilih perang bader alkubro ( besar ) dan yaumal furqon( hari yg membedakan al haq dan yang bathil ) dan yaumal taqol jam’aan( hari bertemunya dua pasukan )berada dibulan Ramadhan dan itu adalah awal mulanya pertolongan islam dan kaum muslimin dari Allah Subhanahu Wata’aala

28. Allah Subhanahu Wata’ala memilih perang Fathul ‘adzom ( kemenangan yg besar ) fathu mekkah( kemenangan/penguasaan kota mekkah ) berada dibulan Ramadhan

29. Bahwasanya Allah Subhanahu Wata’ala mengkhususkan malam lailatul qadar dengan turunnya Jibril ‘Alaihi Salam dan para malaikat yang mana para malaikat itu tidak terhitung jumlahnya kecuali Allahlah yang tahu seperti firman Allah Subhanahu Wata’ala

 الفجر : 4 )) تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْر

   Artinya : “Pada malam itu para malaikat dan ruh (Jibril) turun dengan izin rabb mereka dari setiap perintah “ ( Qs. Al – Fajr : 4 )

30. Bahwasanya Allah Subhanahu Wata’ala mengkhususkan malam lailatul qadar dibulan Ramadhan dengan taqdir-taqdir tahunan yang Allah Subhanahu Wata’ala tetapkan dimalam itu

31. Bahwasanya mengkhususkan malam lailatul qadar dengan kesejahteraan ,keamanan dan ketenangan seperti difirmankan Allah Ta’ala

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ( الفجر:5)

Artinya : “ pada malam itu ( penuh ) kesejahteraan sampai terbitnya fajar  “ (Qs. Al – Fajr : 5 )

32. Dianjurkan untuk berdoa dimalam – malam ganjilnya

                                                                                       اللهمّ انّك عفو تحبّ العفو فاعف عنّيartinya : “ ya rab sesungguhnya engkau adalah maha pengampun dan menyukai ampunan maka ampunilah aku,karena diperkirakan malam-malam ganjil itu adalah malam lailatul qadar “ hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ( HR.Tirmidzi,Ibnu Majah dan Baihaqi disunannya dan hadits dishohihkan oleh Syaikh Albani )

33. Sesungguhnya persetubuhan suami istri disiang hari bulan Ramadhan diwajibkan baginya membayar kaffarah alkubro ( yang besar ) (1) yaitu membebaskan seorang budak (2) berpuasa 60 hari secara continue/terus – menerus (3) memberi makan 60 fakir miskin,kalau tidak bisa yang pertama yang kedua kalau tidak bisa yang kedua yang ketiga, jika dia bukan termasuk orang -  orang yang memiliki halangan yang disyari’atkan seperti dihadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim

34. Sesungguhnya bulan Ramadhan dikhususkan dengan haramnya puasa sehari/dua hari sebelumnya kecuali yang sudah mempunyai kebiasaan sehari – harinya berpuasa/orang yang mempunyai hutang puasa seperti dihadits Abu Hurairah Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersama : “ Janganlah kalian mendahulukan Ramadhan  dengan sehari puasa atau dua hari puasa kecuali seorang lelaki biasa berpuasa suatu puasa maka berpuasalah “ (HR.Bukhari dan Muslim )

35. Sesungguhnya barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari bulan syawal pahalanya seperti puasa 1 tahun ( Imam Shan’ani Rahimahullah berkata itu dikarenakan suatu perbuatan baik diganjar 10 kebaikan semisalnya Subulussalaam syarh Bulughul Maraam ) 36 x 10 = 360

36. Sesungguhnya malam lailatul qadar itu adalah yang diberkahi seperti firman Allah Ta’ala berfirman

(انا أنزلناه في ليلة مباركة (الدخان :3

Artinya : “sesungguhnya kami telah menurunkan Al – qur’an pada malam yang penuh barakah(QS. Ad-Dukhan :  3 )

37. Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan yang diberkahi seperti Firman Allah Subhanahu Wata’ala disurat ( Ad – Dukhan : 3 ) dan dihadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dimusnad Ahmad, Sunan Nasa’i dan Baihaqi diSyu’abnya,dan dishohihkan syaikh Albani didalam shohih jami’ no 55 bbbahwasanya Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “telah datang bulan Ramadhan,bulan yang  penuh berkah diwajibkan bagi kalian berpuasa dibulan itu,dibukanya pintu – pintu surga dibulan itu,ditutupnya pintu – pintu neraka dibulan itu,dbelenggunya syaithan – syaithan dibulan itu dan dibulan itu terdapat malam yang mana malam itu lebih baik dari 1000 bulan barangsiapa yang terlarang ( tidak mendapati ) kebaikannya sungguh dia akan terlarang dari kebaikan yang haqiqi

38. Bahwasanya kitab samawiyah ( yang diturunkan dari langit – pent) diturunkan dibulan Ramadhan,dari Watsilah Bin Al-’Asqo’ Radhiyallahu ‘Anhu Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :  “ Shuhuf ( lembaran ) Nabi Ibrohim ‘Alaihi Salam diturunkan diawal dari bulan Ramadhan dan kitab Taurat diturunkan pada hari ke 6 dari bulan Ramadhan dan kitab Injil diturunkan pada hari ke 13 dari bulan Ramadhan dan kitab Zabur diturunkan pada hari ke 18 dari bulan Ramadhan dan kitab Al – qur’an diturunkan pada hari ke 24 ( malam 25 ) dari bulan Ramadhan( HR Ahmad, At – Thobroni dibukunya Al – Kabir, Ibnu Asaakir dan dihasankan haditsnya oleh syaikh Albani didalam shohihul jami’ no :1497  dan lihatlah di silsilah As-Shohihah no : 1575 )

39. Bahwasanya bulan Ramadhan dikhatamkan ( ditutup ) dengan takbir/pengagungan kapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,seperti firman AllahTa’ala

ولتكملوا العدة ولتكبّرالله علي ما هداكم ولعلّكم تشكرون( البقرة :185 )                                  Artinya : “ Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamubertakbir/mengagungkan Allah Subhanahu Wata’ala atas petunjukNYA yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur ( Qs.Al – Baqarah : 185 ).                                         

Alhamdulillah telah selesai terjamahan kekhususan bulan Ramadhan dari kitab Mudzakirah Fi Ahkami As-Shiyaam karya Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Al – Washobi Al – Yamani Rahimahullah Wa Hafidhohullahu,semoga dengan ini kita bisa meningkatkan semangat kita dibulan Ramadhan yang akan datang amieen,

 

 

 

 

 

 

 

 

DENGAN AKAL DAN AGAMA YANG MANA YANG MENGATAKAN PENGEBOMAN ITU ADALAH JIHAD?? September 28, 2009

Filed under: Manhaj — fahmijawwas @ 12:48 pm
Tags: , , , , , , ,

DENGAN AKAL DAN AGAMA YANG MANA YANG MENGATAKAN PENGEBOMAN ITU ADALAH JIHAD??

Oleh     : Abu Bakr Fahmi Abu Bakar Jawwas

Inilah beberapa penyelisihan mereka (para teroris) terhadap Al Qur’an dan As Sunnah

1. Bunuh diri

Allah Ta’ala berfirman di dalam kitabNya

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29:النساء)

artinya : “ dan janganlah kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu “ (Qs. An-Nisa:29)

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68:الفرقان)

artinya: “ Dan orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar dan tidak berzina dan barang siapa yg melakukan demikian itu,niscaya dia mendapat pembalasan dosanya (Qs. Al-furqoon : 68 ).

Dan dihadits qudsi dari Jundub berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “ Suatu ketika ada seorang laki-laki yang telah terluka dan membunuh dirinya sendiri. Allah berkata : “ hambaku telah mendahuluiKu (mempercepat kematianya dan tIdAk bersabar sampai Aku mencabut ruhnya dengan tanpa sebab itu) maka aku haramkan baginya surga “ ( HR. Muslim dan lainya – lihat keterangan shohih muslim )

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu berkata Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Barang siapa yang membunuh dirinya dengan senjata tajam maka senjata tajam itu ditanganya menusuk-nusuk perutnya didalam neraka jahannam kekal didalamnya selama-selamanya dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan meminum racun maka dia akan meminumnya perlahan – lahan dengan rasa yang pedih didalam neraka jahannam kekal didalamnya selama-lamanya dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan menjatuhkan dirinya dari gunung maka dia akan jatuh dineraka jahannam kekal didalamnya selama-lamanya “ (HR. Bukhari dan Muslim dan lainya )

Dan diriwayat lain dari Tsabit Bin Dhohak berkata Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda : “ Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka Allah akan mengadzab denganya “ (HR. Muslim, Ahmad, Baihaqi dan lainya)

2. Membunuh orang muslim yang berada ditempat kejadian

Allah Ta’ala berfirman

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا (93:النساء)

“ Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasanya ialah jahannam, kekal didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan adzab yg besar baginya “ ( Qs. An-Nisa : 93)

Allah subhanahu wata’ala berfirman

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ (32:المائدة)

artinya: “ Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bani israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan sesungguhnya telah datang kepada rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan2 – keterangan yang jelas kemudian bahwasanya kebanyakan dari mereka setelah itu didunia benar-benar berlebih-lebihan “ (Qs. Al-Ma’idah : 32 )

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Pertama kali yang dihitung/diadili pada hari kiamat diantara manusia adalah permasalahan darah “ (HR. Bukhari, Muslim dan lainya)

Dan juga dari Abdullah Bin Amr Bin Ash Radiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “ sungguh hilangnya dunia itu lebih ringan disisi Allah daripada dari pada terbunuhnya seoarang laki-laki muslim “ (HR. Tirmidzi, Baihaqi, Ibnu Majah dan lainya)

Dan juga dari Abdullah Ibnu Umar Radiyallahu  ‘Anhuma  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda : “ Senantiasa seorang mu’min itu merasa dalam ketenangan (keluasan rahmat Allah -pent) semasih dia belum terkena darah yg diharamkan baginya (belum membunuh nyawa dengan tidak benar -pent) “ (HR. Bukhari, Ahmad, Baihaqi dan lainya)

3. Membunuh orang kafir yang mempunyai perjanjian

Allah Ta’ala berfirman didalam kitabNya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُود(المائدة:1) ِ

artinya: “ Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu “ (Qs. Al-ma’idah :1)

Dan juga Allah Ta’ala berfirman pada ayat yang lain

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا(الاسراء:34)

artinya: “ Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu akan diminta pertanggungan jawabnya “ ( Qs. Al-Isra : 34 )

Dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘Anhuma dan diriwayat lainya dari Abu Hurairah dan Abu Bakrah Radiyallahu ‘Anhuma dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad (yang diberi perjanjian) maka dia tidak akan mencium harumnya surga dan sesungguhnya harumnya itu  tercium dalam jarak perjalanan 40 tahun “ (HR Bukhari, Ibnu Majah, Ahmad dan lainya)

Dan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam bersabda : “ Tanda – tanda  orang munafiq ada tiga (1)jika berbicara dia berdusta (2)dan jika dia berjanji dia mengingkari (3)dan jika dipercaya dia menghianati “ (HR. Bukhari, Muslim dan lainya)

4. Membunuh kafir yang diberi jaminan keamanan

Dari  Abu  Nadhr  budaknya  Umar  Bin  Ubaidillah  berkata  sesungguhnya Abu Murroh budaknya Ummu Haani’ Bintu Abu Thalib mengabarkan kepadanya bahwasanya dia mendengar Ummu Haani’ berkata aku telah pergi keRasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam ‘Aamul Fath (tahun pertolongan/kemenangan) maka aku mendapatkan beliau sedang mandi dan Fathimah anaknya  menutupinya maka aku salam kepada beliau dan beliau berkata siapakah ini? maka aku berkata Ummu Haani’ binti Abi Thalib maka beliau berkata selamat atas kedatangan Ummu Haani’ maka ketika beliau selesai dari mandinya, beliau berdiri dan shalat 8 raka’at dengan berpakaian satu pakaian maka aku berkata wahai Rasulullah anak ibuku Ali Bin Abi Thalib ingin membunuh seseorang laki-laki fulan Ibnu Hubairah yang mana dia telah aku jamin maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “ Kami telah menjamin siapa yg kamu jamin wahai Ummu Haani’ “, (ummu haani’ berkata dan kejadian itu adalah waktu dhuha/pagi) “ (HR. Bukhari, Muslim dan lainya)

Dan dalam sebuah hadist lainnya dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda : “ Barang siapa yang memasuki rumahnya abu sufyan maka dia aman “ (HR. Muslim, Abu Dawud dan lainya).

Dan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhu berkata Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi wasallam bersabda : “ Jaminan/keamanan seorang muslim adalah satu (kata –pent), walaupun yang memberi jaminan itu lebih rendah derajatnya “ (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud Thayalisi dan Abu Ya’la) Maksud dari hadits ini Syaikh ‘Athiyah Saalim berkata : “ Didalam keterangannya dibulughul maram sesunguhnya jika terjadi seorang mu’min memberikan jaminan untuk seorang kafir sesungguhnya orang kafir itu diberikan jaminan keamanan walaupun yg memberikan keamanan itu adalah orang yang derajatnya lebih rendah seperti wanita “ (zainab anaknya rasulallah shallallahu Alaihi wasallam) dan juga kisahnya ummu haani bersama Ali bin Abi Thalib haditsnya telah lewat maka bagi muslim yang lain memberikan jaminan juga untuknya karena jaminan muslim itu sama satu lainya dan juga budak, umar bin khatab radiyallahu anhu ketika menjadi kholifah memberikan jaminan kepada orang yg dijamin oleh seorang budak”. Sekarang bagaimana dengan para pengebom itu??

5. Didalamnya terdapat, merusak harta kaum muslimin dan melanggar hak-hak kaum muslimin (harta, darah, kehormatan)

Seperti didalam hadits Abu Bakrah, Jabir dan lainya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya darah kalian,harta kalian dan kehormatan kalian haram terhadap kalian dihari kalian ini (hari naher/hari penyembelihan,10dzul hijjah -pent) dinegeri kalian ini (mekkah-pent) dan dibulan kalian ini (dzul hijjah -pent) ” (HR. Bukhari, Nasa’i, Ahmad dan lainya)

6. Membuat keonaran dan kerusakan dimuka bumi ini

Padahal Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون(55:النور)

Artinya: “ Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dibumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa,dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi Nya untuk mereka,dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka tetap beribadah kepada Ku dengan tiada mempersekutukan Ku dengan sesuatu apapun,dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah janji itu,maka mereka itulah orang-orang yg fasik “ (Qs. An-Nur : 55 )

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (33:المائدة)

Artinya : ” Sesungguhnya pembalasan  terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya, dan yang membuat kerusakan dimuka bumi,hanyalah mereka dibunuh atau disalib,atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik,atau dibuang dari negeri( tempat kediaman )yg demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka didunia dan baginya diakhirat adzab yang pedih” ( Qs. Al-Ma’idah : 33 ).

Kenapa diayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan perbuatan merusak dibumi sebagai perbuatan yang memerangi Allah dan Rasulnya? karena perbuatan itu adalah memerangi keamanan/membuat keonaran,yang mana keamanan itu adalah tujuan/maksud Allah dan Rasulnya didalam menurunkan syari’ah ini, dan yang memerangi keamanan/sesuatu yang aman, adalah memerangi Allah dan Rasulnya, keamanan manusia adalah dari aman harta,darah dan kehormatanya seperti dihadits Abu Bakrah yang telah lewat.

Dan dari Khabab Bin Art Radhiallahu ‘Anhu berkata kita mengadu kepada Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau menjadikan pakaiannya gumpalan berbentuk seperti bantal dinaungan ka’bah maka kami berkata apakah kamu tidak meminta pertolongan.kepada Allah untuk kami? apakah kamu tdk berdoa untuk kami? maka beliau bersabda : “Sungguh orang-orang yang mendahului kalian dibawa dan digalilah tanah untuknya dan dikuburlah ia dan didatangkan gergaji kepadanya dan dibelah kepalanya menjadi dua bagian dan disisirkan dengan sisir yang terbuat dari besi dan ditusukan diantara daging-daging dan tulang-tulangnya dan tidaklah yang demikian itu menghalanginya dari agamanya dan demi Allah sungguh Allah akan menyempurnakan agama ini sampai seorang musafir bepergian dari san’aa (ibukota yaman-pent) kehadramaudh tidak merasa takut kecuali kepada Allah dan takut akan ancaman rubah terhadap kambingnya tetapi kalian tergesa-gesa meminta pertolongan “ ( HR. Bukhori dishohihnya ) hadits ini menandakan tentang adanya keamanan dari permusuhan antara bagian dgn lainya

7. Menakut-nakuti orang mu’min,menyakiti mereka dan memberikan peluang orang-orang yang fasiq untuk memperolok-olok orang-orang yang beriman.

padahal Allah Subhanahu Wata’ala berfirman didalam Al Qur’an

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (الأحزاب:58)

Artinya : “ Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat,maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yg nyata ( Al-Ahzab  : 58 )

Dan juga Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda didalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata : Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam naik keatas mimbar dan beliau berseru dengan suara yang lantang maka beliau bersabda : “ Wahai golongan orang-orang yang selamat dengan lidahnya dan belum masuknya iman itu kehatinya janganlah kalian menyakiti orang-orang muslim (berserah diri-pent) dan jangan pula mencari-cari kesalahan/aib mereka, maka sesungguhnya barang siapa yg mencari-cari kesalahan/aib orang-orang muslim maka Allah Subhanahu Wata’ala akan mencari-cari kesalahan/aibnya dan barang siapa yang telah Allah Subhanahu Wata’ala cari kesalahan/aibnya maka Allah Subhanahu Wata’ala akan membuka aibnya walaupun berada dikediamannya”  (HR tirmidzi dan ibnu hibban dishohihnya)

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda sesungguhnya Allah Subhanallahu Wata’ala bersabda : “barangsiapa yang memusuhi waliku maka sungguh  telah Aku syiarkan baginya peperangan,dan  tidaklah seorang hambaKu mendekatkan dirinya kepadaku dengan sesuatu yg lebih Aku cintai dari apa-apa yg telah Aku wajibkan kepadanya dan senantiasa hambaKU mendekatkan diri kepadaKu dengan perkara-perkara yang sunnah sampai Aku mencintainya,maka jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaranya yang mana dia mendengar denganya dan pandangannya yang mana dia memandang dengannya dan tanganya yang mana dia memukul dengannya dan kakinya yg mana dia berjalan dengannya ( berkata Imam Al-Manawi di Faidh Al-Qodier,maksud dari hadits ini adalah: “ orang ini Allah Subhanahu Wata’ala menjadikannya mempunyai kekuasan cintanya yang sangat sehingga dia tidak melihat,mendengar dan berbuat sesuatu kecuali apa-apa yang dicintai oleh Allah) dan jika dia meminta kepadaKu sungguh Aku akan memberikanya dan jika dia meminta perlindungan kepadaKU sungguh Aku akan melindunginya (HR Bukhari ) lihatlah apa yang mereka lakukan dengan tanpa ilmunya atau syahwatnya sehingga membuat permusuhan dengan Allah Subhanahu Wata’ala naudzu billah min dzalik.

Setelah penjelasan ini, dengan akal dan agama yang manakah mereka menganggap  pengeboman itu sebagai jihad…!!!!,semoga para pengebom itu sadar akan  penyimpangan mereka dari ajaran agama yang lurus ini,dan kembali kepada kitab dan sunnah dengan pemahaman salaf ummat ini bukan dengan pemahaman individu masing-masing kita,siapakah kita kalau dibandingkan dengan ulama – ulama yang terdahulu, ibadahnya, zuhudnya, wara’nya dan lainnya, mereka mengambil ilmu dan dididik diantara para imam, maka diwajibkan untuk kita bersyukur dengan adanya mereka yang menjaga agama ini dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ ( النمل : 40)

Artinya : “Dan barangsiapa yang besyukur sesungguhnya dia bersyukur untuk ( kebaikan )dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar , maka sesunguhnya Rabbku maha kaya lagi maha mulia “ ( Qs. An-Naml : 40)

Dan dihadits Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu dari Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Tidaklah bersyukur kepada Allah seseorang yang tidak bersyukur kepada manusia” ( HR Abu dawud,Tirmidzi dan baihaqi dan dishohihkan oleh Syaikh Albani )

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.